I'M FINE

I'M FINE
Penyesalan.


__ADS_3

Tara melangkahkan kakinya dengan gontai, ia merasa hancur setelah Zachary menolak dirinya dan malah menyuruhnya aborsi. Tara tidak menyangka akan dikhianati oleh pria yang sudah di puja selama ini. Padahal Tara sudah merelakan semuanya untuk Zachary, bahkan ia juga sudah membantu menjebak Dewa dan Zoya hingga mereka di grebek warga. Tapi kenapa Zachary melakukan ini semua padanya?


Tara menjambak rambutnya frustasi, dia bingung harus bersikap bagaimana sekarang. Jujur saja Tara takut jika melakukan aborsi karena hal itu sangat berbahaya, tapi ia juga tak mungkin mempertahankan bayi ini. Apa kata orang tuanya nanti. Tara lalu melihat perutnya yang masih rata, perasaanya sungguh tak enak sekali.


"Bagaimana ini?" batin Tara begitu kalut, ia tak sadar kalau sejak tadi ada seseorang yang mengikutinya. Ketika ia hendak mencegat taksi tiba-tiba ia kaget saat ada seseorang yang mengambil tasnya dengan paksa.


"Aaaaaaaaa.......Jambret tolong!!!" teriaknya mencoba mempertahankan tas itu tapi ia kalah kuat hingga tas itu terlepas.


Karena teriakannya itu membuat beberapa orang disana langsung membantu Tara mendapatkan tasnya kembali. Tara ikut mengejar jambret itu karena banyak barang berharga didalam tasnya.


Jambret itu pun panik saat banyaknya orang yang mengejarnya, ia segera mempercepat larinya agar tak diamuk warga. Namun sepertinya ia cukup sial hari ini karena tubuhnya tiba-tiba di tendang seseorang hingga tersungkur.


"Sial!" umpatnya begitu marah. Ingin melawan pria itu tapi ia melihat warga yang sudah mendekat membuat ia langsung kabur.


Tara bernafas lega saat tasnya berhasil diselamatkan, ia kemudian menghampiri pria yang menolongnya.


"Tuan, terimakasih sudah membantuku" ucapnya sedikit tersenyum tapi sedetik kemudian senyuman itu berubah menjadi wajah kaget.


"Dewa?" serunya tak percaya kalau Dewa yang sudah menyelamatkan tasnya.


Dewa hanya memasang wajah datar, tanpa mengucapkan apapun ia mengembalikan tas milik Tara. Ia tadinya ingin berangkat bekerja ke pasar tapi tak sengaja melihat kejadian itu. Ia juga sama sekali tak menyangka akan bertemu Tara.


"Ini tasmu, lain kali berhati-hatilah" kata Dewa datar tak bernada.


"Terimakasih" kata Tara lirih, ia tak berani menatap Dewa karena ingat apa yang sudah dilakukannya pada pria itu.


Dewa mengangguk singkat dan segera pergi dari sana, tapi Tara tiba-tiba mencekal lengannya membuat langkahnya berhenti. Dewa menatap hal itu dengan tajam membuat Tara melepaskan tangannya.


"Ehm, Dewa...Aku ingin minta maaf padamu, apa yang aku lakukan sudah sangat keterlaluan" kata Tara.


"Lupakan, itu bukan hal penting untukku" sahut Dewa masih tak mengubah ekspresi wajahnya. Ia langsung pergi begitu saja setelah mengatakan hal itu.


Tara mengigit bibirnya, ia merasa sangat bersalah karena dulu sudah mengabaikan orang sebaik Dewa, padahal pria itu begitu tulus mencintainya. Sekarang pria itu sudah menjadi milik orang lain.

__ADS_1


"Apakah kita bisa seperti dulu lagi?" batin nya menatap kepergian Dewa dengan nanar.


******


Zoya tampak mondar mandir cemas karena tidak bisa menghubungi Dewa sama sekali. Pria itu belum pulang sama sekali dari pagi. Zoya khawatir karena tak biasanya Dewa bersikap seperti ini. Biasanya meskipun marah Dewa masih mengangkat panggilannya. Akhirnya dari menunggu dengan ketidakpastian, Zoya memutuskan untuk melihat Dewa di pabrik.


