
"Semuanya sehat Tuan, Nyonya, semoga sehat sampai harinya ya, saya akan meresepkan vitamin untuk Nyonya Zoya" ucap Dokter menyudahi pemeriksaan hari itu.
Kandungan Zoya memang baik-baik saja, namun tak membuat wanita itu lebih tenang. Zoya sering mengalami kecemasan yang berlebihan dan kadang sampai terbawa mimpi. Hal itu tentu membuat Dewa ikut gusar, karena menurut Dokter gangguan kecemasan itu memang sering terjadi pada ibu hamil yang jelang melahirkan.
"Kamu udah cek semua barang yang mau kamu bawa?" tanya Dewa menatap koper-koper yang akan mereka bawa.
Hari ini adalah hari liburan sekolah Rayden tiba, sesuai janjinya, Dewa benar-benar mengajak keluarga kecilnya untuk liburan sekaligus mencari suasana baru untuk Zoya agar tidak terlalu paranoid.
Setelah berkonsultasi dengan Dokter, Zoya memang harus diajak untuk mencari hal-hal baru yang membuatnya sibuk atau paling tidak bisa mengalihkan pikiran-pikiran tentang ketakutannya yang akan melahirkan itu. Dan Dewa merasa momen ini sangat cocok untuk membuat Zoya lebih tenang.
"Enggak ada kayaknya, udah aku masukin barang-barangnya" sahut Zoya mengingat-ingat.
"Baiklah, kita berangkat sekarang kalau begitu. Rayden udah nungguin dari tadi," kata Dewa merangkul bahu istrinya dan mengajaknya keluar rumah dimana Ayah dan Rayden sudah menunggu.
"Tempatnya jauh ya?" tanya Zoya penasaran kemana Dewa akan membawanya pergi.
"Lumayan, tapi kita naik helikopter saja. Kalau naik kapal akan lebih lama sampainya," ucap Dewa.
Setelah memasukan semua barang-barang mereka kedalam mobil. Mereka semua langsung berangkat ke Pulau Bintan. Pulau dengan pesona alam yang indah itu menjadi tujuan Dewa. Selain itu tempatnya juga masih sangat asri dan pastinya sangat jauh dari hiruk pikuk kota Bandung.
Perjalanan dari kota Bandung ke Pulau Bintan memakan waktu sekitar 7 jam lebih. Karena takut Zoya akan kelelahan duduk, Dewa menyuruh istrinya itu untuk tiduran di dalam kamar khusus yang berada di Helikopter pribadinya.
"Rayden apa nggak apa-apa ditinggal sama Ayah?" tanya Zoya tak enak jika harus meninggalkan Rayden.
"Nggak apa-apa sayang, Rayden lagi seneng banget pelajarin hal-hal baru yang belum dia tau. Sekarang kamu tiduran sini, aku temenin" ujar Dewa menepuk-nepuk bantal untuk Zoya tidur.
Zoya menurut dan merebahkan tubuhnya disana, ia mencari posisi ternyaman untuk dirinya, yaitu posisi miring.
Dewa langsung memeluk istrinya dari belakang seraya mengelus lembut perutnya. "Kamu tau nggak waktu dulu Ibu hamil aku, katanya aku itu sering banget nendang kalau malam hari, tapi kalau siang jarang nendang, apa Rayden dulu juga seperti itu?" tanya Dewa.
"Rayden, juga gitu dulu. Aku sering nggak bisa tidur malem karena di aktif banget" kata Zoya tersenyum mengingat kehamilan pertamanya.
"Kalau anak kita sekarang, dia kayaknya jarang menendang, apa mungkin dia mirip sama kamu dulu?" tanya Dewa lagi.
__ADS_1
"Mungkin, aku kan nggak tau waktu dulu ibu hamil aku," kata Zoya seadanya.
"Semoga anak kita yang kedua ini mirip kamu sayang," kata Dewa.
"Katanya harus mirip kamu?"
"Ya awalnya mungkin aku pengen mirip aku semua anakku, tapi aku rasa, aku ingin melihat versi kecil dirimu. Apa dia sangat menyebalkan juga?" kata Dewa menggoda istrinya.
"Memangnya aku se menyebalkan itu ya?" kata Zoya tersenyum jika mengingat tingkah jahilnya.
