
"Ditanyain malah diem lagi, kamu siapa? Kenapa berani masuk ke ruangan Tuan Dewa?" kata Vania.
Di merupakan sekretaris baru disana, jadi dia belum mengenal Zoya karena ia juga baru bekerja satu bulan ini. Sedangkan Zoya semakin mengernyitkan dahinya melihat tingkah wanita itu.
"Oh, memangnya kenapa kalau aku masuk keruangan...."
"Nggak usah banyak ngomong kamu, sebaiknya kamu keluar kalau nggak mau atasan saya marah" Vania langsung menyela begitu saja karena tak berpikir kalau Zoya adalah salah satu wanita yang akan menggoda Dewa.
Karena tak jarang memang ada wanita-wanita yang sering mencari Dewa hanya untuk alasan pribadi. Dan Vania tidak ingin hal-hal seperti ini menganggu pekerjaannya, toh dengan begini Dewa pasti akan bangga karena dia sudah lebih dulu menyingkirkan para wanita penggoda ini, pikir Vania.
"Kamu yang harusnya jangan kurang ajar! Aku kesini ingin mengantarkan makan siang untuk suamiku" kata Zoya kesal tentunya karena wanita ini malah mengusirnya.
"Suami? Maksudmu Tuan Dewa?" kata Vania menatap penampilan Zoya dari atas sampai bawah.
"Siapa lagi?" kata Zoya hanya melirik malas pada wanita yang tak tau asal usulnya ini.
"Hahaha....Jangan ngada-ngada kamu, saya nggak akan tertipu dengan trik macam itu. Sekarang pergi dari sini, Tuan Dewa sedang nggak bisa di ganggu" kata Vania tak percaya karena berpikir kalau Zoya hanya membual saja.
"Kalau aku tidak mau, kau mau apa memangnya?" kata Zoya justru menantang, jika harus ribut dia juga siap meladeninya, rasanya sudah lama sekali dia tak mencari ribut dengan orang lain.
"Berani sekali ya kamu, aku akan memanggilkan mu satpam kalau kamu tidak mau pergi dari sini" kata Vania langsung melangkahkan kakinya mendekati Zoya bersiap untuk menyeret wanita itu pergi.
"Jangan coba-coba" kata Zoya memperingatkan wanita itu untuk tidak menyentuh tubuhnya.
"Apa? Udah salah, belagu lagi" kata Vania mulai tak sabar dengan tingkah Zoya, ia langsung saja menarik tangan Zoya agar bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Kau pasti akan menyesal sudah melakukan ini padaku" kata Zoya menarik tangannya kembali dengan kasar.
"Kamu ini emang benar-benar ya, Ayo keluar sekarang" kata Vania terus saja menyeret Zoya dan mendorongnya sedikit kasar hingga hampir saja membuat Zoya tersungkur kalau saja tidak ada sosok pria yang menangkapnya.
Zoya langsung menatapnya, melihat Dewa yang memancarkan aura kemarahannya yang kental sekali. Namun Dewa tidak melihat ke arahnya, melainkan menatap Vania dengan sorot mata tajam seperti elang.
"Dewa" kata Zoya membuat perhatian Dewa teralihkan.
"Apa kau tidak apa-apa?" kata Dewa dengan suaranya yang menahan amarah.
"Aku...
"Tuan Dewa, wanita ini sudah lancang masuk kedalam ruangan mu, saat aku menyuruhnya keluar dengan cara baik-baik, dia malah menolaknya" kata Vania langsung saja mencari muka di depan Dewa, ia melirik Zoya dengan sinis.
Dewa semakin mengetatkan rahangnya ia membantu Zoya agar berdiri dengan benar dan melihat apakah ada bagian tubuh istrinya yang terluka.
"Ya, wanita ini tadi sudah lancang masuk kedalam ruangan Tuan, bukankah itu hal yang sangat tidak sopan? Aku sudah menyuruhnya pergi dengan cara baik-baik, tapi dia malah marah-marah dan menolak pergi, jadi aku terpaksa bersikap kasar padanya" kata Vania lagi.
