
Malam sudah cukup larut ketika Zoya kembali ke kamar hotel, ia merasa tubuhnya sangat lelah sekali karena terus berdiri untuk menyalami para tamu undangan yang mengalir tiada henti. Zoya segera melepaskan gaun pengantinnya yang terasa sangat berat itu, ia juga langsung membersihkan dirinya dan berganti baju yang lebih nyaman untuk digunakan untuk tidur.
Saat Zoya keluar dari kamar mandi ia kaget saat tiba-tiba tubuhnya dipeluk oleh seseorang dari belakang.
"Bryan!" seru Zoya berontak untuk melepaskan dirinya.
"Kau wangi sekali" kata Bryan malah mengeratkan pelukannya dan menciumi tengkuk Zoya yang memabukkan.
"Lepaskan aku" kata Zoya mulai panik. Ia ingat kalau sekarang Bryan adalah suaminya, pria itu pasti akan meminta haknya malam ini.
"Mau kemana? ini malam kita berdua" kata Bryan semakin berani menyentuhkan tangannya pada tubuh Zoya tapi dengan cepat Zoya menepisnya.
Sungguh ia belum rela jika tubuhnya disentuh pria lain selain Dewa. Tapi hal itu sepertinya memancing amarah Bryan karena tak terima dirinya ditolak istrinya.
"Cukup! Sudah cukup selama ini memberimu kebebasan! Malam ini kau harus mau melakukannya denganku" kata Bryan melepaskan dirinya dari Zoya lalu menarik tangan wanita itu dan membawanya ke ranjang yang besar.
"Bryan, aku mohon jangan lakukan ini dulu. Aku sangat lelah hari ini" kata Zoya ketakutan saat melihat sorot mata Bryan.
"Sayangnya aku tidak butuh persetujuan darimu" kata Bryan tak perduli Zoya mau menerima dirinya atau tidak. Ia sudah dibuat mabuk kepayang oleh wanita ini yang sangat susah di dapatkannya ini. Sekarang wanita ini sudah sah menjadi istrinya dan ia harus melakukan hal yang bahkan sudah memenuhi otaknya setiap malam.
"Jangan Bryan, tolong" kata Zoya menjauhkan dirinya dari Bryan.
Dengan kasar Bryan menarik kaki Zoya hingga wanita itu kembali dekat dengannya, tanpa membuang waktunya, Bryan langsung me lu mat bibir tipis Zoya, ia memegang kedua tangan Zoya agar wanita itu tidak bisa lolos.
Zoya menggelengkan kepalanya berusaha menghindari ciuman Bryan dibibirnya, Ia berontak seperti orang gila membuat Bryan cukup kesusahan. Bryan menurunkan ciumannya ke leher Zoya dan tanpa ragu merobek baju tidur Zoya.
"Argh....lepaskan aku brengsek!" teriak Zoya terus mendorong Bryan.
__ADS_1
Bryan tampak begitu emosi melihat tingkah Zoya ini, ia kemudian menampar wanita itu dengan keras hingga sudut bibirnya robek.
"Diam! Kau sudah menjadi istriku! Jadi jangan pernah berani menolakku!" kata Bryan menarik rambut Zoya dengan keras dan kembali mencium bibir Zoya yang terluka, justru karena luka itu membuat gairahnya semakin terpancing.
Zoya tak hilang akal, ia balas mengigit bibir Bryan dengan keras hingga pria itu kesakitan dan melepaskan ciumannya. Zoya segera memanfaatkan kesempatan itu untuk menendang bagian vital Bryan dan melepaskan dirinya.
"Sialan! Jangan kabur wanita murahan" teriak Bryan sangat marah dan mengusap bibirnya yang berdarah. Ia segera berlari menyusul Zoya yang sudah kabur.
Zoya terus berlari ingin keluar kamar, tapi ia kaget saat menyadari kamar mereka sudah dikunci.
"Mau lari kemana kamu! Dasar istri kurang ajar!" teriak Bryan penuh amarah.
Zoya panik dan sangat takut, ia berjalan mundur saat Bryan mendekatinya. "Stop Bryan! Aku tidak mau melakukannya denganmu!" teriak Zoya memutar otaknya agar bisa pergi darisana.
