I'M FINE

I'M FINE
Tidak Butuh Apapun.


__ADS_3

Hujan badai sepertinya memilih datang di akhir pekan ini, meniupkan angin yang berderu menggoncang pepohonan yang berada disekitar pulau tempat Zoya berada. Suara guntur pun saling bersahutan seolah Tuhan ingin memperingatkan kepada seluruh makhluknya tentang kuasanya.


Malam ini, Zoya mengisi waktunya seperti biasa, terdiam merenung dalam kesedirian. Duduk di sofa besar yang berada disamping jendela, memperhatikan derasnya hujan malam itu.


Sudah berapa lama disana? Entahlah, rasanya Zoya tak punya kekuatan untuk menghitungnya. Setiap detik yang dilaluinya seolah seperti siksaan bagi Zoya. Bagaimana tidak? Dewa benar-benar tak membiarkannya lepas sedikitpun dari sini.


Setiap malam, Zoya harus melalui malam yang sangat menyakitkan, dimana dia harus terus menerus dipaksa oleh Dewa untuk menjadi pemuas na f su pria itu. Dan yang lebih menyakitkan adalah, Dewa selalu meninggalkan dirinya yang sudah tidak berdaya dan akan kembali mendatanginya jika pria itu membutuhkannya.


Sungguh menyedihkan....


Namun selain itu, ada yang lebih membuat hatinya sangat sakit, yaitu ia yang tidak bisa menemui anaknya. Bagaimana kabar anaknya? Anaknya itu pasti mencarinya karena dia tidak pulang lama.


"Belum tidur?"


Zoya tersentak saat mendengar suara berat yang sangat khas itu, dulu jika ia mendengarnya, ia akan merasa senang, tapi sekarang, entah kenapa dia merasa sangat ketakutan.


Zoya menatap Dewa yang datang dengan mantel basah kuyup, wajah pria itu juga basah hingga ke rambut-rambutnya. Sedikit tak menyangka kalau Dewa akan datang disaat hujan badai begini. Zoya melihat Dewa yang melepas mantelnya, lalu menyugar rambutnya yang basah, pria itu kini berjalan mendekat ke arahnya membuat Zoya langsung menjauh.


Dewa mengerutkan dahinya sesaat saat melihat tingkah Zoya itu, tapi ia kemudian tersenyum manis dan duduk berjongkok di depan Zoya hingga membuat wanita itu kaget. Dewa lalu meletakkan dua kotak yang berukuran besar dan kecil di meja. Ia membuka kotak kecil itu terlebih dulu dan ternyata isinya adalah..


Kue ulang tahun?


Zoya menatap hal itu tak percaya? Ia lalu melihat Dewa yang mengambil korek api dan menyalakan sebuah lilin kecil di kue itu.


"Aku rasa, aku belum terlambat mengucapkannya, selamat ulang tahun Zoya" kata Dewa dengan senyum manisnya.


Zoya malah terkaget-kaget melihat hal itu, Apa-apaan ini, kenapa Dewa masih ingat ulang tahunnya? dan kenapa pria ini begitu cepat berubah? apakah dia tidak salah melihat.

__ADS_1


"Kau tidak ingin meniup lilin ulang tahunmu?" kata Dewa lagi masih dengan sikapnya.


Zoya kembali tersadar saat mencium bau alkohol dari mulut Dewa, pantaslah iblis ini bisa bersikap seperti ini.


"Cih, aku tidak butuh ini" kata Zoya menepis kasar kue itu hingga terjatuh dilantai.


Wajah Dewa langsung berubah, sorot matanya tampak tajam mematikan karena tak suka dengan sikap Zoya ini. Ia kemudian merangsek maju dan menghimpit tubuh Zoya disofa itu.


"Kau menolak kue dariku? Bukankah kau senang jika ulang tahunmu dirayakan? Apa kue itu kurang mahal untukmu? Oh, tunggu, aku juga membelikan mu hadiah" kata Dewa mengambil kotak yang besar tadi lalu membukanya, memperlihatkan sebuah mini dress yang sangat mewah.


"Apakah kau suka? Gaun ini aku pesankan khusus untukmu, kau pasti senang kan jika mendapatkan hadiah mahal ini?" kata Dewa ingat kalau alasan Zoya menceraikannya karena dia miskin kan, sekarang dia punya kuasa dan uang yang mampu membelikan apapun yang Zoya inginkan.


