
"Apa tidak sebaiknya aku saja yang ke Jakarta? Kau pasti sangat lelah hari ini"
Aldin terlihat menghampiri Dewa yang sedang bersiap untuk melakukan perjalanan ke Jakarta. Hari sudah cukup sore dan Dewa baru saja pulang dari kantor membuat Aldin berinisiatif menggantikan Dewa untuk pertemuan bisnis ini. Ia cukup khawatir kalau Dewa akan kelelahan.
"Tidak perlu, lagipula pemimpin perusahaan itu ingin bertemu denganku langsung. Kau disini saja dan tolong jaga Ayah selama aku pergi" kata Dewa.
"Pasti, kabari aku kalau ada apapun" kata Aldin tak lagi mencegah keinginan Dewa.
Dewa mengangguk singkat kemudian berjalan keluar ke kamarnya. Setelah berpamitan dengan Ayahnya, Dewa langsung berangkat ke Jakarta bersama Bayu. Perjalanan dari Bandung ke Jakarta memakan waktu sekitar tiga jam membuat Dewa bisa mengistirahatkan tubuhnya yang cukup lelah sekali.
"Bay, aku mau tidur dulu, nanti bangunin kalau udah sampai" kata Dewa.
"Ya" kata Bayu mengangguk singkat.
Dewa menyandarkan kepalanya di sandaran kursi dan memijat pangkal hidungnya yang terasa sangat pegal. Tapi saat ia memejamkan matanya, ia malah terbayang wajah Zoya yang yang tersenyum manis padanya membuat Dewa segera membuka matanya.
"Zoya?" serunya kaget saat melihat sosok Zoya duduk disampingnya.
"Kau sudah kembali?" kata Dewa lagi ingin menyentuh wanita itu tapi tiba-tiba saja bayangan itu hilang membuat Dewa kaget.
"Zoya?" kata Dewa mencari kemana perginya wanita itu tapi ia tak bisa menemukannya.
Dewa terus memanggil-manggilnya berharap wanita itu akan kembali padanya, tapi ia malah merasakan tepukan dibahunya membuat Dewa langsung tersadar. Ia membuka matanya dan semakin kaget saat melihat Bayu.
"Bayu?" kata Dewa cukup bingung.
"Ya, ada apa denganmu?" kata Bayu.
"Aku tidak apa-apa, apa kita sudah sampai?" tanya Dewa mengusap wajahnya kasar, sepertinya ia baru saja kembali bermimpi tentang Zoya.
"Sebentar lagi, aku sedang mengisi bahan bakar apa kau ingin keluar dulu?" kata Bayu lagi.
Dewa menggeleng, ia tak menginginkan apapun saat ini. Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke sisi luar jalanan yang sangat ramai itu, mencoba mengalihkan perasaannya dari mimpi yang baru dialaminya. Kenapa sekarang ia lebih sering bermimpi tentang Zoya, padahal ia tak pernah lagi memikirkan wanita itu, tapi kenapa Zoya seolah menghantui dirinya.
__ADS_1
Setelah mengisi bahan bakar, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju hotel tempat Dewa menginap. Begitu memasuki kota Jakarta, mereka langsung disambut gedung-gedung pencakar langit yang tak terlihat ujungnya. Melihat bagaimana gemerlapnya kota Jakarta dimalam hari yang tak jauh berbeda dari kota Bandung.
Saat mobil mereka memasuki area hotel, ada sesuatu yang menarik perhatian Dewa. Seorang anak lelaki yang duduk di samping pos satpam. Sedang apa anak itu? pikir Dewa.
Dewa terus menatap anak itu sampai mobilnya memasuki lobby hotel membuat Bayu keheranan.
"Sedang melihat apa bos?" tanya Bayu ikut menatap arah pandangan Dewa.
"Untuk apa anak itu disana?" kata Dewa masih tak melepaskan tatapan matanya dari anak itu.
"Mungkin dia sedang mengemis" kata Bayu menjawab sekenanya karena sudah terbiasa melihat seorang anak kecil yang biasanya disuruh mengemis.
Dewa mengerutkan dahinya, ia berpikir kenapa anak sekecil itu harus disuruh mengemis. Apalagi ini sudah cukup malam. Dewa merasa iba jika benar anak itu memang pengemis, karena ia pun juga pernah merasakan bagaimana rasanya tak mempunyai uang dan hidup serba pas-pasan bersama ibunya dulu.
"Berikan dia uang Bay" kata Dewa ingin anak itu segera pulang jika sudah mendapatkan uang.
"Baiklah" kata Bayu mengangguk dan segera berjalan untuk menghampiri anak itu.
