I'M FINE

I'M FINE
Makan Malam.


__ADS_3

"Kamu nggak marah?" tanya Dewa benar-benar takut jika istrinya ini marah.


"Marah untuk apa? Ada-ada aja kamu ini," sahut Zoya tertawa kecil.


"Aku pikir kamu marah," kata Dewa mengeratkan pelukannya.


"Memangnya kenapa aku harus marah? Kamu ada salah?" ujar Zoya lagi.


"Ya enggak, karena kamu nggak marah..." Dewa menggantung ucapannya, ia kemudian membalikkan tubuh istrinya.


"Mau apa?" tanya Zoya menatap mata suaminya.


"Kita masih punya waktu satu jam sebelum makan malam," bisik Dewa mengelus lembut punggung istrinya.


"Lalu?" ucap Zoya sepertinya paham keinginan suaminya.


Dewa hanya tersenyum kecil, tanpa berkata ia menyapukan bibirnya diatas bibir mungil istrinya. Perlahan ia membimbing istrinya untuk ke ranjang lalu merebahkan tubuhnya disana. Dewa sebisa mungkin tak menyakiti perut istrinya.


"Dewa, bagaimana kalau Rayden mencari kita?" ucap Zoya menahan dada suaminya saat pria itu akan melakukan hal lebih.


"Rayden sudah bersama Ayah," kata Dewa dengan nafasnya yang memburu, terlihat sekali sudah begitu bergairah.


"Tapi..."


"Aku hanya sebentar," Dewa menyela cepat sebelum Zoya mengeluarkan bantahannya.


Zoya belum sempat memprotes tapi Dewa sudah membungkam mulutnya dengan ciuman panas. Tangannya pun tanpa sadar me re mas pelan lengan Dewa saat pria itu melakukan penyatuan.


Beberapa saat kemudian, de sahan dan pekikan lolos dari mulut keduanya. Definisi dari sebentar sajanya Dewa sepertinya tidak berarti apapun, karena bukannya sebentar, Dewa mengulanginya berkali-kali sampai pria itu kelelahan sendiri.


Zoya saja sampai heran, kenapa suaminya bisa seperti ini, hanya jeda lima menit, Dewa akan kembali menyentuhnya dengan penuh pemujaan.


"Udah?" tanya Zoya melirik suaminya yang telungkup disampingnya.


Dewa membuka matanya yang terpejam, ia menarik tubuh istrinya agar masuk kedalam pelukannya.


"Maafkan aku, apakah aku menyakitimu?" tanya Dewa menatap istrinya penuh cinta, semenjak hamil tua ini, entah kenapa Dewa semakin sering menyentuh istrinya. Dewa merasa istrinya semakin mempesona dan sangat manis sekali.

__ADS_1


"Enggak, tapi mungkin anakmu yang bosan karena terus mendapat kiriman dari Ayahnya" ujar Zoya mencibir.


"Biarkan saja, biar dia tau kalau itu bukti cinta Ayahnya buat ibunya," kata Dewa terkikik geli.


"Ish bisa aja, aku mau mandi dulu kalau gitu, ini udah lama banget, Rayden pasti mencariku" kata Zoya melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 7 malam.


"Aku akan menemanimu," kata Dewa menendang selimutnya lalu bergerak cepat turun dari ranjangnya.


"Dewa!" seru Zoya kaget melihat tingkah bar-bar suaminya itu.


"Aku akan menggendongmu,"


"Jangan gila kamu! Aku besar banget loh ini, kamu nggak akan kuat" kata Zoya menolak.


"Tidak apa-apa. Kapan lagi aku gendong anak dan istri aku barengan kayak gini," kata Dewa dengan tatapannya yang mampu meluluhkan hati seluruh wanita.


Zoya tak membantah, ia mengalungkan tangannya dileher Dewa sebagai pegangan. Ia benar-benar takut suaminya ini akan menjatuhkannya. Tapi tentu saja tidak mungkin, Dewa benar-benar menggendong istrinya yang kini memiliki berat badan 70kg. Benar-benar luar biasa.


Kali ini Dewa tak melakukan apapun kepada istrinya, ia hanya membantu Zoya mandi lalu membantu wanita itu mengeringkan rambutnya. Zoya malah terheran-heran dengan sikap Dewa kali ini.


"Kenapa memangnya?" sahut Dewa menekuk wajahnya, ia fokus mengeringkan rambut Zoya dengan sangat hati-hati seolah setiap helai rambut itu begitu berharga.


