
"Jangan menangis Nona, anda tidak boleh stress, ingat kandungan anda" kata Dokter mengingatkan Zoya yang sejak tadi menangis.
Zoya hanya mengangguk seraya mengusap pelan air matanya. Setelah melakukan pemeriksaan kepada Zoya, Doker itu segera keluar ke ruangan lain yang hanya berbatas gorden.
"Bagaimana?" suara Davies terdengar dibalik gorden itu.
"Tuan, untungnya kondisi Nona tidak mengalami hal serius, kandungannya juga cukup kuat dan sekarang usianya sudah 8 minggu. Untuk kasus ini jarang bayi yang bertahan dalam kandungan ibunya, tapi ternyata bayi Nona baik-baik saja. Tapi untuk kedepannya tolong hal seperti ini jangan terulang lagi" kata Dokter itu menjelaskan.
Davies mendengar penjelasan dokter itu tampak begitu kaget, wajahnya tampak berubah. Ia melirik Bryan yang tak kalah kagetnya, ia belum menyentuh Zoya tapi wanita itu sudah hamil, anak itu pasti bukan anaknya.
"Dia hamil?" kata Bryan tak percaya.
"Ya, selamat ya Tuan, istri anda hamil" kata Dokter mengulas senyumnya.
"Paman, apa ini? kenapa Zoya bisa hamil?" kata Bryan menatap Davies dengan kesal merasa tertipu karena ia berpikir kalau Zoya masih gadis.
"Gugurkan anak itu" kata Davies juga emosi karena tau jika Zoya pasti hamil anak pria miskin itu.
Ucapannya itu membuat Bryan dan Dokter terkejut.
"Maaf Tuan, maksud anda?" kata Dokter itu merasa mungkin salah mendengar.
"Aku ingin anak itu digugurkan" kata Davies menatap Dokter itu tajam.
"Maaf Tuan, kami tidak bisa melakukannya, kami sudah disumpah untuk menyelamatkan orang bukan untuk melenyapkan kehidupan bahkan dari awal proses pembuahan" kata Dokter itu tak percaya ada orang yang ingin membunuh bayi yang tak berdosa.
"Tapi aku tidak menginginkan anak itu! Aku mau kau mengugurkan anak itu, berapa yang kau butuhkan?" kata Davies kesal. Suaranya menggema di ruangan itu.
__ADS_1
Bryan hanya diam saja menyaksikan apa yang dilakukan Davies. Tapi ia juga mendukung jika bayi itu dihilangkan, baginya tak masalah jika Zoya pernah hamil, yang penting wanita itu tetap menjadi istrinya.
"Tetap tidak bisa Tuan, saya tidak tau apa masalah anda, tapi saya tegaskan pada anda kalau kami tidak akan pernah melenyapkan makhluk yang sudah mempunyai nyawa" kata Dokter itu sangat tegas.
Davies mengertakkan giginya, tangannya tampak mengepal erat. "Kalau begitu, aku tidak mengizinkan kalian merawatnya disini, aku akan membawa putriku pulang. Pengawal! Bawa Nona Zoya pulang" kata Davies menyuruh anak buahnya untuk masuk kedalam ruangan Zoya.
Dokter dan para perawat yang menangani Zoya tampak mencoba menahan para pengawal Davies, tapi salah satu dari mereka kemudian mengeluarkan pis tol revolver pada Dokter itu membuat Dokter mengangkat tangannya dan menggeser tubuhnya untuk memberi jalan pada mereka karena takut jika mereka membuat keributan dan mencelakai orang lain.
Zoya yang mendengar percakapan itu merasa sangat miris, bagaimana bisa ia membesarkan anaknya jika ada Ayahnya disampingnya. Ayahnya dan juga Bryan pasti tak akan membiarkan anak ini lahir ke dunia. Lalu untuk apa dia harus hidup jika anaknya harus mati, ia juga tak akan bisa bersatu dengan pria yang dicintainya. Zoya sudah tidak ingin hidup lagi.
Para penjaga itu masuk mendatangi Zoya, ia ingin menyimpan pistol itu kembali ditempatnya, namun Zoya yang sudah gelap mata segera merampas pistol itu dari tangan penjaga yang lengah membuat Zoya dengan mudah mendapatkannya. Zoya segera menempelkan pistol itu ke pelipisnya dan bersiap untuk menarik pelatuknya.
