I'M FINE

I'M FINE
Hukuman Untuk Pengkhianat.


__ADS_3

Aldin berjalan masuk kedalam kediaman Anderson, wajahnya tampak masih begitu kesal karena memikirkan tentang siapa pria yang bersama Zoya. Sebenarnya Aldin belum ingin kembali ke Bandung, tapi karena ini perintah langsung dari Anderson, ia tidak bisa menolaknya.


"Selamat malam Paman" kata Aldin memberikan salamnya kepada Anderson yang duduk di ruang keluarga.


"Duduklah Al" kata Anderson dengan suaranya yang tak biasa.


Aldin mengerutkan dahinya, tapi ia mengangguk dan duduk ditempatnya. "Ada apa Paman memanggilku?" tanya Aldin to the point.


"Aku tidak ingin bertanya dua kali Al" kata Anderson menghela nafasnya.


"Maksud Paman?" kata Aldin bingung.


"Apa kau pernah membohongiku Al?" kata Anderson memandang Aldin sendu. Ia sudah menganggap Aldin seperti putranya sendiri, tapi jika apa yang dikatakan oleh Dewa benar, maka dia akan sangat kecewa dengan pria ini.


Aldin sedikit kaget saat Anderson menanyakan itu. Tapi ia terlihat tenang.


"Tidak Paman" kata Aldin tegas tanpa keraguan.


Anderson menghela nafasnya kembali, ia menganggukkan kepalanya singkat dan kembali memandang Aldin.


"Aku memanggilmu kemari karena ada hal yang ingin disampaikan oleh putraku. Kau bisa menemuinya di ruang kerjanya" kata Anderson lagi.


"Dewa sudah pulang?" tanya Aldin kaget. Ia pikir Dewa masih berada di Jakarta.


"Ya, dia sudah menunggumu"


*****


Dewa menggoyangkan gelas brandi di tangannya, ia menatap pantulan wajahnya dari gelas yang dipegangnya. Ia sudah tiba terlebih dulu di Bandung karena menggunakan helikopter pribadinya, dan kini dia sedang menunggu pengkhianat itu datang dan akan langsung menghukumnya dengan tangannya sendiri.


"Aldin sudah datang" kata Bayu melaporkan.


"Biarkan dia masuk" kata Dewa dingin, wajahnya tak tertebak dan sangat menyeramkan sekali.


Bayu sedikit bergidik saat melihat hal itu, ia kemudian membukakan pintu untuk Aldin yang langsung masuk. Aldin tampak sedikit bingung saat masuk kedalam, tapi dia tetap tenang.

__ADS_1


"Hai bro, kapan kau pulang?" kata Aldin mengulurkan tangannya untuk bergive five dengan Dewa tapi pria itu bergeming.


"Baru saja, kau sendiri kenapa baru datang?" kata Dewa memberikan tatapan tajam menusuk hingga membuat Aldin gugup.


"Aku, ya aku baru saja mengecek pembangunan proyek kita di kota Tanggerang, makanya aku lama" kata Aldin mendadak berkeringat dingin. Dewa ini memang sangat bisa mengintimidasi bahkan hanya dengan suaranya.


"Benarkah? lalu apakah kau mendapatkan laporan tentang Zoya?" kata Dewa bangkit dari duduknya lalu mendekati Aldin yang memasang wajah pias.


"Zoya? bukannya aku sudah mengatakan padamu kalau anak buah kita kesusahan untuk mencari informasinya" kata Aldin menghembuskan nafasnya untuk mengurangi kegugupannya.


"Hmm...belum dapat ya? Apakah menurutmu ini tidak aneh Al? Bagaimana mungkin tim pelacak kita yang sangat handal bisa kesusahan mencari satu wanita. Aku jadi berpikir, Zoya memang hilang atau sengaja di sembunyikan orang lain?" kata Dewa lagi.


Ia menatap Aldin dengan begitu geram dan sudah siap sekali untuk menghancurkan pria ini. Bahkan jika membunuhnya pun rasanya tak sebanding dengan apa yang dilakukan oleh Aldin.


"Apa yang kau katakan? bisa saja tim kita memang kesusahan mencarinya, lagipula kenapa kau terus mencari wanita yang sudah meninggalkanmu, bukankah kau sudah membencinya" kata Aldin.


Dewa tersenyum sinis, tiba-tiba tanpa di duga oleh Aldin, pria itu langsung mencekik leher Aldin dengan keras dan memaksa pria itu berdiri.


