
Waktu menujukan pukul 12 malam, di Kota Tokyo, Jepang.
suara cangkir satu persatu mulai pecah, beberapa orang mulai berjatuhan bersamaan aliran merah darah yang mulai mengalir dan membasahi setiap lantai. hanya ada seorang gadis kecil yang bersembunyi di toilet, mengintip dicela-cela pintu, menangis tanpa suara hanya air yang mengalir dari mata hingga jatuh kelantai~
Lagi dan lagi mimpi tersebut menghantui Mei. Keringat yang bercucuran dikeningnya, padahal suhu di ruangan mencapai 15°C. Mei mulai terengah-engah ia mencoba mengatur napasnya. Mei berjalan munuju dapur untuk mengambil segelas air untuk ia minum.
Suasana gelap yang biasa pada malam hari, kini Mei melihat ruang kerja Makoto yang masih menyala. Mei segera mengambil segelas air dan pergi keruang kerja Makoto. Makoto tampak serius yang mengetik dan membaca berbagai laporan.
"Mei-chan,"
Makoto terkejut dengan kedatangan Mei, Mei segera mengambil duduk di salah satu sofa ruangan tersebut. Ia mulai meneguk air yang ia bawa.
"apa kau bermimpi buru?" tanya Makoto.
"hem~"
Mei menaruh gelas tersebut pada meja didekatnya Ia beranjak berdiri dan mendekat pada berbagai rak buku yang tertata, Walaupun hanya buku-buku tentang bisnis yang ada.
"abaikan aku," ucap Mei yang mengetahui bahwa Makoto menatap dirinya, Makoto segera melanjutkan kerjanya yang mengurus berbagaimlaporan dan strategi.
Setiap jam, menit, dan detik berjalan tanpa henti. Makoto menatap kembali Mei. Kedua sudut bibirnya terangkat melihat Mei tidur di sofa tersebut. Makoto berganti menatap sebuag foto yang berada di mejanya, Makoto, Mei, dan Momoru yang nampak bahagia. Makoto hanya tahu jika Mei yang selamat pada kejadian tersebut, saudara kembarnya telah menghilang tanpa jejak.
****
"Nona, tuan Yoshida sudah datang." ucap Bulter Yang memberi Tahu Mei.
Mei turun dari tangga, ia menatap dingin Taki.
"hai teman." sapa Taki untuk menghilangkan rasa canggung.
"sa...aku tidak memiliki game di rumah," Mei masih menatap Taki dengan datar "Bukankah kamu bisa bermain basket?" tanya Mei.
__ADS_1
"ya,"
"ikuti aku," ucap Mei. Mereka menuju halaman samping Matsuda, seperti lapangam basket dan juga terdapat ring.
"apa kalian sering bermain basket?" tanya Taki.
"hanya Makoto dan temannya, juga Momoru,"
"baiklah," ucap Taki bersemangat dan mengambil alih bola basket dari Mei dan memulai permainan, permainan hanya dua orang.
Mei memamg tidak setinggi Taki, namun ia menggunakan akalnya setiap bermain. Mei mulai merebut kembali bola tersebut dan melakukan treepoint, namun bola tersebut di tangkis dengan cepat oleh Taki, ia memasuka bola tersebut pada ring lawan, satu point untuk Taki.
"kau tidak dapat melawabku," ucap Taki.
"jangan melihat dari luar," ucap Mei.
Waktu terus berjalan, mereka berlarian kemari dan kesana, merebut bola dan berbagai gerakan mereka pakai. Taki memperileh sepuluh point dan Mei sembilan.
"aku akan mengajakmu ke salah satu taman bermain,"
"tidak, aku tidak bisa."
Mei mulai melangkah meninggalkan Taki beberapa langkah. Taki hanya dapag mengikutinya. "tunggu," ucap Mei beranjak pergi ke kamarnya mengambil tas. Taki menaikan alisnya,
"kita akan berkeliling," ucap Mei.
Sejak lama Mei menginginkan berkeliling dengan Makoto, namun Makoto tetap sibuk dengan berbagai laporan produk yang akan ia luncurkan. Mereka keluar dari kediaman Matsuda. Mereka berjalan beriiringan di trotoar. Tanpa terasa mereka mulai memasuki pasar jajanan jepang. Tidak lupa dengan berbagai bisikan mengenai mereka.
"*hey lihat, bukankah dia adik presdir Ainsoft?"
"benar,"
__ADS_1
"apa laki-laki itu artis? Dia sangat tampan*."
"hey nona kau sangat terkenal," goda Taki, ."apa kau lelah?" tanya Taki.
"sedikit,"
"tunggu, aku akan membelikan minuman."
Mei terdiam menuruti kata-kata Taki. Beberapa ia melihat orang yang berjalan di hadapanya. Suasana yang cukup ramai, namun Mei tidak merasa takut maupun gelisah. Taki memberikan sebotol meneral pada Mei, Mei menatap pergelangan tangan Taki. Terlihat beberapa luka di tangannya. Taki segera menutupnya dengan lengan bajunya.
"hanya tergores benda," jelasnya dengan bohong.
Mei dapat membaca ekspresi Taki, jelas-jelas luka tersebut di sertai dengan luka bakar.
"jangan terlalu di abaikan, jika di abaikan akan menimbulkan bekas."
"hey nona, apa kau menghawatirkanku?" goda Taki.
Mei hanya berdecak kesal, ia memilih melangkah sendiri menuju salah satu penjual takoyaki, jajanan khas Jepang. Mei membeli takoyaki sebanyak dua porsi. Dan ia memberikan satu porsi pada Taki, sebagai ucapan terimakasih sudah menemaninya.
"terakhir kalinya aku melihat mu di tempat ramai, kau tidak kuat. Apa kau sudah pulih?" Tanya Taki.
"aku tidak tahu."
Taki tidak sengaja melihat salah satu toko yang menjual berbagai funko anime. maupun kartun disney Ia mengajak Mei ketempat tersebut. Taki sibuk memilih funko koleksinya, tanpa sadar Mei telah menghilang di sisinya. Ia bereliling dengan membawa dua funko yang ia pilih, dan menemukan Mei dengan funko anjing akita inu Jepang di kasir, ia sudah membayarnya dengan kartu tunainya.
Taki segera menyusul dan membayar dua funkonya. Hari sudah mulai menjelang sore, mereka memutuskan kembali ke Kediaman Matsuda, setelah itu Taki pulang usai mengantar Mei.
ilustrasi:
__ADS_1