Dewa hanya diam ditempatnya menatap Bayu yang berbicara dengan anak itu. Dewa melihat kalau anak itu beberapa kali menolak saat Bayu memberinya uang membuat Dewa menekuk wajahnya. Tak lama setelah itu, Bayu terlihat kembali menghampiri Dewa.
"Dia nggak mau aku kasih uang. Katanya dia sedang menunggu ibunya bekerja disini" kata Bayu menjelaskan.
Dewa mengangkat alisnya saat mendengar hal itu, ibunya bekerja apa di hotel seperti ini? pikirnya. Tapi Dewa tak ingin terlalu memikirkannya, ia segera berjalan masuk ke hotel agar secepatnya bisa beristirahat.
"Dewa?"
Baru saja Dewa membalikkan tubuhnya dan berjalan beberapa langkah, ia mendengar suara seorang wanita yang entah kenapa ia rasa mirip sekali dengan sosok wanita masa lalunya. Dewa segera menoleh untuk melihat siapa wanita itu. Tapi ia mengerutkan dahinya karena tidak ada siapapun selain seorang wanita yang terlihat berjalan menghampiri anak kecil tadi.
"Ibu?" teriak Anak itu tampak sumringah saat melihat ibunya.
"Dewa, sedang apa disini?" kata wanita itu semakin membuat Dewa penasaran.
"Aku sedang menunggu ibu, malam ini aku mau tidur dibacain dongeng sama ibu ya" kata anak kecil itu lagi.
__ADS_1
"Baiklah, tapi lain kali Dewa nggak boleh gini lagi ya? Tadi sama siapa kesini nya? pasti Dewa bohong sama Bibi ya?" kata wanita itu terlihat mengelus rambut anaknya penuh kasih.
Dewa masih berdiri mematung melihat interaksi keduanya. Ia tak bisa melihat wajahnya, tapi dari siluetnya Dewa merasa sangat familiar. Selain itu kenapa anak kecil itu juga memiliki nama yang sama dengannya. Apa jangan-jangan....?
Mata Dewa membesar memikirkan kemungkinan itu, ia ingin menghampiri anak itu tapi niatnya diurungkan saat melihat sosok pria muda yang lebih dulu mendekati mereka.
"Kak Ara, ternyata Dewa ada disini? Pantaslah Bibi mencarinya dari tadi" kata pria muda itu membuat Dewa mengendurkan bahunya yang tadi sempat tegang. Dia pikir kalau wanita itu adalah Zoya, tapi ternyata bukan.
"Ya, dia tadi sedang menungguku. Ini kita baru mau pulang, maaf merepotkan mu ya Arga" kata Ara tak enak hati.
"Tidak apa-apa kak, anak kecil ini memang sangat bandel, kakak harus menghukumnya nanti" kata Arga bercanda menggoda Dewa kecil.
"Aku nggak bandel. Ibu nggak akan menghukum ku kan?" kata Dewa kecil menggelayuti kaki ibunya dan menciuminya, mencoba merayu ibunya karena ia merasa berbuat salah.
"Ehm, dihukum nggak ya?" kata Ara memasang wajah pura-pura berpikirnya.
"Jangan ya Bu, please...Dewa janji nggak akan nakal lagi" kata Dewa kecil menatap Ibunya dengan mata polosnya yang indah.
"Berarti Dewa ngakuin dong kalau hari ini nakal?" kata Ara tersenyum kecil.
"Ya, Dewa salah. Maafin Dewa ya Bu" kata Dewa kecil lagi.
Senyum Ara semakin lebar saat melihat wajah anaknya yang sangat imut. Ia kemudian berjongkok dan mensejajarkan wajahnya dengan mata indah anaknya yang persis seperti milik Ayahnya.
"Dewa harus dihukum biar nggak nakal lagi. Dan hukumannya adalah...." kata Ara menggantung ucapannya sejenak kemudian mencium pipi anaknya berulang kali hingga membuat Dewa kegelian.
"Ibu sudah...aku sudah besar, aku tidak mau dicium..." kata Dewa kecil tertawa karena ibunya terus menciumi wajahnya.
Dewa yang masih berdiri disana menyaksikan interaksi ibu dan anak itu. Entah kenapa perasaannya sedikit terusik melihat momen itu. Ia bisa melihat kasih sayang yang teramat besar dari sosok ibunya kepada Dewa kecil. Ia bahkan masih terus menatap keduanya sampai mereka sudah tidak terlihat lagi.
Ara? Siapa wanita itu?
Happy Reading.
__ADS_1
Tbc.