
"Ibu!"
Dewa kecil berteriak sangat senang saat melihat ibunya datang menjemputnya, ia mempercepat langkahnya hingga sampai didepan ibunya. Zoya pun langsung berjongkok didepan anaknya dan memeluknya.
"Ibu, aku senang ibu datang kesini. Hari ini aku dapat nilai bagus, aku mau nunjukin ke ibu" kata Dewa kecil begitu semangatnya.
"Oh ya? anak ibu pintar" kata Zoya mengelus rambut anaknya.
"Om baik ada disini juga?" kata Dewa kecil sedikit kaget saat melihat Dewa ada disana.
Dewa terdiam menatap lekat-lekat wajah anaknya, kini ia bisa melihat dengan jelas wajah anaknya. Perasaannya tak bisa terlukiskan, senang sekaligus terharu saat melihat anaknya yang sudah tumbuh besar tanpa dirinya.
Dewa kemudian menurunkan tubuhnya hingga sejajar dengan anaknya. Ia menatap terus menerus anaknya. Dewa kecil memang memiliki matanya namun bibirnya yang merah milik Zoya, anaknya sangat tampan hingga Dewa tak bisa sedikitpun memalingkan wajahnya, ia tersenyum namun matanya basah.
"Om baik kenapa menangis? Kata ibu kita nggak boleh nangis om, kita harus bahagia selalu" kata Dewa kecil terlihat sangat imut.
Dewa segera mengusap air matanya, ia merasa sudah sangat jatuh cinta pada anak ini. Bagaimana tidak? anak ini adalah darah dagingnya sendiri yang sampai sekarang baru bisa ditemui, Dewa sudah melewatkan banyak momen tumbuh kembang anaknya.
"Ayah, panggil Ayah" kata Dewa memegang lembut lengan anaknya.
"Ayah?" kata Dewa kecil bingung dan menatap ibunya yang juga menangis, kenapa semua orang menangis pikirnya.
"Iya sayang, Om baik ini Ayahnya Dewa" kata Zoya memberikan pengertian.
"Ayah" kata Dewa kecil, matanya berbinar cerah sangat mendengarnya.
"Kau memang putraku" kata Dewa langsung memeluk tubuh mungil anaknya dan matanya kembali basah. Benar-benar sangat terharu dengan pertemuan ini.
Zoya ikut menangis melihat bagaimana Dewa memeluk putranya untuk pertama kalinya selama lima tahun. Hatinya menghangat namun juga terharu.
"Ayah, Ayah beneran Ayahku kan?" kata Dewa kecil ingin memastikan lagi kalau Om baik ini adalah Ayahnya.
"Iya, maafkan Ayah yang baru bisa menemui mu sekarang" kata Dewa tak jemu memandang anaknya.
"Memangnya Ayah pergi kemana?" tanya Dewa kecil lagi.
"Ayah, dulu Ayah tidak tau kalau Dewa ada" kata Dewa dengan suara tercekat.
__ADS_1
"Ayah jangan pergi lagi, kasihan Ibu menangis karena rindu sama Ayah, Ibu tidak pernah bercerita, tapi setiap malam aku sering melihat Ibu menangis, Ibu bilang kangen Ayah" kata Dewa kecil lagi semakin membuat tangis Dewa kembali menderas.
"Maafkan Ayah, Ayah tidak akan pergi lagi" kata Dewa memeluk Dewa kecil dan Zoya secara bersamaan, ia juga menciumi kepala mereka bergantian.
Zoya pun kembali menangis karena hal ini, akhirnya setelah sekian lama waktu yang ditunggunya tiba, mereka bisa berkumpul bersama menjadi satu keluarga yang utuh. Rasanya jika hanya untuk mengucap syukur tak cukup, Tuhan benar-benar memiliki rencana yang indah.
******
Kini mereka bertiga sudah berada didalam mobil, Dewa sejak tadi tak melepaskan Dewa kecil dari pelukannya, Ia bahkan terus memangku putranya saat mereka perjalanan pulang ke kontrakan. Dewa juga tak henti menciumi anaknya seolah tak ada rasa puas, Dewa kecil pun tak risih sama sekali, ia malah senang karena merasa disayang oleh Ayahnya.
"Siapa nama lengkap mu?" tanya Dewa pada putranya.
"Dewangga Rayden Alexander" kata Dewa kecil langsung.
"Rayden, bolehkah Ayah memanggilmu Rayden?" kata Dewa melirik Zoya lalu kembali menatap anaknya.