Penjaga itu kaget dan menatap Zoya yang juga menatapnya dengan sorot mata yang sangat tajam membuat penjaga mundur perlahan-lahan karena takut jika Zoya berbuat nekat.
"Tuan!" teriak penjaga membuat Davies dan juga Bryan kaget saat melihat Zoya.
"Zoya! Apa yang kau lakukan!" bentak Davies begitu marah namun ia menahannya.
"Majulah selangkah lagi Ayah, aku pastikan kau akan melihat kepalaku meledak" kata Zoya dengan wajahnya yang serius dan air mata yang masih tersisa.
"Apa kau sudah gila! Hentikan ini semua Zoya!" kata Davies menghentikan langkahnya. Ia tak akan membiarkan Zoya bunuh diri.
"Ya aku memang sudah gila! Itu semua karena Ayah! Ayah pasti senang melihat aku mati! Dokter! Keluarlah, aku tidak ingin kalian melihat kematianku!" teriak Zoya menangis sangat keras dan sangat putus asa.
Para tenaga medis pun setuju untuk keluar dari ruangan itu, dan membiarkan mereka menyelesaikan urusannya, untung saja diruangan itu tidak ada pasien lain lagi.
"Apa maumu Zoya!" kata Davies mencoba mendekati Zoya lagi tapi Zoya kembali menekan pistol itu membuat Davies mengurungkan niatnya. Dia benar-benar tak ingin melihat Zoya mati dengan cara begini, bagaimanapun ia membencinya tapi Zoya adalah darah dagingnya sendiri.
__ADS_1
"Aku tidak menginginkan apapun! Aku hanya ingin mati!" kata Zoya histeris. Ia sudah kehilangan semuanya dan ia tak mau lagi hidup menderita dengan kehilangan anaknya juga. Mungkin kematian yang akan membuat dirinya bahagia.
"Kalau kau mati anakmu juga akan mati, apa yang kau pikirkan?" kata Davies mengingatkan Zoya.
"Kalau pun aku hidup anakku juga akan tetap mati kan? Lalu untuk apalagi hidup! Ayah akan membunuh anakku dan memisahkan aku dengan suamiku, karena itu lebih baik aku mati!!!" teriak Zoya langsung menarik pistol itu dengan cepat.
Duar!!!!!
Suara tembakan itu menggema didalam ruangan IGD. Davies lemas dan kaget dengan apa yang baru saja di dengar, seluruh tubuhnya gemetar, terbesit ketakutan disorot matanya. Tapi ternyata pistol hanya meledakkan suara tanpa peluru.
Zoya pun sudah gemetaran dan bersiap untuk menyambut kematiannya, tapi ia kaget saat tau jika peluru itu kosong.
"Apa pistol itu berisi?" tanya Davies sangat cemas.
"Ya itu bagian yang kosong, ada dua peluru didalamya, 3 kosong" kata Penjaga masih kaget dengan apa yang dilihat.
Zoya yang mendengar itu kembali menekan pistolnya. Davies memandang Zoya dalam, ternyata putrinya ini tidak main-main dan sudah siap mengakhiri hidupnya. Entah kenapa sekarang perasaanya menjadi takut jika Zoya akan mati. Yang satu ini masih beruntung Zoya tidak meninggal, tapi apakah akan ada keberuntungan lagi?
"Zoya, jangan lakukan itu, aku akan menuruti semua keinginanmu, kau boleh melahirkan anak itu" kata Davies mencoba membujuk Zoya untuk mengurungkan niatnya.
"Tidak! Ayah pasti akan membohongiku! Aku sudah tidak menginginkan apapun Ayah, biarkan aku mati bersama anakku" kata Zoya masih begitu histeris, ia kemudian menyunggingkan senyum manisnya diantara tangisnya.
Melihat senyuman Zoya itu membuat perasaan Davies tak enak, apalagi kini ia melihat Zoya sudah bersiap kembali menarik pelatuk pistolnya.
"Zoya!!!!"
Happy Reading.
__ADS_1
Tbc.