I'M FINE

I'M FINE
Aku Pembunuh.


__ADS_3

"Apa yang terjadi?" kata Dewa melihat anak buahnya tampak berkumpul didepan pintu masuk ruangan bagian bawah kapal.


"Saya juga baru saja ingin melihatnya Tuan, kami tadi mengamankan para penjaga lain, begitu mendengar tembakan, kami langsung kemari, tapi ternyata pintu ini dikunci dari dalam" kata Luke melaporkan.


"Dobrak pintunya!" kata Dewa semakin kalut pikirannya, ia sangat takut akan keselamatan Zoya, itu saja yang dia pikirkan


Luke dan anak buah lainnya langsung sigap mendobrak pintu itu, tapi ternyata pintu itu sangat kokoh hingga membuat mereka hampir saja menyerah, namun ketika dobrakan pintu yang terakhir, akhirnya pintu itu terbuka sempurna.


Dewa langsung berlari secepatnya untuk mencari Zoya, tapi ia kaget saat melihat tubuh Bryan yang tergeletak tak sadarkan diri itu.


"Zoya" ucap Dewa tak ada sahutan apapun.


Dewa lalu berlari ke bagian lain, melewati lorong-lorong yang cukup gelap hingga ia menemukan Zoya yang berdiri dengan memegang pistol ditangannya, tatapan wanita itu tampak kosong menatap ke arah Davies yang tergeletak dengan bersimbah darah.


Zoya tidak tau kenapa, tapi rasa takut akan kehilangan Dewa dan juga anaknya membuat Zoya tak bisa berpikir jernih. Dia bahkan tak percaya sudah menembak Ayahnya, Zoya hanya tidak ingin lagi hidup dalam rasa sakit karena berpisah dengan orang yang dicintainya. Tubuhnya kini bahkan menggigil hebat dan air matanya terus mengalir tanpa bisa dicegah.


"Zoya" kata Dewa berucap sangat lembut pada Zoya yang masih syok itu.


Zoya langsung mengacungkan pistolnya kepada Dewa, terlalu syok hingga ia mengira orang yang datang kepadanya ingin memisahkannya dengan Dewa.


"Zoya, ini aku, lepaskan pistol itu" kata Dewa perlahan mendekati Zoya, tau jika wanita ini sangat ketakutan sekali.


Zoya tersadar dan langsung melepaskan pistol itu, matanya nanar menatap Dewa yang langsung meraihnya kedalam pelukannya.


"Aku...aku...membunuh Ayahku! Aku membunuhnya! Aku...aku...seorang pembunuh" kata Zoya dengan tangisnya yang keras, ia sangat ketakutan hingga kesusahan untuk berbicara.


"Tidak apa-apa" kata Dewa tak tau harus berucap bagaimana, sebisa mungkin ia menenangkan Zoya yang begitu syok, tubuhnya bahkan menggigil dan bibirnya gemetaran.


"Dewa! Aku pembunuh! Aku membunuh Ayahku!" kata Zoya tiba-tiba berontak dari pelukan Dewa lalu mendatangi tubuh Ayahnya yang membujur kaku.


Zoya langsung menjatuhkan dirinya ke lantai, menatap Ayahnya lalu memeluknya erat dan tangisnya pecah.

__ADS_1


"Ayah! Maafkan aku! Ayah bangun....Maafkan aku Ayah...." kata Zoya sejujurnya tidak pernah membenci Ayahnya. Mungkin dia kelihatan tidak menghormati Ayahnya, namun dalam hati kecilnya tetap tersimpan rasa cinta untuk Ayahnya.


"Bangun Ayah! Maafkan aku......" Zoya terus menangis dengan keras membuat Dewa tak tega, tangis itu begitu menyayat hatinya.


Dewa hanya bisa mengelus punggung Zoya yang bergetar akan tangisnya. Dewa juga cukup menyesalkan hal ini, tapi mau bagaimana lagi? Situasi yang memaksanya seperti ini.


*****


"Aku pembunuh....aku pembunuh"


Dewa terbangun dari tidurnya saat mendengar suara Zoya, wanita itu sepertinya mengigau karena dilihatnya mata Zoya masih terpejam. Dewa melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 2 pagi.


"Zoya!" kata Dewa mengguncang pelan bahu Zoya hingga wanita itu bangun.