"Kamu aneh aja gitu. Apa ini sebagai ganti yang tadi,?" kata Zoya lagi.


"Ngasih perhatian sama istri sendiri masak aneh?" kata Dewa semakin mengerutkan dahinya.


"Ya enggak, udah cukup" kata Zoya meminta Dewa menyudahi tugasnya.


Dewa menurut, ia mematikan hairdryer itu lalu meletakkannya di meja rias. Ia juga setia menunggu Zoya yang masih sibuk merias dirinya.


Setelah wanita itu selesai, barulah Dewa mengajak Zoya keluar untuk makam malam. Ayahnya sudah mengabarkan kalau dirinya sudah berada di restoran bersama dengan Rayden. Jadi Dewa langsung saja menyusulnya kesana.


"Wah, anak ibu pintar sekali bisa makan sendiri," Zoya tampak sangat senang melihat Rayden yang makan sendiri tanpa di suapi.


"Ya tadi Ayah sudah melarangnya, tapi kata Rayden dia bisa makan sendiri," kata Anderson mengelus rambut cucunya.


"Ayah, Ibu, makan" kata Rayden mengajak kedua orang tuanya makan, bicaranya terdengar tak jelas karena mulutnya penuh makanan.

__ADS_1


"Iya sayang, Rayden habiskan ya" sahut Dewa seperti biasa, menarikan satu kursi untuk istrinya duduk barulah dirinya ikut duduk.


"Kau mau makan apa?" tanya Dewa membuka buku menu restoran.


"Apa saja, aku sudah lapar" kata Zoya seadanya, perutnya sudah mulai keroncongan karena Dewa baru saja menguras habis tenaganya.


Dewa mengangguk dan memesankan salah satu menu yang ada. Mereka menunggu makanan datang dengan diselingi obrolan ringan. Namun disela-sela obrolan mereka, tiba-tiba ada Tara yang datang bersama suaminya.


Ekspresi Zoya langsung saja masam seketika, kenapa dunia ini sempit sekali, pikirnya.


"Selamat malam Tuan Dewangga, maaf jika menggangu waktu kalian. Istri ingin bergabung disini, apakah boleh?" kata Frans terlihat tak enak, namun Tara cuek saja.


"Kenapa harus bergabung? Bukankah banyak meja kosong?" kata Dewa dengan wajah dinginnya.


"Ya, aku tadi sudah mengatakan kepada istriku, tapi dia ya begitulah," kata Frans membuat Tara mendengus kecil.


"Ehm, Dewa. Biarkan saja dia bergabung disini. Mungkin istri Tuan Frans sangat kesepian jika hanya berdua dengan suaminya," kata Zoya menyentuh lengan Dewa dengan lembut, bibirnya menyunggingkan senyum manis namun matanya terlihat begitu sinis.


Dewa menatap Zoya ragu, tapi wanita itu hanya mengangguk singkat. Dengan sangat terpaksa ia membiarkan saja kedua orang itu bergabung dengannya.


Frans yang memang dasarnya orang yang supel, ia dengan mudah mencari topik-topik pembahasan yang membuat suasana mencair. Bahkan sesekali Anderson juga ikut menyahut jika ia mengerti tentang bisnis yang mereka bicarakan.


"Jadi perusahaan anda bekerja dalam bidang ekspor impor? Wah, pantas sangat maju sekali," kata Frans memuji kehebatan Dewa dalam dunia bisnis.


"Ya itu semua berkat istriku, dia yang selalu mendampingiku selama ini," kata Dewa menatap istrinya penuh cinta.


"Hahaha, jangan mendengarkannya Tuan Frans, dia memang sudah hebat meskipun tanpa aku," kata Zoya tertawa kecil karena ucapan suaminya.


"Tapi itu mungkin saja Nona Zoya, seperti kata pepatah yang mengatakan, kalau dibalik kesuksesan suami, pasti ada istri yang senantiasa menemani," kata Frans tersenyum kecil.


"Anda benar sekali Tuan Frans, saya sangat beruntung memilikinya sebagai istri," kata Dewa tak henti menatap Zoya dengan penuh cinta.


Hal itu tentu saja membuat Tara begitu muak, Tara tak suka dengan cara Dewa yang begitu membanggakan istrinya. Apalagi melihat bagaimana cara Dewa menatap istrinya, Tara sangat tidak menyukainya karena dulu meskipun Dewa mencintainya, tak pernah sekalipun pria itu menatapnya seperti itu.


Happy Reading.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2