I'M FINE

I'M FINE
Chapter - 13


__ADS_3

Tingg!!


Kini pintu lift terbuka, Perasaan gelisah dan sedih yang bercampuran pada diri Makoto. Drtt!! Drtt!! sebuah pesan yang terkirim dari Bulter Yang. Makotos segera menagmbil ponselnya dari sakunya dan membuka layar.


Dari: Bulter Yang


Tuan, Bulter Shi ingin menemui anda di ruang kerja anda, Tuan saya juga sudah menyiapkan pesawat dan barang-barang anda.


Untuk: Bulter Yang


Aku akan segera kesana.


Dari: Bulter Yang


Baik Tuan.


****


keesokan harinya, Taki dengan penampilannya yang tampan berjalan di koridor kelas bersama dengan Daisuke.


"Aku sangat takut dengan ujian akhir semeter," ucap Daisuke.


"Mengapa harus kau takuti, lagian kita hanya menulis dan berpikir," balas santaj Taki.


"apa kau tidak takut jika tidak lolos?"


"tidak, karena aku akan lolos." jabaw Taki dengan tersenyum.


Dua manusia tersebut akan mulai pada ruang kelasnya, namun Taki menyuruh Daisuke untuj meninggalkannya saja dan ia akan menyusul. Taki sekali lagi menengok jam, ia segera menuju taman, tempat yang begitu sunyi dan segar.


Benar saja, seorang gadis yang memiliki rambut sebahu itu duduk pada salah satu bangku taman. Siapa lagi jika bukan Mei yang menyukai kesunyian. Mei terlihat sedang memejamkan matanya. Taki mulai mendekati gadis tersebut dan mengambil duduk di sebelah Mei.


"kau itu seperti hantu, lebih menyukai tempat yang sunyi." ucap Makoto.


"pergilah, saya tidak ingin di ganggu." ucap Mei sembari membuka matanya.


Taki menghela napas panjangnya, " Aku ingin mengetahui kenapa kau menyukai tempat yang sunyi?"

__ADS_1


Mei beranjak dari duduknya, "Ini bukan urusan anda," dan mulai menjauh dari Taki.


"Mei! semoga kau berhasil dengan ujianmu!" seru Taki.


****


Ruang kerja Makoto


Ruangan yang sunyi dengan gaya yanv sangat elegan. Di dalam sana hanya ada Makoto dan Bulter Shi. Bulter Shi duduk berhadapan dengan Makoto, membawa beberapa file.


"Tuan muda," ucap Bulter Shi menyerahkan file yang ia bawa. Makoto mengambil dan membacanya.


"apa anda yakin Bulter Shi?" tanya Makoto.


"Saya sudah menjadi bulter anda selama anda berada di luar negri, kini saya harus kembali ke Cina karena ada urusan keluarga." jelas Bulter Shi.


"Baiklah kalau itu keputusan anda,"


"Tuan saya pamit dulu," pamit Bulter Shi dan segera meninggalkan tempat tersebut. Bersamaan dengan Bulter Yang yang masul pada ruang kerja Makoto.


"aku ingin mendengar laporanmu tentang Mei saat aku pergi satu tahun keluar negri,"


Makoto menghela napasnya, "Tidak, terakhir kali aku sudah mendatngkan psikiater terhebat di negara ini, dia mengatakan bahwa Mei tidak bisa sanggup lagi kehilangan orang yang ia sayangi, sangat beresiko jika ia akan pulih total jika gagal maka..."


"apa yang akan terjadi Tuan?"


"ia akan mengidap gangguan mental."


****


Suasana setiap ruang kelas sangat sunyi, hanya terdengar suara goresan pena. Lima belas menit telah berlalu untuk mengerjakan soal ujian sekolah. Mei bangkit berdiri dan mulai menyerahkan lembar jawabannya pada pengawas. Tidak heran dan terkejut jika teman sekelas melihat Mei seperti itu, namun tingkahnya membuat para juri mengerutkan dahi. Pasalnya soal yang dikenal sangat sulit dapat ditaklukan Mei dengan cepat.


"Nona Matsuda, apa kau yakin dengan jawaban anda?" tanya salah satu sang pengawas.


"apa anda meragukan saya?" gini bergantian dengan Mei yang bertanya.


"hmm tidak," jawab pengawas tersebut.

__ADS_1


segera Mei keluar dari kelas tersebut. Mei bertepatan dengan Taki, mereka sama-sama dapat menaklukan soal tersebut dengan waktu 15 menit.


"tuan Yoshida, apa anda yakin?" tanya sang pengawas.


"aku sangat yakin, anda tidak bisa meragukan saya guru." jawab Taki.


"baiklah."


Mereka berdua saling berpandang setelah keluar dari kelas, karena kelas mereka yang berdekatan. Mei hanya menatap tajam dan dingin pada Taki. Bagi siswa maupun siswi yang sudah selesai diperbolehkan pulang. Mei segera melangkah melewati Taki. Taki hanya terdiam melihat Mei melintasinya, hanya dengan jarak beberapa langkah Taki mengikuti Mei. Hingga mereka tiba pada gerbang sekolah.


"apa kau yakin dengan jawabanmu Nona Matsuda?" tanya Taki dengan tak yakin.


"dan bagaimana dengan anda sendiri?" balas tanya Mei.


"aku sangat yakin, karena aku sangat ahli dalam bidang matematika, sains, sejarah, dan bahasa."


Mei hanya terdiam dan tidal membalas Taki lagi, "apa anda terkejut Mei, aku sudah memiliki beragam piala dan sertifikat." sombong Taki.


"kenapa anda mengikuti saya?" tanya Mei. Taki segera melihat sekitarnya, yang berada pada gedung apartement. Taki tersenyum sembari mengatakan "aku ingin berkunjung ke apartement bibiku." jawab Taki.


Mereka berdua sama-sama menaiki lift, Mei menekan tombol angka empat sedangkan Taki menekan tombol angka lima. Keheningan menyelimuti mereka.


"kenapa kau tidak tinggal di kediaman Matsuda?" tanya Taki.


"bukan urusan anda," jawab Mei cepat.


"hati-hati, jangan melamun," ucap Taki.


tingg!!


Akhirnya pintu lift terbuka Mei keluar dari lift tersebut tanpa meninggalkan sepatah kata lagi pada Makoto, dan pintu terbuka lagi Taki segera menuju pada bibinya, Yumi.


Taki segera duduk pada sofa empuk di aprtementn Yumi.


"Bibi tidak ada kegiatan?" tanya Taki.


"akh mengambil cuti tiga hari untuk beristirahat, karena jadwal minggu lalu sangat padat." Jelas Yumi.

__ADS_1


"kenapa bibi tidak membeli apartement pada lantai empat? padahal tempat tersebut sangat cocok melihat pemandangan kota Tokyo."


__ADS_2