
Zoya terdiam menatap Dewa yang menunggu jawaban darinya itu, pria itu pasti curiga dia punya uang banyak seperti itu. Tapi ia juga tak mungkin jujur kalau mendapatkan uang ini dari taruhan balapan mobil.
"Kenapa kau diam? Kau dapat uang itu darimana?" kata Dewa semakin mendesak.
"Baiklah, aku akan menjawab. Aku mendapatkan uang ini karena baru saja menjual ponselku" kata Zoya.
"Benarkah? Lalu ponsel siapa yang kau bawa?" kata Dewa masih tak percaya.
"Hah! Kau terlalu banyak bertanya, ponselku itu ponsel mahal jadi aku bisa menjual dan membeli ponsel baru yang lebih murah. Sudah, jangan menggangguku, aku mau makan. Apa kau lupa kalau kau baru saja menguras habis tenagaku, sekarang aku butuh asupan nutrisi yang banyak" kata Zoya membahas hal lain agar Dewa tidak terus mencurigainya.
Dan benar saja, Dewa sudah tak menatap Zoya dengan curiga, ia malah mengembangkan senyumannya yang manis karena ingat ulahnya yang membuat Zoya kewalahan melayani hasratnya.
"Kau benar, makanlah yang banyak karena aku tidak berjanji untuk tidak menghabiskannya lagi" kata Dewa mengerlingkan matanya menggoda.
"Enggak, aku nggak mau lagi" kata Zoya mendengus sebal, miliknya saja kini masih perih tapi Dewa sudah ingin meminta lagi.
"Kita lihat saja nanti, Sekarang makan saja yang banyak, apa mau aku suapi...Aaa.....?" kata Dewa mengiris bebek peking miliknya dan menyodorkan pada Zoya.
Zoya mencibir pelan tapi tetap membuka mulutnya untuk menerima suapan Dewa.
"Bagaimana? Apakah enak?" tanya Dewa.
"Enak, Aku mau lagi, Aaa ......" kata Zoya malah ketagihan di suapi oleh Dewa.
Tapi Dewa tak keberatan, ia mau saja menyuapi Zoya dengan telaten sampai makanan itu tandas. Tanpa mereka sadari jika ada seseorang yang sejak tadi menatap keduanya dari sudut ruangan.
"Apakah itu memang benar dia?" tanya seorang pria paruh baya terus menerus menatap Dewa dari kejauhan.
"Iya Paman, Aku yakin kalau dia yang kita cari, Dia punya tanda lahir itu, Bukankah Paman tau kalau tanda lahir itu bukan orang sembarangan yang memilikinya?" kata pria muda yang pernah menabrak Dewa beberapa saat lalu.
Pria paruh bay itu terdiam, dalam hatinya ia membenarkan perkataan pria muda itu. "Dia sangat mirip dengan ibunya" kata pria paruh baya terdengar lirih.
"Lalu, apalagi yang Paman ragukan?" kata pria muda.
"Entahlah, Coba cari tau saja tentang anak itu dan aku ingin informasi lengkap sekecil apapun itu" kata pria paru baya lagi.
"Sudah aku lakukan Paman" kata pria muda membuat pria paruh baya langsung menatapnya.
__ADS_1
"Kau memang sangat bisa di andalkan Al" kata pria paruh baya itu tampak tersenyum bangga. Tapi sedetik kemudian ia kembali menatap Dewa dan pikirannya menerawang jauh entah kemana.
******
"Dewa, Kita mau kemana?"
Setelah acara makan selesai, Dewa segera mengajak Zoya jalan-jalan di taman kota. Mereka berdua menyusuri jalan setapak yang di temani temaramnya warna senja yang indah. Tak banyak obrolan antara keduanya, namun tangan mereka terus saling menggenggam. Terkadang kita memang tak perlu banyak bicara, hanya perlu diam namun perasaan mereka tersalurkan.
"Ke taman kota, Biasanya kalau malam minggu ada pasar malam" kata Dewa tak punya ide untuk mengajak Zoya kemana.
"Pasar malam? Wah, itu pasti seru sekali, Ayo kita kesana" kata Zoya bersemangat mendengar pasar malam, ia tak pernah kesana sebelumnya karena di besarkan menjadi anak orang kaya, Zoya hampir tak pernah menginjakkan kakinya di tempat seperti ini.