"Jangan ditanya kalau itu, aku males banget kalau ketemu kamu, pasti ada aja ulahnya" kata Dewa dengan tawa kecilnya.
"Tapi sekarang kamu udah berubah, aku kangen Zoya yang dulu" sambung Dewa lagi, ia memang merindukan tingkah istrinya yang sangat menyebalkan itu.
"Dulu kan aku begitu cuma pengen dapat perhatian aja, sekarang aku sudah mendapatkan semuanya. Jadi untuk apalagi aku mencari perhatian?" kata Zoya tersenyum kecil, kalau di pikir-pikir sekarang dia sangat jarang bertingkah manja kepada Dewa, ia juga sudah tidak pernah minta hal yang aneh-aneh.
"Tapi aku seneng lo kalau kamu repotin, kamu pokoknya boleh minta apapun ke aku, aku akan kasih semuanya untuk kamu" kata Dewa mengerlingkan matanya.
"Gombal banget, kalau aku minta Samudra Atlantik di pindah kesini, apakah kau juga akan memberikannya?" kata Zoya merasa suaminya ini terlalu banyak menggombal.
"Pinter banget kalau disuruh gitu, semoga Rayden nanti nggak kayak Ayahnya" kata Zoya tersenyum seraya mencibir suaminya.
"Memangnya Ayahnya kenapa? Aku serius loh sama ucapan ku ini sayang," kata Dewa tak terima ucapannya di bilang gombal.
"Ah masa? Dulu berapa cewek tuh yang kena speak-an kamu," ucap Zoya.
"Enggak ada, aku cuma pernah gini sama kamu doang," kata Dewa seadanya.
"La terus kamu kalau sama mantan kamu ngapain aja? Nggak mungkin kan kalau cuma pegangan tangan aja?" tanya Zoya entah kenapa sangat penasaran dengan hal itu. Padahal ia tau kalau hal itu sangat sensitif untuk wanita.
"Ya kamu taulah, masa aku harus jelasin. Yang paling penting itu," Dewa mengentikan ucapannya sejenak.
"Yang paling penting apa?" tanya Zoya melirik suaminya.
__ADS_1
Dewa hanya tersenyum, ia membalikkan tubuh Zoya hingga telentang, ia lalu memerangkap tubuh istrinya dibawahnya.
"Kau mau apa?" tanya Zoya mendadak gugup.
"Aku hanya ingin memberitahumu kalau kau adalah satu-satunya wanita yang ada dihatiku, dan kau satu-satunya wanita yang pertama kalinya aku sentuh," bisik Dewa dengan tatapan matanya yang serius.
"Benarkah?" ucap Zoya terperangkap oleh sorot mata itu.
"Ya, kau yang pertama dan akan menjadi yang terakhir," ucap Dewa lagi.
"Aku percaya padamu" kata Zoya dengan senyum manisnya yang selalu membuat Dewa berdebar.
Dewa mendekatkan dirinya, bersiap mencium bibir istrinya tapi Zoya segera meletakkan tangannya hingga ciuman itu hanya mengenai telapak tangannya.
Dewa mengerutkan dahinya, kenapa Zoya menolak ciumannya?.
"Kenapa?" tanya Dewa.
"Jangan sekarang, nanti aja kalau udah sampek, aku juga ngantuk," kata Zoya tau jika dilanjutkan, akan jadi apa nantinya.
"Aku hanya ingin mencium mu," ujar Dewa masih dengan kerutan di dahinya.
"Yakin cuma ciuman aja?" ujar Zoya tak percaya rasanya.
"Ya kalau kamu kasih yang lain juga boleh," kata Dewa tersenyum genit.
"Sudah aku duga, sudah minggir ah, katanya mau aku istirahat, tapi kamu gangguin aku mulu" kata Zoya mendorong pelan tubuh suaminya.
"Iya iya, aku nggak akan ngapa-ngapain kok. Kamu istirahat aja, aku mau lihat Rayden dulu" ucap Dewa mencium pipi Zoya sebentar sebelum beranjak keluar dari kamar.
Zoya mengembangkan senyum manisnya, hidup begini saja sudah terasa indah.
Happy Reading.
__ADS_1
Tbc.