
Esok pagi Taki memutuskan untuk pergi ke rumah Daisuke, mengisi kekosongan harinyanya. Semalam dia tidak bisa tidur hanya karena terus memikirkan Mei. Taki keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi. Ia melihat sekeliling rumah yang nampak hening dan sunyi.
"Tuan muda anda ingin pergi lagi?"
Tanya Bulter Gin selaku kepala pelayan keluarga Yoshida.
"ya, aku akan berkunjung ke rumah Daisuke." Jawab Taki.
"Tuan muda, biar saya antar."
"tidak, aku akan naik bis saja."
Taki segera meninggalkan rumah tersebut. Bulter Gin kagum dengan Taki, walau ia adalah anak tunggal dan satu-satunya yang di sayangi oleh Tuan dan Nyonya Yoshida, namun ia tidak nemiliki karakter manja yang menjijikan.
****
Sesampainya di rumah Daisuke, rumah yang begitu sederhana. Taki mulai memasuki rumah tersebut, ia melihat sekeliling.
"sangat berbeda dengan rumahmu," ucap Taki.
"aku tidak memiliki rumah," balas Taki.
"lalu kau tinggal di mana Tuan Yoshida?" tanya Daisuke gemas.
"aku hanya menumpang di rumah orang tuaku" jawab Taki.
"kenapa kau datang kemari?" tanya Daisuke mengalihkan topik pembicaraan.
"aku hanya ingin berkunjung"
Daisuke mulai menyilangkan kakinya, memasang wajah serius pada Taki. Taki mengerutkan keningnya menatap temannya tersebut.
"kau belum menjelaskan padaku kenapa kau rela menolong gadis itu?"
Tanya Daisuke, tidak heran jika ia bertanya seperti itu. Mei gadis yang panda, dingin, dan acuh tak acuh. Beberapa teman di dekatnya ingin mendekatinya, namun ia selalu menjauh dari mereka. Taki hanya diam mendengar pertanyaan Daisuke. Ia juga tidak tahu mengapa ia sangat ingin menolong Mei.
"hey kawan! Apa kau menyukainya?" tanya Daisuke sembari menepuk bahu Taki.
"apa kau bercanda?" ucap Taki dengan wajah yang mulai merona.
__ADS_1
"apa kau tahu, sudah banyak laki-laki di kelasnya bahkan para senior dan kelas tetangga menyatakan cintanya, namun Mei mencampakan mereka,"
"apa kau pernah menyatakan perasaanmu padanya?" tanya Taki menggoda emosi.
"tidak!" bohong Daisuke dengan wajah merona.
Taki menyandarkan kepalanya, ia menghela napasnya. Bertanya-tanya pada dirinya apakah ia menyukai Mei. Ia selalu melindungi, menolong, dan memikirkan gadis itu.
****
Hening dan sunyi, suasana yang disukai Mei. Ia asik membaca di perpustakaan kediaman tersebut. Ditambah angin yang berhembusan memaluli jendela.
Cklek
Makoto memasuki ruangan tersebut, ia melangkah menghampiri Mei.
"Mei-chan, ayo makan." ucapnya.
Mei menutup buku yang ia baca, meletakan buku tersebut di meja. Ia mengikuti langkah Makoto menuju ruang makan. Meja yang begitu luas, kini hanya ditepati oleh dua orang beserta makanan yang tidak terlalu banyak.
"Mei-chan," panggil Makoto.
"ya?"
"cih..." decak kesal Mei. "Apa bedanya dengan tahun lalu?" tanya Mei.
Makoto menghelai napas sejenak "Kelak kau akan mengerti, apa yang aku lakukan." ucap Makoto santai.
"Bulter Yang, besok aku akan menunggang kuda, belajar memanah, dan bermain piano. buatlah jadwalku." ucap Mei datar.
"tidak! kau tidak boleh melakukan itu!" bantah Taki.
Para pelayan beserta Bulter Yang mulai melirik pada kakak beradik tersebut, sembari mereka melakukan pekerjaan masing-masing. Perkelahian kakak beradik yang sudah lama tidak muncul, kini muncul kembali.
"Kau tidak mengerti apa yang aku lakukan tahun lalu."
"oh ya? Kau hanya membaca buku dan bermain piano, belajar dan menyendiri. kau yang tidak mengerti apa yang aku lakukan." balas Makoto.
"Benarkah? kau hanya mengurus bisnis dan mencari tahu pelaku-" Nada yang datar kini mulai mengecil.
__ADS_1
Keadaan yang begitu menegangkan kembali menjadi sunyi. Mei menaruh sendok kepiring. Wajah Makoto yang datar berubah menjadi kecewa.
"Mei-chan?" tanya Taki.
Mei bangkit dari duduknya, ia mulai melangkah menaiki anak tangga menuju lantai dua.
"Tuan muda?" tanya Bulter Yang kecewa.
"aku yang kurang berhati-hati." jawab Makoto.
****
Cahaya bulan sudah berganti dengan matahari yang mulai menerangi bumi ini. Suhu yang mulai memanas pada siang hari. Waktu menujukan pukul sembilan pagi di kota Tokyo, Jepang.
Tokk! Tokk! Tokk!
Ketukan pintu terdengar dari luar kamar Mei. Namun tidak ada respon dari sang empu kamar. Kesunyian dan cahaya matahari yang menghiasi ruangan tersebut.
Cklek
Hingga sang pengetuk yang harus membuka sendiri. Terlihat Mei sedang tertidur diranjangnya. Makoto hanya berjalan tanpa suara, ia tidak ingin mengagetkan Mei. Hingga ia tiba berada di samping adiknya, ia duduk sembari membawa sebuah piring berisi beberapa potongan apel.
"Mei-chan," panggil Makoto lembut.
Mei perlahan mulai membuka matanya, menatap dingin pada Makoto. Ia memasang posisi duduk. Makoto mulai menyondorkan piring tersebut sebagai permintan maaf.
"apa kau terbangun lagi di tengah malam?" tanya Makoto.
"Apakah sebuah mimpi dapat menghantui?"
"entahlah,"jawab Makoto.
Mei mulai memakan potongan apel tersebut. Apel buah yang dapat menenangkan pikirannya.
"bersiaplah kita akan pergi untuk mengisi waktumu hari ini," ucap Makoto sembari beranjak dari duduknya. Alis yang terangkat dari Mei seolah-olah memberi sebuah pertanyaan pada Makoto.
"kita akan pergi kesana, menunggah kuda, memanah, dan bermain musik."
Mei segera beranjak dari ranjangnya. Salah satu tempat bersantai milik keluarga Matsuda, terletak didaerah kaki Gunung Fuji. Sikap dinginnya pada orang lain menjadi meleleh ketika ia bersama orang yang ia sayangi, orang yang ia harap tidak mengucapkan perpisahan untuk selamanya. Hanya saja satu tahun saat Makoto pergi membuat ia menjadi dingin, hingga sikap hangatnya pada Bulter Yang tidak lagi ada, namun kedatangan Makoto membuat sikap dingin Mei pada Bulter Yang dan pelayan Matsuda meleleh.
__ADS_1
ilustrasi