Dulu pengasuhnya jika Zoya ingin pergi bermain atau apa, mereka pasti akan mengajaknya ke mall atau taman hiburan. Jadi mendengar Dewa akan mengajaknya ke pasar malam ia sangat bersemangat sekali.
"Kau tidak keberatan?" Dewa sedikit mengernyitkan dahinya melihat Zoya yang bersemangat seperti itu, ia malah ingat dulu Tara sangat kesal jika dia ajak ke tempat seperti ini.
"Keberatan kenapa? Disana pasti seru, aku sudah tidak sabar ingin sampai kesana" kata Zoya dengan senyum sumringahnya membuat Dewa tertular akan senyuman itu.
"Baiklah, kita akan kesana. Ini kencan pertama kita" kata Dewa tersenyum sendiri mendengar ucapannya.
"Kencan?" Zoya mengulangi kata itu.
"Tidak, aku tidak pernah berkencan" kata Zoya jujur saja.
"Kau juga tidak pernah punya pacar?" kata Dewa sedikit tak percaya kalau wanita si cantik Zoya tidak pernah berkencan.
"Kau bertanya atau mengejekku? Aku tidak pernah berkencan berarti aku juga tidak pernah punya pacar, Dasar menyebalkan" kata Zoya mencebikkan bibir mungilnya sebal.
"Jangan memasang wajah seperti itu" kata Dewa justru tersenyum melihat wajah Zoya yang sangat menggemaskan itu.
"Kenapa memangnya?" kata Zoya masih dengan nada sebalnya.
"Karena aku tidak tahan untuk tidak menciummu disini" bisik Dewa mendekatkan wajahnya di telinga Zoya.
Wajah Zoya seketika memerah, ia melirik Dewa yang berada sangat dekat dengannya. "Apaan sih" kata Zoya salah tingkah.
"Aku serius, Aku sudah tak tahan, apakah aku boleh meminta izin menciummu?" kata Dewa semakin membuat salah tingkah.
__ADS_1
"Enggak, ini tempat umum nanti banyak orang yang lihat" kata Zoya langsung menolak ide konyol itu, lagipula kenapa sih harus bertanya dulu, kalau mau mencium biasanya juga langsung saja, pikir Zoya.
"Jadi kau mau melakukannya di tempat sepi" kata Dewa menarik lembut pinggang Zoya hingga tubuhnya menempel erat.
"Dewa, Tidak bukan begitu, aku..." Zoya menatap sekelilingnya yang sangat ramai itu.
"Jangan pikirkan mereka, Aku serius ingin menciummu" kata Dewa tanpa Zoya duga langsung mencium bibirnya dengan cepat.
Mata Zoya membesar karena tingkah impulsif Dewa itu, ciuman itu hanya sekilas tapi semua orang pasti melihatnya, mereka tidak buta.
"Terimakasih, kamu selalu luar biasa" kata Dewa langsung mendapatkan hadiah pukulan keras di lengannya.
"Kau gila! Semua orang melihat kita, aku malu" kata Zoya benar-benar malu sekali, ia menenggelamkan wajahnya di dada Dewa karena tak berani menatap orang-orang yang kini juga menatap keduanya itu.
Dewa malah semakin senang dan memeluk tubuh Zoya lalu membawa wanita itu pergi dari sana. Meninggalkan orang-orang yang tampak saling berbisik membicarakan mereka, ada juga yang merasa momen itu romantis dan menggemaskan.
"Kau menyebalkan" seru Zoya mencubit pelan dada Dewa.
"Biarkan saja, aku suka" kata Dewa santai saja.
"Jangan lakukan itu lagi" kata Zoya.
"Kenapa? tidak ada yang salah kan? Kita berdua juga sudah menikah jadi sah-sah saja" kata Dewa enteng.
"Ya, tapi jangan di tempat umum juga" kata Zoya lagi.
Dewa hanya tersenyum kecil. "Sudah jangan kesal, kita sudah sampai di pasar malam, Ayo kita berkencan"
Happy Reading.
Tbc.
Bonus Visual Dewa dan Zoya nih.....
__ADS_1