I'M FINE

I'M FINE
Kabur.


__ADS_3

Leon menarik tangan Zoya dengan kasar, kemarahannya sudah di ubun-ubun karena tingkah Zoya yang kembali menipunya. Lengannya kini bahkan masih sangat sakit akibat tusukan jepit rambut itu.


"Seharusnya aku tak percaya padamu wanita licik" kata Leon menatap Zoya bengis dengan cepat ia mendorong tubuh Zoya hingga wanita itu kembali terhempas ke ranjang.


Zoya sangat takut dan panik sekali, ia memundurkan tubuhnya sejauh mungkin dari Leon dan tanpa berpikir panjang, Zoya mengambil lampu tidur yang berada disamping ranjang dan memukulkannya ke kepala Leon dengan keras hingga pria itu langsung pingsan seketika.


Zoya kaget melihat kepala Leon yang berdarah, tapi ia tak mau memikirkannya, ia harus secepatnya pergi dari sini. Zoya bergegas keluar kamar, tapi ia menghentikan langkahnya sejenak saat melihat tas yang berisi uang tadi tergeletak di sofa, Zoya segera mengambilnya dan membawanya keluar.


Sesampainya di depan pintu, Zoya mengintip untuk melihat keadaan luar. Dan benar saja ada tiga anak buah Leon yang berjaga di luar. Zoya kembali memutar otaknya, ia harus bisa mengelabuhi anak buah itu segera. Zoya membuka pintu kamar itu sedikit, ia kemudian menjauhkan dirinya dari pintu lalu menjatuhkan hiasan dengan keras.


Pranggg!!!!!


"ARGHHH.....TOLONGG! BOS KALIAN PINGSAN!!!!!" Zoya berteriak sangat keras hingga para penjaga di luar mendengar suaranya dan kaget mendengar kalau bos mereka pingsan.


Tanpa berpikir panjang, para penjaga itu segera masuk kedalam untuk memeriksa keadaan. Melihat semua orang yang sudah masuk, Zoya langsung berlari keluar dan mengunci pintunya dari luar.


BRAK!!!


"Hei, Wanita itu kabur!" teriak penjaga yang melihat Zoya kabur.


"Sial! Cepat kejar dia, Aku yang akan mengurus bos, dia sepertinya terluka parah" kata penjaga lain ikut kaget melihat kondisi atasannya yang berdarah itu.


"Brengsek! pintunya di kunci dari luar" kata penjaga tak bisa membuka pintu.


"Wanita itu memang kurang ajar! Telepon yang lainnya dan tangkap wanita itu" perintah penjaga yang sepertinya ketua dari mereka.


******


Zoya berlari sekuat tenaga, ia tak perduli lututnya yang terasa ingin patah karena sudah berlari sangat jauh, ia harus secepatnya pergi sejauh mungkin dari hotel itu. Jalanan malam itu juga sudah sangat sepi karena kini sudah jam empat pagi. Zoya menghentikan langkahnya karena merasa tak sanggup lagi berlari.


Ia menatap sekelilingnya dan bernafas lega saat menyadari kalau lokasinya sudah dekat dengan kontrakannya.

__ADS_1


"Sialan! Gara-gara Leon sialan aku harus lari kayak gini, Kakiku sakit sekali" gerutu Zoya kesal dan juga sangat lelah rasanya.


Zoya kemudian melanjutkan langkahnya sampai tiba di kontrakan, ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke kasur dan ingin sekali tidur. Baru saja ia memejamkan matanya, Zoya mendengar pintu ruang depan di buka, Zoya langsung waspada.


"Dewa!!" ucap Zoya mengendurkan bahunya yang tegang saat melihat sosok Dewa yang masuk kedalam kamar.


"Kau sudah bangun?" tanya Dewa heran melihat Zoya yang masih terjaga itu. Biasanya jika dia pulang, Zoya masih berkelana di alam mimpinya.


"Ya, aku mendengar suaramu makanya aku bangun" kata Zoya berbohong tentunya karena tak ingin Dewa tau apa yang sudah di perbuatannya semalam.


Dewa tak mengatakan apapun, ia membuka jaketnya dan menggantungkannya di gantungan, ia sangat lelah sekali karena terus saja bergadang selama dua minggu penuh.


"Capek banget ya?" kata Zoya.


