I'M FINE

I'M FINE
Chapter - 17


__ADS_3

Hari-hari setelah kejadian saat itu, Mei terlihat baik-baik saja, seperti tidak pernah mengalami hal itu. Begitu juga Taki yang selalu mengganggu Mei, membuat Mei menganggap Taki hanya angin yang berlalu saja. kini hari yang dinantikan para murid-murid with heart tokyo high school, hari pembagian hasil ujian. segerumunan siswa-siswi mengerumuni sebuah papan yang mencantumkan peringkat tiap angkatan junior maupun senior.


peringkat angkatan


1.Matsuda Mei


2.Yoshida Taki


3.Watanabe Keiko


.


.


.


Segerumunan geng Keiko berkumpul di ujung kelas mereka,


"kau terkalahkan dengan murid baru itu?" tanya Aya,


"tidak apa-apa, aku tidak membencinya, aku justru menyukainya." jawab Keiko.


"apa kau menyukai dia, aku yakin kau tidak akan mendapatkannya," ucap zura.


"aku harus mendapatkan apa yang aku mau!"


Tidak heran jika Keiko berbuat seenaknya di sekolah, karena ayahnya sangat menyayangi putrinya dan memegang rahasia kepala sekolah. Maka dari itu jika ia berbuat onar sekolah tidak akan memberinya hukuman hanya memberi ceramah.


Berbeda dengan Mei, Mei memang diperlakukan istimewa di sekolah itu, toh tujuan Mei bersekolah bukan menambah ilmu, melainkan untuk menyembuhkan penyakit autisnya. Mei mempunyai IQ yang tidak biasa, ia dapat menyelesaikan soal dengan cepat dan mudah. Bahkan beberapa para senior meminta Mei menjadi guru privat mereka.


Makoto berperan penting disekolah itu, ia kerap mendonasi uang sejumlah miliaran. Betapa terhormatnya ia, sekolah tersebut juga terkenal akibat Mei berada disitu. Jadi statusnya lebih tinggi di bandingkan Tuan Wanabe.


****


"hey! kau ingin pergi kemana?" tanya Daisuke.


"aku ingin mencari Mei,"


Jawaban Taki membuat Daisuke mengerutkan keningnya, sedari tadi Daisuke mengikuti Taki kemana ia melangkah mencari Mei.


"hey! apa kau...kau menyukai gadis itu?"


"entahlah,"

__ADS_1


"mengapa kau mencarinya?"


"hanya ingin mengatakan sesuatu,"


"Taki, mungkin kau menganggap remeh gadis itu, tapi kau harus berhati-hati jika mendekatinya,"


"aku tidak peduli, memang seberapa bahanya gadis itu?"


"Matsuda Mei, gadis yang tidak mudah di baca pikirannya,"


"itu tidak berbaya, aku akan berusaha menjadi temannya." ucap Taki dengan kedua sudut bibir terangkat.


Tanpa disadari mereka tiba di taman, Taki melihat ke area sekeliling taman tersebut juga dengan bantuan Daisuke. Namun tampaknya gadis itu tidak berada di sini. Juga keadaan taman yang cuku di penuhui beberapa siswa dan siswi.


"apa ada tempat yang sunyi?" tanya Taki.


"hanya perpustakaan dan laboratium." jawab Daisuke.


Tanpa basa-basi Taki dan Daisuke pergi ke tujuan pertama mereka, yaitu perpustakaan. Mereka mencari di sekeliling ruangan tersebut, mencari satu persatu di sela-sela rak buku.


"apa kau menemuinya?" tanya Taki.


"tidak," jawab Daisuke.


"apa kalian mencari seseorang?" tanya penjaga perpustakaan.


"Bu, apa kau melihat gadis berambut sebahu dengan mata biru?" tanya Taki.


"apa yang kalian maksud Matsuda Mei?"


"ya,"


"sekitar lima menit yang lalu dia kesini untuk mengembalikan buku kemudian ia keluar."


"trimakasih bu,"


Bersamaan Taki dan Daisuke menuju ketujuan kedua, yaitu laboratium. Mereka juga mencari ke arah sekeliling, namun hasilnya tetap nihil.


"apa kau yakin tidak ada tempat yang sunyi lagi?"


"apa gadis itu menyukai tempat yang sunyi?, seperti hantu saja."


"ya,"

__ADS_1


"hmm... aku tahu, rooftop! Mungkin ia berada disana"


Taki tidak membalas lagi ucapan Daisuke, dan Daisuke segera mengikuti Taki yang mendadak meninggalnya ke arah rooftop. Benar saja, gadis tersebut berada di situ, sendiri dan menikmati angin yang mulai berhembusan.


"Mei-chan!" panggil Taki.


seperti biasa tidak ada respon dari Mei, hanya terus memandang pemandangan kota dari atas situ.


"hey! Mei-chan." panggil sekali lagi Taki.


Daisuke menahan tawanya, melihat Taki yang di abaikan oleh gadis itu lebih tepatnya seperti dicampakan membuat geli dirinya.


"maaf, aku telah sombong padamu," ucap Taki lembut.


Daisuke di buat terkejut, seketika rasa gelinya terbawa oleh angin.


"apa kau mencontek Mei?" tanya Daisuke, yang tadi sempat melihat perolehan skor Mei yang tinggi.


"Tidak," jawab Mei.


Mei membalikan badannya menghadap pada Taki dan Daisuke. Ia menatap datar dan dingin dua pria tersebut. Mei melangkah meninggalkan kedua pria tersebut.


"Benar-Benar Mei yang lama telah lenyap." ucap Daisuke.


"apa maksudmu?"


"hey kawan, aku dulu saat smp satu sekolah dengannya." jawab Daisuke sembari menepuk bahu temannya tersebut.


"Awal kami memasuki SMP, kami mendapatkan murid baru. Saat itu Mei sangat ceria dan antusias. Ia selalu mendapat nilai terbaik di sekolah, tidak ada yang bisa menandinginya. seeringin berjalannya waktu, tiba-tiba ia berubah menjadi seperti yang kau ketahui sekarang."


"Daisuke, apa kau tahu Bulter Yang, yang bekerja di keluarga Matsuda?"


"ya,"


"sepertinya dia menyuruhku menjadi teman Mei."


"mustahil,"


"kelak kau akan percaya dan melihatku akrab bersamanya,"


"ayolah Taki, sadarlah. Mei memiliki trauma yang aneh. mungkin akan sulit untuk mu."


"kau ini saharusnya mendukung temanmu,"

__ADS_1


"terserah kau saja,"


****


__ADS_2