"Kenapa kosong?" batin Zoya bingung saat melihat pembalut yang dipakainya masih bersih. Padahal seingatnya pagi tadi dia menstruasi.


Zoya tak terlalu memikirkannya karena sudah terbiasa dengan siklus haidnya yang tidak teratur itu. Ia segera mandi dan bersiap agar tak terlalu malam datang ke pabrik.


Sesampainya di pabrik, terlihat suasana sangat sepi sekali membuat Zoya bingung, padahal ia yakin kalau ini belum jam pulang kerja, tapi kenapa sepi sekali. Hanya beberapa orang yang berlalu lalang tapi tak ada satupun yang di kenalnya.


"Pak maaf, apakah semua orang sudah pulang?" tanya Zoya pada salah satu orang yang kebetulan lewat.


"Oh sudah mba, hari ini semua pegawai pulang sore, mungkin sekitar jam setengah enam tadi" kata orang itu.


"Sudah pulang ya? Apa nggak ada orang lagi di dalam?" tanya Zoya lagi.


"Ehm, gitu ya pak, makasih kalau gitu" kata Zoya mengangguk dan sedikit tersenyum pada orang itu.


Zoya menghela nafas panjang, jika Dewa sudah pulang dari tadi kenapa belum sampai rumah juga? Apa Dewa kembali mencari pekerjaan tambahan?


"Zoya!" seruan dari arah belakang Zoya membuat wanita itu menoleh.


"Bayu?" ucap Zoya mengerutkan dahinya saat melihat Bayu.


"Lu ngapain disini? Nyari Dewa?" kata Bayu yang saat itu kebetulan lewat sana karena akan pergi keluar.


"Iya, kamu tau nggak dia dimana? dari tadi aku hubungin nggak bisa" kata Zoya.


"Mungkin dia lagi kerja, lu mending pulang aja ini udah malem" kata Bayu sudah mengerti apa yang selalu Dewa lakukan setelah pulang kerja dari pabrik.


"Dia kerja dimana Bay? Aku pengen ketemu" kata Zoya berubah murung membayangkan Dewa yang kelelahan tapi masih harus bekerja lagi.

__ADS_1


"Buat apa? Dewa pasti nggak akan seneng kalau tau kamu keluar malam gini" kata Bayu.


"Tolong Bay, Aku beneran mau ketemu sama Dewa. Ini semua salah aku, Dewa nggak seharusnya kerja keras kayak gini" kata Zoya tanpa sadar kembali menangis. Ia benar-benar menyesal sekarang.


"Baiklah, Dewa sekarang kerja di pasar sebagai kuli panggul, mungkin setelah ini jam kerjanya habis" kata Bayu tak tega juga melihat Zoya yang terlihat sangat sedih itu.


Air mata Zoya tak terbendung saat tau kalau Dewa rela melakukan pekerjaan kasar hanya demi memberikannya uang yang banyak.


"Dimana tempatnya Bay? Apakah kau bisa mengantarku kesana?" kata Zoya.


Bayu mengangguk setuju untuk mengantarkan Zoya ke pasar. Ia hanya berharap kalau masalah antara Dewa dan Zoya segera selesai agar mereka berdua kembali hidup bahagia.


*****


Dewa menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, ia tak memperdulikan rasa lelah dan sakit di pundaknya. Ia benar-benar sudah bertekad harus mencari banyak uang bagaimanapun caranya.


"Bang udah aku antar semua, apa masih ada lagi?" ucapnya langsung menemui bosnya setelah menyelesaikan semuanya.


"Jatah lu udah habis sih, itu tinggal dikit buat di kirim ke toko merah pojok sana" kata bos menunjukkan beberapa krat buah-buahan.


"Itu bukan jatah orang kan? Biar aku aja yang bawa" kata Dewa ingin menambah penghasilannya malam itu.


"Lu nggak capek? Biarlah, nanti ada yang bawa" kata Bos tampak sedikit perhatian pada anak buahnya.


"Aman Bang, aku bawa ya" kata Dewa tegas tanpa keraguan membuat bos itu memperbolehkannya.


Dewa segera mengangkat buah-buahan itu ke toko yang di maksud. Setelah menyelesaikan semuanya, Dewa segera pulang ke rumah, ia tampak puas melihat uang yang di bawanya cukup banyak.


"Dewa?"


Happy Reading.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2