"Ya, aku mengantuk sekali. Ini masih terlalu pagi, kamu tidur lagi aja" kata Dewa merebahkan dirinya di samping Zoya.


Zoya sedikit menggeser tubuhnya karena tempat tidur itu cukup sempit, ia berbaring menatap Dewa yang memejamkan matanya dengan tangan berada di atas kepala.


"Pasti lelah, tapi mau kerja apa lagi? Ijazah aku cuma bisa dapat pekerjaan ini" kata Dewa menjawab dengan mata yang masih terpejam.


"Apa kau tidak ingin kuliah lagi?" pertanyaan Zoya itu membuat Dewa membuka matanya dan melirik wanita itu.


"Kuliah mau pakai apa? Daun?" kata Dewa sedikit sinis jika menyangkut hal itu.


Ia sudah tak ada harapan lagi untuk kuliah dan tak ingin lagi mengenal dunia perkuliahan. Karena ambisinya yang ingin menjadi siswa terbaik di universitas justru membuat dirinya jatuh kedalam jurang mematikan hingga membuat seluruh masa depan yang dibangunnya hancur lebur.


"Kau kan sudah bekerja, Kuliah juga nggak setiap hari, atau kau bisa mendaftar bea siswa di universitas lain" kata Zoya lagi.


"Mendatar bea siswa? Untuk apa? Untuk di permalukan lagi seperti apa yang dilakukan kakakmu?" kata Dewa melirik Zoya dengan senyum sinisnya.


Zoya menghela nafas pelan. "Aku tau kau mungkin trauma dengan hal ini, tapi Dewa kau harus memikirkan masa depanmu juga, apa kau ingin terus hidup begini saja? Apa kau tidak ingin memiliki kehidupan yang lebih baik?" kata Zoya.

__ADS_1


"Tidak ada kehidupan yang baik, hanya orang yang mempunyai uang banyak yang memiliki kehidupan yang baik" kata Dewa.


"Jangan seperti itu Dewa, kau tidak boleh patah semangat seperti ini, setidaknya jika tidak untuk dirimu, kau bisa melakukan ini demi anakmu nanti" kata Zoya langsung mendapatkan lirikan tajam dari Dewa.


"Anak?" Dewa mengulangi kata itu karena merasa tergelitik jiwanya.


"Iya, Kau pasti tidak ingin anakmu nanti juga mendapatkan perlakuan tak adil seperti apa yang kau alami bukan? Itu sebabnya kau harus kuliah dan memiliki pekerjaan yang lebih baik" kata Zoya entah kenapa mendadak sok bijak seperti ini.


"Anakku? Bagaimana aku bisa mendapatkan anak?" kata Dewa merubah posisi tidurnya hingga menghadap ke arah Zoya.


"Tentu saja kau harus membuatnya" kata Zoya enteng.


"Membuat dengan siapa?"


"Siapa lagi kalau bukan istrimu? Kau membuat dengan asal wanita juga tak masalah, dasar aneh" kata Zoya sepertinya lupa kalau dia sekarang adalah istrinya Dewa.


Dewa tersenyum tipis mendengar ucapan Zoya. Ia kemudian mendekatkan dirinya pada Zoya hingga membuat wanita itu kaget.


"Hem, idemu bagus juga. Baiklah, aku akan membuatkan anak" bisik Dewa menghembuskan nafasnya hingga menerpa wajah Zoya.


"Kau...kau mau apa?" kata Zoya terbata, ia sangat gugup karena posisinya yang sangat dekat dengan Dewa.


"Kau bilang aku harus punya anak, dan kau adalah istriku, jadi aku harus membuatnya denganmu bukan?" bisik Dewa menatap dalam-dalam wajah Zoya sebelum menyentuhkan bibirnya ke bibir Zoya.


Perlahan ia mendidih tubuh istrinya dan terus menyatukan bibir mereka, tangannya bergerak liar menggerayangi tubuh lembut Zoya hingga membuat seluruh tubuh wanita itu meremang.


Zoya memejamkan matanya saat merasakan sentuhan yang di berikan Dewa, ia merasa sesuatu ingin meledak dalam dirinya saat Dewa menyentuh, me ra ba dan menjelajahi tubuhnya dengan gerakan lembut penuh pemujaan. Inikah saatnya?


Happy Reading.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2