"Apa yang kau lakukan?" kata Aldin kesusahan bernafas karena cekikan ini.


"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti?" kata Aldin masih mengelak, ia mengusap bibirnya yang langsung sobek karena bo gem mentah dari Dewa.


"Berhentilah berpura-pura Aldin! Bagaimana bisa kau tega melakukan ini semua! Bukan hanya menyembunyikan Zoya kau juga menyembunyikan kebenaran tentang putraku! Aku tidak akan mengampunimu pengkhianat!" kata Dewa menarik kembali kerah baju Aldin lalu meng hantam kembali wajah pria itu.


"Aku bisa jelaskan...." kata Aldin mencoba menahan Dewa tapi pria itu seolah tuli.


Bagi Dewa sudah tidak ada lagi kata maaf untuk Aldin, dia terus menghajar Aldin sampai pria itu berdarah dimana-dimana.


"Bangun brengsek! Lawan aku" kata Dewa masih begitu marah. Nafasnya terengah-engah dan keringat tampak membasahi tubuhnya.


"Dimana nyalimu Ha? Kau sudah berani mengkhianati aku, sekarang lawan aku lagi" kata Dewa menarik kembali baju Aldin dan bersiap menghajarnya.


"Hentikan Dewa" kata Anderson masuk kedalam ruang kerja Dewa.


"Tidak! Pengkhianat ini pantas mati" kata Dewa hanya melirik Ayahnya sekilas lalu kembali menatap Aldin.

__ADS_1


"Maafkan aku.....Aku mencintainya..." kata Aldin justru menyulut emosi dalam diri Dewa.


"Ba ji ngan" teriak Dewa langsung mendorong tubuh Aldin hingga jatuh ke lantai lalu ia memukulinya tanpa ampun. Ia tak terima pria ini terang-terangan mengatakan mencintai wanitanya.


"Hentikan Dewangga Clark!" kata Anderson tegas.


Namun Dewa bergeming, dia terus memukuli Aldin hingga wajah pria itu berlumuran darah. Pria ini harus membayar sakit hatinya karena lima tahun membiarkannya hidup dalam kebodohan sedangkan pria ini berbahagia diatas kebodohannya dan yang lebih parah, Aldin juga ingin menggantikan posisinya bersama Zoya.


"Berhenti Dewa!"


Dewa langsung berhenti begitu mendengar suara wanita yang sangat familiar di telinganya. Apakah dia tidak salah dengar?. Dewa kemudian menoleh dan kaget saat melihat sosok Zoya berdiri di ambang pintu ruang kerjanya.


"Zoya?" kata Dewa bingung dan langsung bangkit dari tubuh Aldin.


"Kenapa kau ada disini?" kata Dewa memandang Ayahnya cukup kesal karena pria itu pasti yang membawa Zoya kemari. Zoya pasti sangat ketakutan karena baru saja melihat dirinya yang begitu mengerikan.


"Ayah memang mengundangnya, bicaralah dengannya, Ayah akan mengurus Aldin bersama Bayu" kata Anderson menepuk pelan pundak Dewa lalu menyuruh beberapa pengawal untuk membawa Aldin ke rumah sakit.


Dewa terdiam memandang Zoya yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Ia kemudian berjalan mendekati Zoya yang langsung mundur.


"Zoya..." kata Dewa sakit sekali saat melihat hal itu.


"Berhenti Dewa, jangan mendekatiku" kata Zoya benar-benar tak mengenali sosok di depannya ini.


"Zoya, aku Dewa mu..." kata Dewa terus maju meskipun Zoya mundur, ia segera meraih wanita itu ke pelukannya.


"Bukan! Kau bukan Dewa yang aku kenal! Kau penjahat" teriak Zoya memukuli dada Dewa dengan membabi buta.


"Aku memang jahat, kau pantas menghukum ku Zoya, pukuli saja aku, Aku siap menerima apapun yang kau lakukan... Aku memang pria brengsek yang tidak pantas di maafkan....Ayo pukul aku lagi...." kata Dewa mengambil tangan Zoya lalu memukulkannya ke pipi dan bagian tubuh lainnya.


Zoya yang mendengar itu awalnya benar-benar memukuli Dewa dengan keras, tapi perlahan pukulan itu melemah seiring air matanya yang kembali mengalir dengan sangat keras.


Happy Reading.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2