Ucapan Dewa itu sontak membuat emosi dalam diri Zoya memuncak hingga mendorong keberanian dirinya untuk menatap Dewa dengan mata yang berkaca-kaca.


"Aku tidak butuh apapun darimu, tidak sedikitpun. Tidak uangmu dan juga barang-barang mahal yang kau berikan padaku. Aku hanya butuh kebebasan! kebebasan yang jauh dari campur tanganmu Dewa! Aku hanya ingin kehidupanku yang dulu!" teriak Zoya mendorong tubuh Dewa menjauh darinya. Ia bangkit dan mengusap air matanya dengan kasar.


"Tapi kau tentu tidak sebaik itu kan? Kau menculikku, memaksakan kehendakmu padaku dan kau menganggap diriku seperti wanita sampah yang bebas kau pakai dan kau akan membuangku ketika kau bosan! Kalau sudah begitu untuk apa kau memberiku pakaian mahal jika kau hanya menjadikan aku pemuas nafsumu, toh aku tidak bisa pergi kemanapun!" kata Zoya menahan sesak didadanya saat mengatakan hal itu. Sebegitu rendahnya posisinya dimata Dewa sampai pria itu menilai dirinya sama seperti uang.


Ia menatap wajah Zoya sebentar sebelum me lu mat bibir manis Zoya yang selalu menjadi candunya.


*****


Zoya terbangun saat mendengar suara yang sangat berisik dari luar, ia merasakan seluruh tubuhnya sakit semua, sendi-sendinya terasa ingin copot dari tempatnya.


Zoya melirik lalu Dewa yang tertidur telungkup dengan tangan menimpa perutnya. Dewa yang sekarang memiliki tinggi 187 cm dengan bobot 65 kg, membuat Zoya cukup kesusahan melepaskan dirinya.


Dengan bersusah payah, akhirnya Zoya bisa melepaskan dirinya. Ia sempat melihat Dewa yang menggeliat hingga selimut pria itu melorot sampai ke pinggang tapi Zoya tak memperdulikannya, ia bergegas ke kamar mandi dengan menyeret kakinya karena miliknya sangat perih jika digunakan untuk berjalan.

__ADS_1


Setelah memakai bajunya, Zoya langsung turun ke bawah. Disana, terlihat banyak sekali orang yang membenarkan bagian samping vila yang rusak karena badai semalam.


"Zoya?"


Zoya langsung menoleh begitu mendengar seseorang memanggil namanya.


"Bayu?"


"Zoya, bagaimana keadaanmu? apa kau baik-baik saja?" Bayu begitu lega saat melihat Zoya.


Ia baru saja datang kesini setelah menyelesaikan tugas dari Dewa. Hari-harinya selalu dipenuhi pikiran tentang apa yang dilakukan Dewa kepada Zoya, karena bagaimanapun juga, dialah penyebab kesalahpahaman ini.


"I'm fine Bay, kamu gimana bisa ada disini?" kata Zoya mengulas senyum tipisnya. Namun mata sendunya tak bisa berbohong.


"Maafkan aku Zoy, aku udah buat kamu kayak gini, setelah ini aku akan menceritakan semuanya pada Dewa tentang alasan kamu meninggalkannya, dia harus tau hal itu" kata Bayu semakin tak enak perasaannya saat melihat mata Zoya.


"Nggak perlu Bay, dia sekarang udah banyak berubah" kata Zoya.


"Iya ini salahku karena nggak ngomong jujur dari awal sama dia. Dewa harus tau kalau semua yang kamu lakuin ini semua demi dia Zoy" kata Bayu lagi.


"Tapi apa dia akan percaya?" kata Zoya ragu.


"Dia pasti ngerti, percaya sama aku" kata Bayu memegang lengan Zoya untuk meyakinkan wanita itu.


Zoya menatap Bayu yang memandangnya serius itu, ia ingin menjawab tapi urung tatkala ia mendengar suara tem ba kan yang sangat keras. Kejadian itu begitu cepat hingga membuat mereka berdua kaget. Keduanya langsung menoleh dan melihat Dewa yang berdiri dengan sorot mata tajamnya.


"Jauhkan tanganmu dari wanitaku"

__ADS_1


Happy Reading.


Tbc.


__ADS_2