I'M FINE

I'M FINE
Awal


__ADS_3

***


***


Seorang gadis menatap getir di balik jendela rumahnya. Senyuman tipis menghiasi wajah cantik gadis itu. Berbanding terbalik dengan hatinya yang kini merasakan sakit yang amat sangat ia rasakan. Matanya memanas tatkala mengingat kejadian tadi pagi.


Diluar, seorang lelaki dewasa baru saja keluar rumah dengan wajah muram. Tangannya mengepal  kuat memegang kunci mobil. Berjalan cepat menghampiri mobil mewah lalu membuka pintu kemudi dan memasukinya. Tak lupa menutup pintu mobil dengan kasar.


'Dia marah' itu bukan pertanyaan, tapi kenyataan. Mata gadis itu memejam melihat mobil yang di masuki lelaki jauh meninggalkan pekarangan rumah. Tanpa terasa air mata mengalir deras di kedua pipinya.


Sakit.


Gadis itu bernama Anna Laila. Seorang gadis berumur 23 tahun harus menanggung beban sejak 3 tahun yang lalu. Kehidupannya baik-baik saja namun suatu ketika Anna dan keluarga mengalami kecelakaan beruntun. Semua anggota keluarga meninggal di tempat kecuali dirinya. Anna mengalami luka yang sangat parah termasuk kakinya yang lumpuh akibat kecelakaan itu. Jangan ditanya betapa hancurnya Anna waktu itu.


Tangannya meraba dadanya meremas kuat baju yang di pakai. Dadanya terasa sesak seperti ada sesuatu yang menghantam kuat. Sakit. Tangannya memegang pinggiran kursi roda dengan kuat. Dia lumpuh. Mungkin itu sebab nya banyak yang tidak menyukainya,termasuk sang suami. Dan lelaki tadi adalah suaminya.


Dia, Dava Mahendra. Lelaki tampan yang berprofesi sebagai direktur di sebuah perusahaan. Lelaki yang tampak baik hati di luar namun buruk di dalam. Walau jarang tersenyum tapi wajahnya seperti orang baik. Tapi jangan terkecoh dengan wajah baik dan tampan itu.


Seminggu yang lalu mereka berdua menikah. Menikah dalam perjodohan. Karena wasiat keluarganya yang mempunyai perjanjian dengan keluarga Dava. Dan apa yang di katakan suaminya ketika malam pertama.


'Sebenarnya aku tidak sudi menikah dengan kamu gadis cacat. Jangan harap. Kamu tahu kenapa aku sudi menikah dengan gadis cacat sepertimu. Itu karena Elina kekasihku memaksa aku menikah dengan kamu'


'Asal kamu tahu aku sudah punya kekasih, yaitu Elena. Gadis yang lebih baik darimu dan tidak cacat sepertimu. Dengar kata-kata ku Anna. Sampai kapanpun aku tidak akan sudi menganggapmu istriku'


Saat itu Anna tidak menyangka dengan ucapan sang suami. Dan ketika itu juga Anna percaya bahwa suaminya sangat membencinya. Dan kenyataan bahwa suaminya memiliki kekasih yang dicintainya, hati Anna hancur malam itu juga.


***


"Mas Dava sebentar lagi pasti pulang." batin Anna.


Seperti biasa Anna duduk di kursi rodanya di depan jendela. Karena ia bisa leluasa melihat ke luar. Menunggu Dava pulang dari kantor adalah kebiasaan Anna sejak menikah. Walaupun dia sama sekali tidak di anggap lelaki itu.

__ADS_1


Matanya melirik jam dinding. Sudah pukul 10 dan suaminya belum pulang juga. Tapi Anna tidak menyerah dia akan tetap menunggu kepulangan Dafa. Tangannya meremas rok kuat, cemas kenapa suaminya belum pulang juga.


Senyum Anna mengembang ketika melihat mobil Dava memasuki rumah. Ternyata Dava pulang walau malam. Mungkin dia sudah lembur. Anna ingin menghampiri dan menyambut kepulangan Dava, tetapi terhenti seketika melihat seorang perempuan turun dari mobil Dava.


Dan Dava menggenggam tangan perempuan itu erat dengan senyuman manis menghiasi wajahnya. Anna tahu dia. Dia Elena, kekasih Dava. Walau ini bukan pertama kalinya Dava membawa Elena ke rumah, tapi tetap saja dia merasa sakit sekaligus cemburu.


