
Zoya tidak tau apa yang dipikirkannya saat itu, dirinya benar-benar masih tak bisa menerima dengan apa yang baru dilihatnya. Seumur hidupnya Zoya hanya pernah jatuh cinta satu kali dan itu kepada Dewa, jadi melihat pria itu berpelukan dengan wanita lain hatinya begitu sakit hingga tak bisa mempercayai apa yang dikatakan oleh Dewa.
"Zoya! Awas!!!"
Zoya terus berjalan tak menghiraukan saat Dewa memanggil-manggil namanya, dia hanya butuh ketenangan agar bisa berpikir jernih. Sesaat kemudian ia kaget saat tubuhnya tiba-tiba terdorong ke depan dengan sangat keras hingga ia jatuh tersungkur mengenai pembatas jalan, tapi ada hal yang lebih membuat jantung Zoya seperti berhenti berdetak.
BRAKKKKKK!!!!
"DEWA!!!" teriak Zoya dengan tubuh bergetar hebat demi melihat tubuh Dewa tertabrak truk besar hingga pria itu terlempar beberapa meter. Ia merasa waktu seketika terhenti dan terasa hening.
Kejadian itu begitu cepat hingga supir truk itu tak bisa mengerem mendadak. Orang-orang yang kebetulan berada disana pun segera berdatangan untuk melihat apa yang terjadi karena suara ban mobil yang berdecit begitu keras.
Zoya mencoba bangkit saat lututnya terasa sangat lemas, ia berlari sekuat tenaga mendatangi tubuh Dewa yang tergeletak dengan bersimbah darah.
"Dewa!!!" Zoya menangis meraung seraya memangku kepala Dewa. Ia menunduk penuh penyesalan karena demi menolongnya, Dewa mengorbankan dirinya sendiri.
"Dewa bangun!! Jangan tinggalkan aku" Zoya tak henti menciumi wajah Dewa berharap bisa membangunkan pria itu, tapi semuanya hanya sia-sia saja.
Bayu dan Tara yang saat itu masih ada disana pun ikut syok melihat kejadian ini. Bayu segera bertindak untuk menghubungi ambulance sedangkan Tara hanya bisa mematung menatap Zoya yang terus memeluk Dewa dan menangis keras.
"Ambulance sudah datang" teriak Bayu membuat beberapa orang langsung membantu membawa Dewa untuk naik ke ambulance.
Zoya seperti orang linglung saat tiba-tiba tubuh Dewa di angkat, baju dan tangannya masih bersimbah darah milik Dewa. Sesaat kemudian ia tersadar dan segera ikut naik ke ambulance yang membawa Dewa ke rumah sakit.
"Bertahanlah untukku, aku sangat mencintaimu Dewa, jangan pergi" bisik Zoya dalam hatinya, ia terus menerus menggenggam tangan Dewa sampai pria itu masuk kedalam ruangan untuk melakukan perawatan.
Zoya tak rela melepaskan genggaman tangan itu, matanya hanya bisa menatap nanar pada Dewa yang perlahan hilang dibalik pintu yang tertutup. Zoya langsung menjatuhkan dirinya di lantai dan menangis tersedu-sedu. Ia tak henti menyalahkan dirinya sendiri karena sudah bersikap kekanakan.
__ADS_1
"Zoya, bagaimana keadaan Dewa?" kata Bayu menyusul ke rumah sakit.
Zoya mengangkat wajahnya saat mendengar suara Bayu, ia mengusap air matanya pelan tapi saat melihat Bayu tak datang sendiri, air muka Zoya berubah mengeras.
"Kau! Untuk apa lagi kau kesini!" seru Zoya begitu emosi saat melihat Tara ada disana.
"Aku ingin melihat Dewa, bagaimana keadaannya?" kata Tara tak terpengaruh oleh Zoya.
"Dewa tidak butuh dirimu! Sekarang pergi dari sini" kata Zoya begitu kesal langsung menarik tangan Tara agar pergi darisana.
"Lepasin aku, Kau tidak berhak mengusirku" kata Tara berontak hingga tangannya terlepas.
"Bisakah kalian berdua tenang, ini di rumah sakit, tolong bekerjasama lah" kata Bayu menengahi pertengkaran itu.