"Ayah!" teriak Zoya terbangun hingga terduduk, ia baru saja kembali mengalami mimpi buruk. Memang sejak kejadian di kapal dua minggu yang lalu, Zoya menjadi sering bermimpi buruk, dia juga menjadi lebih pendiam dari biasanya.


"Dewa! Aku pembunuh! Aku sudah membunuh kedua orang tuaku" kata Zoya kembali dilanda serangan panik, ia mengigit kuku jarinya dan tatapan matanya kembali kosong.


"Apakah Tuhan akan mengutukku? Aku sudah membunuh mereka" kata Zoya hampir setiap hari mengulangi kata-kata yang sama.


"Tidak Zoya, semua itu sudah takdir yang harus kita lalui, jadi jangan menyalahkan dirimu sendiri. Mungkin itu sangat sulit untuk dilupakan, tapi hidup akan terus berjalan, ada aku dan juga putra kita yang sangat membutuhkanmu, tolong jangan menyiksa dirimu seperti ini" kata Dewa menghapus air mata Zoya dan menatapnya sendu.


Air matanya justru semakin tak terbendung, Zoya sangat ingin melupakan kejadian itu, tapi tentunya sangat susah sekali, dia membunuh Ayahnya dengan tangannya sendiri, bahkan ibunya harus meninggal karena melahirkan dirinya, mungkin benar kalau ia memang anak yang pembawa sial.


"Hei, lihat aku, kau bukan anak pembawa sial. Kau adalah wanita terhebat yang pernah aku kenal, satu-satunya wanita yang aku cintai, dan kau adalah ibu dari anakku, kau hebat, bukan wanita pembawa sial. Percayalah, aku sangat bangga memilikimu, terima kasih sudah hadir dalam hidupku Zoya, i love you now, tomorrow and so on" kata Dewa memegang lembut kedua pipi Zoya, menatap wanita itu dengan segala perasaan yang dimilikinya, membuat Zoya yakin kalau ada dia yang akan selalu menemaninya.


( Aku mencintaimu sekarang, besok dan seterusnya)


"Terima kasih" bisik Zoya tak tau harus berkata apa, Dewa benar-benar memberinya cinta dan segalanya.


Dewa tersenyum, ia lalu mencium bibir Zoya dengan lembut, memaksa sedikit bibir mungil itu untuk terbuka lalu menyusupkan lidahnya untuk bertukar saliva. Perlahan ia merebahkan Zoya di kasur dengan bibir yang saling bertaut.

__ADS_1


Mungkin karena sudah lama tak menyentuh Zoya, membuat hasrat Dewa terpancing untuk memperdalam ciumannya, tangannya ikut bergerak aktif memberi sentuhan di tubuh Zoya, tapi ia ingat akan janjinya kalau tidak akan menyentuh Zoya sebelum menikah.


Dewa melepaskan ciumannya dan menatap Zoya yang menatapnya dengan mata sayu.


"Maafkan aku, harusnya aku bisa menahan diriku" kata Dewa, nafasnya terengah-engah karena ciuman panasnya barusan.


"Hm?" Zoya sedikit bingung saat Dewa menghentikan aktivitasnya, ternyata ia juga sudah begitu merindukan sentuhan dari Dewa.


"Menikahlah denganku" kata Dewa masih tetap menindih tubuh Zoya.


"Kapan?" kata Zoya tak bisa melepaskan tatapan matanya dari Dewa.


"Besok" kata Dewa langsung.


"Besok?" kata Zoya kaget tentunya.


"Ya, besok" kata Dewa serius ternyata, dia tak ingin lagi menunda-nunda pernikahannya, toh sekarang Zoya sudah bercerai dari Bryan.


"Kenapa cepat sekali?" kata Zoya terlalu mendadak pikirnya.


"Zoya, aku sudah pernah kehilanganmu selama lima tahun dan hampir saja kehilanganmu lagi, apakah menurutmu aku harus menundanya lagi?" kata Dewa kini berubah sendu tatapannya.


"Baiklah, kita menikah besok" kata Zoya juga tak ingin lagi kehilangan pria ini lagi.


Dewa tersenyum senang mendengarnya, ia lalu mendekatkan wajahnya pada Zoya hingga wanita itu menutup matanya, Zoya pikir Dewa akan menciumnya, namun ternyata tidak, pria itu berbisik lembut ditelinganya.


"Apakah mau di lanjutkan?"


Happy Reading.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2