Menarik nafas panjang lalu mengeluarkan nya perlahan. Menghalau rasa sesak dan air mata yang akan keluar. Anna berusaha tersenyum ketika Dava masuk ke dalam rumah.


"Mas sudah pulang."


Dava melirik sinis Anna. Merasa kesal dengan gadis itu. Elena pun menatap Anna dengan mencela terlihat jelas di wajah Elena.


"Kamu tidak punya pertanyaan yang lain Anna. Kupingku muak dengarnya."


Seketika wajah Anna berubah pias mendengar nada sinis dari Dava. "Em.. Kamu sudah makan mas, aku menyiapkan makan malam untuk kamu."


"Cih, kamu lupa? Aku tidak sudi memakan masakan kamu Anna. Melihat kamu di rumah ini saja aku sangat muak, apalagi memakan masakan kamu. Aku tidak sudi."


"Hei, cacat. Jangan so' ya lo, disini lo bukan siapa-siapa. So, jangan ikut campur kehidupan kekasih ku. Udah cacat gak tahu diri lagi." sinis Elena menatap hina Anna.


"Sudah lah sayang jangan buat aku mual disini. Ayo kita ke atas aku tidak sabar malam ini." lanjut Elena lagi dengan sensual. Tangannya meraba dada Dava yang masih di balut kemeja.


Dava tersenyum manis lalu menatap sinis Anna yang hanya diam. "Kamu, jangan ganggu!" lalu berlalu meninggalkan Anna ke lantai atas.


Air mata mengalir deras tanpa permisi di pipi Anna. Selalu begini. Setiap malam ketika pulang kerja Dava membawa Elena ke rumah dan masuk ke dalam kamar Dava. Ana tidak mau membayangkan apa yang sedang di lakukan kedua orang itu. Dan Anna tidak mau membayangkannya.


Malam ini Anna menangis lagi untuk kesekian kalinya. Tangannya mendorong kursi roda ke sebuah kamar di lantai bawah. Kenapa kamar Anna di lantai bawah, tentu saja karena Anna lumpuh tidak bisa menggunakan kursi roda di tangga.


Walaupun bisa saja Dava menggendong Anna ke lantai atas. Tapi itu sangat mustahil mengingat Dava sangat membencinya.


Tangannya membuka knop pintu lalu masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar Anna kembali. Rasanya tidak sanggup kedua tangannya mendorong kursi roda. Tubuhnya lemas seperti jelly. Air matanya sudah tumpah ruah membasahi wajahnya.

__ADS_1


Malam ini Anna menangis semalaman. Mengeluarkan sakit dan sesak di hatinya dengan air mata. Dan Anna lagi-lagi sendiri.


"Bu, Anna gak kuat."


***


Pagi-pagi sekali Anna bangun. Kantung matanya  bengkak seperti panda karena menangis semalaman. Karena tidak bisa menutup mata Anna berinisiatif membuat sarapan untuk Dava. Walaupun Dava membencinya tapi Anna sebagai istri berkewajiban melayani suami. Salah satunya membuat makanan.


Anna membuat sandwich sehat dan juga susu putih sebagai minumannya. Tak lupa salad buah yang kebetulan kesukaan Dava. Anna berharap suaminya itu menyukai masakannya.


"Kamu sedang apa Anna."


Suara itu mengejutkan Anna yang sedang membuat sandwich berisikan buah untuk dia makan. Kepalanya menoleh dan melihat suami beserta kekasihnya menatap Anna sinis.


"Mas sudah bangun. Aku buatin sarapan kesukaan mas."


Dava melirik sarapan itu dan benar sandwich dan salad buah tersaji di meja makan. "Aku tidak sudi makan masakanmu."


"Itu pasti tidak bersih sayang. Yang buatnya aja cacat apalagi masakannya, pasti tidak enak." sinis Elena.


"Kita makan di luar saja sayang."


"Of Course, beib. Apa sih yang gak buat kamu." balas Dava mengecup kilat bibir Elena. Lalu melenggang pergi meninggalkan Anna.


Anna memejamkan matanya erat. Pemandangan yang sangat menyakitkan itu sudah tidak asing lagi. Tapi rasa sesak di dada Anna sangat asing bagi Anna. Walaupun sudah terbiasa tetap sangat menyakitkan.


Mendorong kursi rodanya di depan meja makan. Anna menatap sedih makanan yang sudah dibuatnya dengan susah payah. Lalu menghela nafas dan mulai memakan sandwich itu oleh Anna seorang.


***


***

__ADS_1


__ADS_2