"Kalau begitu usir wanita tak tau diri ini darisini Bay" kata Zoya menatap Tara dengan sangat tajam.
"Aku bukan pembawa sial!" teriak Zoya sangat marah jika ada yang menyebutnya seperti itu.
"Lalu apa? Kau itu memang hanya wanita pembawa sial dalam hidup Dewa. Sadarkah kau kenapa Dewa bisa seperti ini? Ini semua gara-gara kau! Dewa juga kehilangan masa depannya gara-gara kau! Dia harus bekerja keras siang malam untukmu, tapi apa yang kau lakukan? kau malah membuat dia sakit seperti ini" kata Tara seperti sebuah tamparan yang keras untuk Zoya.
Zoya menggelengkan kepalanya, ia bukan wanita pembawa sial, dia juga tak ingin Dewa seperti ini, tapi ini memang salahnya, apakah benar dia wanita pembawa sial dalam hidup Dewa?
"Hei lambe turah, mendingan lu pergi darisini, lu nggak ada kepentingan apapun disini. Zoya yang lebih berhak menemani Dewa karena dia istrinya" kata Bayu ikut kesal pada Tara karena wanita itu semakin memperburuk keadaan. Ia segera menarik tangan Tara dan menyeret wanita untuk pergi darisana.
"Eh, jangan berani menyentuhku! lepas nggak!" teriak Tara berontak agar terlepas dari tangan Bayu, tapi pria itu memegang tangannya dengan kuat.
Setelah kepergian mereka pintu ruang rawat Dewa terbuka membuat Zoya langsung mendatanginya.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan suami saya Dokter?" tanya Zoya langsung tak membuang waktunya.
"Keadaan pasien sangat kritis, beliau mengalami pendarahan hebat dikepalanya, selain itu juga ada darah yang menggumpal di saluran pernafasan dan kami harus segera melakukan operasi untuk menyelamatkan nyawa pasien" kata Dokter itu menjelaskan.
"Lakukan yang terbaik dokter" kata Zoya hanya bisa berharap apa yang terbaik untuk suaminya.
"Pasti Nona, sekarang anda bisa mengurus administrasinya dulu, kami akan segera menyiapkan segala keperluannya" kata Dokter itu sebelum kembali ke ruangan.
Zoya mengangguk dan segera bergerak cepat agar suaminya secepatnya mendapatkan penanganan. Tapi Zoya sama sekali tak menyangka jika biaya operasi itu membutuhkan uang yang sangat banyak.
"80 juta sus? Apakah tidak bisa di kurangi lagi?" kata Zoya mencoba bernegosiasi karena ia tak mungkin bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam satu malam. Apalagi semua uangnya juga sudah ia kembalikan kepada Leon.
"Tidak bisa Nona" kata suster.
"Saya pasti akan membayar semua biayanya, tapi untuk malam ini mungkin belum bisa, Ehm, apakah suami saya bisa melakukan operasi terlebih dulu?" kata Zoya memohon.
"Mohon maaf Nona, tapi itu juga tidak bisa karena sudah menjadi peraturan rumah sakit kalau pasien harus membayar terlebih dulu baru bisa di tangani" kata suster lagi.
"Kenapa tidak bisa? Ini rumah sakit untuk menolong orang yang sakit kan? Aku sudah bilang kalau aku pasti membayarnya!" kata Zoya begitu emosi rasanya. Kepalanya berdenyut pusing, ia bingung dan cemas hingga tak bisa berpikir jernih.
"Tetap tidak bisa Nona, silahkan selesaikan administrasinya dulu, maka suami anda akan segera di operasi"
Zoya berdecak kesal, ia sangat bingung harus mendapatkan uang sebanyak itu darimana. Oh ya, kenapa dia tidak bermain kasino saja? Tapi Zoya ingat kalau Dewa sangat benci jika ia bermain judi, selain itu ia juga belum tentu menang, bagaimana kalau justru ia akan kalah besar.
"Bagaimana Nona?" tanya seorang suster kembali menghampiri Zoya untuk menanyakan kepastian operasi itu.
Happy Reading.
__ADS_1
Tbc.