"Kau mendorongnya dengan sangat kasar tadi?" kata Dewa terdengar biasa, namun Zoya tau kalau Dewa ini sudah sangat marah. Ia bahkan terus menatap Vania tajam namun Vania tidak menyadarinya.
"Tidak, dia saja yang sok lemah" kata Vania entah kenapa benci sekali melihat Zoya.
Dewa mengangguk singkat, ia lalu berjalan mendekat ke arah Vania yang mendadak gugup karena Dewa mendekatinya. Ia pikir Dewa akan berterimakasih padanya, tapi yang dilakukan Dewa justru membuat Vania kaget, yaitu Dewa mendorong tubuh Vania dengan keras hingga ia jatuh terduduk.
"Aduh.....Kenapa kau mendorongku Tuan?" kata Vania syok.
__ADS_1
Zoya sebenarnya kaget dengan apa yang dilakukan Dewa, tapi entah kenapa ia malah merasa sangat senang melihat wajah Vania yang begitu syok itu. Rasakan! Pikirnya.
"Kau bertanya kenapa aku melakukan ini padamu?" kata Dewa tiba-tiba duduk berjongkok di depan Vania.
"Karena, kau sudah lancang mengusir istriku dan juga juga sudah berani mendorongnya dengan kasar! Apa kau tau, istriku sedang hamil dan kau hampir saja melukai anakku!" kata Dewa dengan suara keras membuat Vania hampir saja terjingkat karena rasa kagetnya.
Namun yang lebih membuat Vania kaget adalah, wanita yang baru saja di usirnya adalah istri bosnya. Sepertinya riwayatnya akan tamat hari ini juga.
"Tuan maafkan saya, saya..."
"Kau tau apa hukuman yang pantas untuk orang yang sudah berani bertindak kasar kepada istriku?" kata Dewa langsung menyela begitu saja, tak memberi jeda barang sejenak untuk Vania membela dirinya.
"Dewa" kata Zoya merasa kasihan juga melihat Vania seperti itu.
"Tidak perlu membelanya Zoya, wanita seperti dia memang sudah sepantasnya mendapatkan hukuman. Sekarang kemasi semua barang mu dan tinggalkan kantor ini, mulai saat ini, kau aku pecat!" kata Dewa dingin.
"Tuan jangan pecat saya Tuan, maafkan saya Tuan, Nyonya, maafkan saya, saya tidak tau kalau Nyonya adalah istri anda" kata Vania mengiba, dia benar-benar tak tau kalau Zoya itu adalah istrinya Dewa.
"Kalaupun dia bukan istriku, bukan berarti kau bisa bersikap seenaknya seperti itu. Vania, apa kau pikir aku tidak tau apa yang selama ini kau lakukan selama bekerja disini? Kau pegawai baru yang sangat arogan, hanya karena posisimu lebih tinggi dari yang lainnya, kau bisa dengan seenaknya saja bersikap seperti itu" kata Dewa memang sudah sering melihat sikap arogansi Vania kenapa pegawai yang lebih rendah darinya dan Dewa sangat tidak menyukai hal itu, tapi Vania juga wanita yang cerdas dan sangat cocok menjadi sekretarisnya, maka dari itu dia masih mempertahankannya, tapi kali ini tindakannya sungguh keterlaluan.
"Bayu, bantu wanita ini mengemasi barangnya, dan pastikan aku tidak akan bertemu lagi dengannya" kata Dewa langsung menarik lembut tangan Zoya dan mengajaknya masuk ke dalam ruangannya.
"Kau benar-benar baik-baik saja kan? Apa ada yang sakit?" Dewa mengajak Zoya untuk duduk di sofa lalu ia mengecek keseluruhan tubuh Zoya.
"Aku tidak apa-apa Dewa, tadi dia mendorongku tidak terlalu keras, aku hanya tidak bisa menjaga keseimbangan ku" kata Zoya meyakinkan Dewa kalau dia baik-baik saja, ia merasa keputusan Dewa cukup keterlaluan jika harus sampai memecat Vania, lagipula wanita itu memang tidak tau siapa dirinya sebelumnya.
__ADS_1
Happy Reading.
Tbc.