"Boleh" kata Dewa kecil setuju-setuju saja.
"Anak pintar, setelah ini Rayden pulang ke rumah Ayah ya? Ketemu sama kakek" kata Dewa kembali memberikan ciuman di kepala anaknya.
"Ke rumah Rayden, nanti Rayden bisa sekolah di sekolah baru" kata Dewa lagi.
"Sekolah baru? Apa disana temannya baik Ayah? Mereka mau nggak temenan sama aku" kata Rayden dengan wajah polosnya.
Dewa menekuk wajahnya, ia menatap Zoya yang hanya bisa menghela nafas.
"Selama ini Dewa, ehm, maksudku Rayden jarang punya teman, karena ya kamu tau sendiri kondisi kita bagaimana" kata Zoya seadanya.
Dewa tersenyum kecut, ternyata semakin bergantinya zaman, yang namanya perbedaan sastra masih terus menurun sampai ke generasi muda jaman sekarang. Sungguh miris sekali karena anak-anak sekarang selalu memandang harta jika harus berteman.
"Rayden, dengarkan Ayah, selama Rayden tidak salah, jangan pernah takut untuk melangkah, Rayden anak pemberani kan?" kata Dewa menatap anaknya serius.
"Iya ayah, kata ibu kehilangan satu teman tidak boleh membuat kita patah semangat dan harus fokus belajar" kata Rayden memang anak yang pintar, dia dengan mudah memahami ucapan Ayahnya.
"Bagus, itu baru anak Ayah. Kalau ada yang jahatin kamu bilang Ayah aja, nanti Ayah yang urus" kata Dewa tersenyum kecil.
Rayden hanya mengangguk-angguk saja membuat Dewa gemas sekali rasanya. Ia kemudian menatap Zoya yang juga menatapnya, ia mengulurkan tangannya untuk menarik kepala Zoya mendekat.
__ADS_1
"Terimakasih, terimakasih telah melahirkan dan mendidik putraku menjadi anak yang sangat hebat, aku mencintaimu" kata Dewa mencium dahi Zoya cukup lama.
Zoya mengangguk singkat, lagi-lagi ia kembali menangis, bukan tangis kesedihan yang selama lima tahun menamainya, namun sebuah tangisan bahagia yang membuat dadanya begitu lega.
Mobil mereka berhenti di depan gang, sama seperti tadi, Dewa turun terlebih dulu dengan menggedong Rayden lalu membukakan pintu untuk Zoya dan kembali merangkul pinggang Zoya.
"Turunkan saja, Rayden sudah besar" kata Zoya menatap anaknya yang memang sangat besar di gendongan Dewa.
"Tidak apa-apa, aku masih kuat untuk menggendong anakku" kata Dewa tak keberatan sama sekali, dia justru semakin senang.
"Baiklah, ayo sepertinya Bibi sudah menunggu kita" kata Zoya lagi.
"Ya"
Mereka berjalan beriringan masuk kedalam gang yang cukup ramai karena ini jam makan siang. Sama seperti biasanya, di warung itu pasti banyak sekali ibu-ibu yang ngegosip, memang acara ghibah itu dilakukan tiga kali sehari, kalau libur malah hampir seharian mereka tidak pulang.
"Eh! Eh, itu si Ara pulang bawa laki lagi...."
"Idih, udah ganti lagi ye sekarang?"
"Kok mau sih orang ganteng gitu sama perempuan nggak bener....."
"Pasti kalau udah bosen juga dibuang ..."
"Murah banget sih..."
Lagi-lagi kata-kata tak mengenakkan terlontar begitu melihat kedatangan Zoya bersama Dewa. Zoya yang sudah biasa tak lagi mempermasalahkannya, tapi Dewa tampak tak senang karena mereka menghina Zoya seperti itu.
"Zoya, sebaiknya kau bawa Rayden pulang dulu, aku akan mengurus wanita tidak tau diri itu" kata Dewa menurunkan Rayden dari gendongannya.
"Eh, kau mau apa? Tidak perlu mengurusi mereka Dewa" kata Zoya kaget.
"Kenapa? Aku tidak akan membiarkan orang itu menghina wanitaku seperti itu, mereka harus di beri pelajaran agar tidak sembarangan bicara dengan mulut kotornya" kata Dewa dengan sorot mata tajamnya yang menakutkan.
Happy Reading.
Tbc.
__ADS_1