I'M FINE

I'M FINE
Chapter - 8


__ADS_3

dipertengahan jalan,


"Butler Yang, apa aku boleh bertanya?" tanya Taki.


"Tentu saja,"


"apa yang terjadi pada keluarga Matsuda sebenarnya?"


"tuan muda Yoshida, perlahan anda akan mengetahui." jawab Butler Yang.


"Tuan muda Yoshida jika kau bisa membantu kami menjadi teman Nona Muda, maka kami sangat berterimakasih." ucap Butler Yang.


Taki sedikit terkehut mendengar kalimat yang diucapkan Butler Yang tersebut.


"aku tidak mengerti," jujur Taki.


"Tuan, Nona Muda tidak ingin membaur pada anak seusianya. Kami telah membawanya pada psikolog, namun 65% yang berhasilkan membuat dirinya mau muncul dihadapan orang lain, namun tidak membaur pada temannya itulah yang saat ini kami belum bisa." jelas Butler Yang.


"Tuan, jika anda bingung, intinya adalah anda harus berusaha menjadi teman Nona muda. Namun anda juga harus memaklumi sikap dinginnya nona muda." jelas Butler Yang.


"baiklah," balas Taki.


Dua mobil hitam tersebut mulai memasuki area kediaman Matsuda. Besar dan megah layaknya sebuah istana yang moderen. Taki terkejut juga merasa senang pertama kalinya ia datang ke kediaman Matsuda.


Dua mobil tersebut tepat berhenti pada pintu utama. Butler Yang keluar yang disusul oleh Taki. Butler Yang menuntun Taki untuk duduk di ruang tengah. Sambil menunggu Butler Yang, Taki melihat sekeliling bagian rumah tersebut.


Beberapa foto terpajang disana, ada juga foto Mei saat berusia sekitar tujuh tahun bersama Makoto dan seorang pria seperti Makoto. Taki mendekati foto tersebut.


"Tuan muda Yoshida." panggil Butler Yang.


Taki terkejut mendengar panggilan tersebut sembari tersenyum ramah, Butler Yang mendekat pada Taki.


"siapa dia?" tanya Taki menujuk pria tersebut.

__ADS_1


"Tuan Momoru, beliau adalah saudara kembar dari Tuan Makoto, hanya saja rambutnya yang berbeda warna." jelas Butler Yang.


"dimana dia sekarang?" tanya Taki.


"Tuan Momoru, kami kehilangan sejak dia sejak dua tahun terakhir. Dan kami menganggap beliau sudah meninggal." jelas Butler Yang.


Setelah itu Butler yang kembali pergi menuju Mei. Butler Yang mengetuk pintu dan masuk ke kamar Mei. Terlihat Mei memakai dress berwarna putih sembari menatap jendela melihat luar.


"Nona muda, Tuan muda Yoshida ingin menemui anda."


"Saya ingin sendiri." jawab Mei dingin.


"Nona, tapi dia sudah berusaha membawakan apel merah kesukaan anda."


Tanpa sepata kata apapun, Mei keluar dari kamarnya yang disusul oleh Butler Yang. Mei menuju ruang tengan, benar saja Taki sedang duduk di sofa. Taki menatap Mei dengan kagumnya, gadis tersebut sangatlah cantik seperti malaikat yang turun ke bumi.


Jantung Taki berdetak cepat melihat Mei,


"anda sudah liat saya, silahka pulang." ucap Mei datar sembari membalikan badanya.


Mei tidak merespon sedikitpun ucapan Taki. Langkahnya mulai maju satu namun terhentikan karena...


"Tunggu, ini buku bahasa inggrismu dari Edward." ucap Taki menyondorkan buku bahasa milik Mei. Mei mebalikan tubuhnya kembali menghadap Taki, mengambil bukunya dan kembali kekamarnya tanpa sepatah katapun.


Taki memaklumi sikap Mei, karena ia mengingat kata-kata Butler Yang " Namun anda juga harus memaklumi sikap dinginnya nona muda". Juga Taki mendapat sebagian informasi mengenai keluarga Matsuda.


"Tuan muda Yoshida, biar saya antar anda pulang." ucap Bulter Yang.


"ya,"


Dua orang tersebut berjalan bersamaan menuju keluar, kemudian memasuki mobil hitam. Hanya ada Taki dan Butler Yang di dalam. Butler Yang segera melajukan mobil tersebut menuju rumah Yoshida.


"Tuan, saya akan membantu anda." ucap Butler Yang.

__ADS_1


"Tapi kenapa memilih aku?"


"Karena kami tahu, keluarga Yoshida adalah keluarga yang terkenal dengan kebaikan hatinya."


"benarkah?" batin Taki meremehkan dirinya sendiri, Taki mengetahui bahwa dirinya adalah pria yang keras kepala, 'aneh' jika dirinya dibilang baik hati.


Waktu begitu cepat, mereka sudah tiba dipintu utama keluarga Yoshida.


"Butler Yang, Trimakasih." ucap Taki.


"tidak perlu berterimakasih, ini sudah menjadi hal yang wajar. saya pamit dahulu." Butler Yang meninggalkan rumah tersebut.


Taki dengan santainya menuju kamarnya, di dalam sini hanya ada Taki dan beberapa para pegawai rumah. Tuan dan Nona Yoshida sedang pergi ke Amerika mengurus masalah bisnis.


Taki mengganti pakaiannya menjadi pakaian santai. Ia memilih untuk duduk sejenak disofa ruang tengah sembari bermain ponsel.


"Tuan muda, makanan anda sudah siap." ucap seorang pelayan.


Taki memasukan ponselnya kedalam saku celananya, berdiri melangkah menuju ruang makan. Taki duduk disalah satu kursi. Ia menyantap lahap makanan tersebut.


****


Keesokan harinya, Mei nampak tenang duduk bangkunya sembari menaruh kepalanya dimeja dengan menghadap ke jendela. Di kelas tersebut tidak ramai walaupun hanya ada beberapa siswa dan siswi , mereka tahu jika Mei tidak menyukai keramaian.


Segerombolan murid yang terdapat dua siswa dan dua siswi sedang mengumpul didepan pojok kanan.


"apa kau yakin jika gadis tersebut akan datang ke acara sekolah besok?" tanya seorang siswi berambut hitam lekat sembari.


"aku tidak yakin," jawab seorang siswi berambut coklat.


"Mei tidak menyukai keramaian, mungkin ia tidak akan datang." ucap seorang siswa berambut coklat.


"aku juga tidak yakin," ucap siswa berambut hitam.

__ADS_1


****


__ADS_2