I'M FINE

I'M FINE
Chapter - 16


__ADS_3

"Mei-chan," panggil seorang, "aku sudah dari tadi menunggumu,"


Tidak ada respon dari Mei, ia tetap fokus pada tujuannya.


"sangat bahaya, bagi gadis sepertimu berjalan sendiri di malam hari." ucap Taki.


Taki mengagumi kemampuam Mei membela dirinya saat dikantin, suara yang datar dingin namun terasa tenang. Menghentikan langkahnya begitu pula Taki yang mengikut berhenti.


"kenapa kau berhenti?" tanya Taki.


Mei membulatkan matanya, terkejut dengan apa yang ia lihat. Mei mulai melangkah mundur perlahan dan berputar arah tujuan, ia tidak melanjutkan tujuan ke apartemnt melainkan ke arah lain. Sembari jalannya ia cepatkan. Spontan Taki mengikuti langkah Mei.


"itu dia, Matsuda Mei!" seru seorang.


Langkah cepat Mei, perlahan lebih cepat hingga membentuk langkah lari. Mei berlari lurus mencari arah mana yang bisa ia lewati maka ia akan lewat.


Begitupula Taki yang mengikutinya.


"kenapa sekumpulan wartawan mengincarmu?" tanga Taki


Mereka sudah terlalu jauh, namun sekumpulan wartawan yang mengejarnya tidak lelah mengikuti mereka. Mei terlihat bingunb jalan mana yang ia pilih. Namun tangam Taki meraih pergelangan tangan Mei, menggandengnya dan menuntunnya jalan yang benar.


Mereka berhenti, sembari melihat para wartawan yang kehilangan jejak mereka. Taki segera melempas tangan Mei.


"maaf," ucapnya.


Tidak lama dari itu, ponsel Mei berdering. Ia segera mengangkat panggilan tersebut.


"nona, maaf kami akan menghentikan para wartawan tersebut." ucap bulter Yang.


"Tidak perlu, saya tidak akan menghindar lagj, dan akan menjawab semua pertanyaan yang mereka lontarkan."


"Tapi nona, Tuan Makoto melarang-"

__ADS_1


Mei segera mengakhiri telpon tersebut tanpa Bulter Yang menyelesaikan kalimatnya. Dan sekarang Mei harusnmelihat kenyataan bahawa dirinya dan Taki terjebak dijalan buntu.


"Jika kau ingin menghadapi wartawan tersebut, kenapa kau berlari menghindar."


"Tubuh saya yang terlalu takut untuk menghadapi mereka." ucap Mei datar.


Taki terkejut mendengar kalimat yang utuh dari mulut Mei, biasanya gadis itu hanya mengucapkan setengahnya saja.


Mei taklama setelah mengucap ia lantas pergi meninggalkan Taki, namun Taki segera melangkah satu didepannya. Hingga mereka berhenti di sebuah kedai ramen.


Mei meletakan sepasang sumpit pada mangkok tersebut, menandakan bahwa ia telah selesai makan. Setelah membayar makanan tersebut mereka berencana untuk kembali ke apartement.


"Itu dia! Matsuda Mei."


segera segerombolan para wartawan mengepung mereka, berbagai petanyaan dilontarkan, Mei menghela napasnya, ia bisa mengerjakan soal ujian dengan mudahkan, dan menganggap pertanyaan seperti pertanyaan ujian.


"nona, kenapa anda selalu menghindar dari kami?"


"nona, apa nada bisa menjelaskan kejadian dua tahun lalu?"


"apa dia pacar anda?"


pertanyaan terakhir membuat Taki terkejut. Semakin bertambahnya pertanyaan, semakin kuat Mei mengepalkan tangannya.


"apa kalian ingin mencampuri kehidupan saya demi pekerjaan kalian, bukankah sama dengan menukar kehidupan saya dengan uang?"


"tapi ini pekerjaan ka-"


"sudah dua tahun itu berlalu dan sudah di tutup juga kasusnya, tapi kalian ingin membukanya? Carilah berita yang lebih menarik," jawab Mei dengan tegas.


Tangan yang mengepal itu pun perlahan terbuka, Mei menghelai napasnya. Namun banyaknya jumlah wartawan saling dorong-mendorong. Hingga akhirnya brukkk


Mei terjatuh akibat beberapa wartawan yang saling berdorongan, hingga menyebabkan keheningan. Tidak lama dari beberapa orang memakai setelan bodyguard datang menyingkirkan para wartawan.

__ADS_1


"nona, apa kau baik-baik saja?" tanya salah pengawal.


"bujankah tuan Makoto sudah melarang anda untuk tidak bertemu dengan wartawan?!" tanya Bulter yang, yang menampakan diri sekumpulan para pengawal.


Mei berusaha bangkit berdiri walaupun kakinya sedikit nyeri, namun ia keilangan keseimbangan yang membuat Taki sigap membantu Mei.


"Bulter Yang," panggil Mei.


Bulter Yang mengerti dengan maksud tersebut, dan mendekati Mei.


"Taki, sebaiknya anda kembali, biar kami yang mengurus nona."


"Baiklah," ucap Taki pada Bulter Yang, segera Taki meninggalkan mereka.


****


Keheningan menyelimuti ruang tersebut. Bulter Yang, yang sibuk mengobati luka Mei. Namun keheningan tersebut pecah setelah Bulter Yang mengtahui telapak tangan Mei. Seperti orang tua yang khawatir dengan anaknya, begitulah perasaan Bulter Yang.


"sebaiknya anda jangan mengulangi lagi," ucap Bulter Yang mengobati telapak tangan Mei.


"Mei-chan," panggil Makoto dari sebuah ipad yang memanggil video call.


"kenapa kau tidak mengikuti aturanku?" tanya Makoto.


Mei menyingkirkan tangannya dari bulter Yang sembari berkata "maaf" yang hanya dapat didengar Bulter Yang. Mei bangkit berdiri, ia mengatakan "maaf" pada siapapun yang mendengar. Ingin sekali ia pergi kekamar tidurnya, namun ia urungkan niatnya.


"aku tidak ingin menghindar lagi, aku lelah seperti dikejar oleh penjahat. aku tidak ingin."


"Mei-chan, aku tidak marah padamu, aku juga tidak membencimh, tapi asalkan jika kamu baik-baik saja, Mei-chan yang aku takuti jika...jika kamu tidak kuat menahan rasa bersalahmu."


"ada hal penting yang harus ku urus, Mei-chan ingat kata-kataku," Makoto mengakiri percakapan tersebut


"tinggalkan saya sendiri disini,"

__ADS_1


"baik nona,"


Segera para pengawal dan Bulter Yang meninggalkan Mei sendiri di apartementnya. Mei memegang kepalanya yang terasa pusing, hingga ia jatuh terjatuh.


__ADS_2