"Kau memang wanita tidak tau diuntung! Jangan harap kau bisa lolos!" kata Bryan dengan cepat menyergap Zoya hingga wanita itu terperangkap di dinding.
Bryan kembali mencium bibir Zoya lebih kasar dari sebelumnya. Zoya pun tak tinggal diam, ia mendorong tubuh Bryan dan kembali melarikan dirinya. Hal itu membuat kesabaran Bryan habis, ia kembali menyusul Zoya dan menarik rambut wanita itu dengan kasar.
"Kau harus melayani aku!" teriak Bryan sudah sangat emosi. Ia kemudian membawa Zoya kembali ke kamar dan mendorong wanita itu dengan keras hingga tak sengaja perut Zoya mengenai pinggiran ranjang.
"Argh......." Zoya berteriak karena merasakan perutnya yang begitu nyeri. Sangat nyeri hingga ia merasa tak tahan akan rasa sakit itu. Ia tak memperdulikan Bryan yang mendekatinya. Ia hanya meringis kesakitan dan ia merasakan ada sesuatu yang membasahi dirinya, disusul darah yang mengalir dari sela kakinya. Kepala Zoya berdenyut pusing dan kesadarannya berangsur menghilang.
Bryan awalnya masih ingin memaksa Zoya, tapi ia kaget saat melihat darah yang membasahi bagian bawah Zoya. Apalagi wajah wanita itu sangat pucat seperti mayat membuat Bryan panik, kenapa Zoya bisa berdarah seperti ini. Bryan pun segera keluar untuk memanggil orang yang bisa dimintai tolong.
"Bryan? Ada apa nak? Mama baru saja ingin mengantarkan baju gantimu" kata Nyonya Ratna bingung saat melihat putranya keluar kamar dengan tergesa.
"Zoya Ma....." Bryan segera membawa Mamanya masuk kedalam kamar untuk melihat Zoya yang sudah pingsan.
__ADS_1
"Kenapa dia bisa seperti ini? Kita harus membawanya kerumah sakit. Mama akan menghubungi Tuan Davies dulu" kata Nyonya Ratna ikut panik saat melihat kondisi Zoya yang bersimbah darah.
*****
Zoya sudah dibawa ke rumah sakit, ia tersadar saat tubuhnya dipindahkan dari mobil ke ranjang rumah sakit. Ia masih merasakan nyeri di perut bawahnya, tapi tak se nyeri saat awal tadi, namun kepalanya masih begitu pusing hingga pandangannya kabur.
"Kapan terakhir anda mengalami menstruasi?" tanya Dokter ketika melakukan pemeriksaan pada Zoya.
Zoya menggelengkan kepalanya, ia tidak ingat kapan hari terakhirnya haid.
"Sebentar, saya akan mengambil alat usg dulu untuk memastikan janin anda" kata Dokter itu membuat Zoya kaget.
Janin? Itu artinya dia hamil? Ia bahkan tak tau kalau dirinya hamil. Ia malah bingung saat Dokter itu menguakkan kakinya untuk menilai pendarahannya.
"Kandungan anda bermasalah Nona, tapi untunglah bayi anda masih baik-baik saja. Nona tidak boleh stress dan harus menjaga kondisi tubuh anda. Kapan anda tau kehamilan ini?" tanya Dokter itu kini beralih disamping Zoya dan mengoleskan gel diperut Zoya.
"Saya tidak tau kalau saya hamil dok" kata Zoya antara bingung namun juga haru karena tau dia hamil.
"Anak pertama?" kata Dokter itu lagi lalu meletakkan alat usg di perut Zoya, ia memutar-mutarnya.
Zoya mengangguk cepat dan ikut terpaku menatap layar monitor yang tak bisa dimengerti apa artinya. Hanya ada sebuah bulatan kecil yang tampak berdegup, memperlihatkan bagaimana jantung janin itu terus berdenyut. Tak terasa air matanya mengalir dan tersenyum, dia tak menyangka akan ada kehidupan baru yang tumbuh di rahimnya. Makhluk kecil itu adalah buah hatinya dan juga Dewa
Mengingat sosok Dewa, tanpa sadar hati Zoya begitu nyeri. Kalau saja hubungan mereka masih seperti dulu, Dewa pasti akan senang mengetahui kabar ini. Tapi sekarang?
Happy Reading.
Tbc.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen dong kak...
Biar semangat nulisnya..hehehe