I'M FINE

I'M FINE
Apa Ayah Senang?


__ADS_3

Zoya baru saja pulang kerumahnya dengan badan dan pikiran yang sangat lelah. Kepalanya sejak tadi terasa ingin pecah karena belum tidur dari semalam, tapi kini ia kembali dihadapkan dengan sesuatu yang membuat seluruh sekujur tubuhnya menggigil.


"Apa ini Ayah?" tanya Zoya bingung.


"Bukalah, kau bisa menandatanganinya agar pengacara Ayah bisa langsung memprosesnya" kata Davies menyerahkan sebuah map kepada Zoya.


Zoya menatap Ayahnya ragu, perlahan ia membuka map itu dan membaca apa yang tertulis disana, matanya tampak membesar tak percaya dengan apa yang baru di bacanya.


"Kenapa Ayah? kenapa Ayah tega melakukan ini padaku? Aku juga anak Ayah, tapi kenapa Ayah begitu tak adil, tak puaskah Ayah selama ini melihat aku menderita, kenapa sekarang Ayah harus menyuruhku bercerai dengan Dewa! Ayah benar-benar jahat" kata Zoya berteriak meluapkan emosi yang membuat dadanya sangat sesak.


"Justru aku memikirkan masa depanmu, memangnya apa yang akan kau harapkan dari pria miskin seperti dia? Lagipula apa kau lupa janjimu padaku Zoya? Kau harus meninggalkan Dewa setelah aku memberimu pinjaman uang itu" kata Davies hanya melirik Zoya tajam.


Ya, memang mereka berdua sudah membuat kesepakatan jika Davies akan meminjamkan uang pada Zoya tapi dengan syarat, Zoya harus meninggalkan Dewa.


"Aku mencintainya Ayah, aku mencintainya, tolong izinkan aku bersama Dewa" kata Zoya lirih dan sangat putus asa.


"Cinta omong kosong, sekarang cepat tanda tangani surat itu agar semuanya cepat selesai. Setelah ini persiapkan dirimu, karena malam nanti akan ada pertemuan keluarga kita dan teman Ayah, aku harap kau mengerti Zoya, atau kalau tidak, aku bisa dengan mudah mengambil apa yang sudah aku berikan padamu" kata Davies sangat datar dan dingin, sepertinya ia memang sudah tak memiliki hati nurani sama sekali.


Zoya hanya diam menatap kepergian Ayahnya, kenapa Ayahnya begitu kejam menyuruh Zoya bercerai dengan Dewa? Pernikahan mereka bahkan baru berjalan tiga bulan, tapi kenapa kini mereka harus berpisah. Dengan tangan gemetaran, Zoya mendatangani berkas perceraiannya dengan Dewa.


"Maafkan aku Dewa" batin Zoya tak bisa membayangkan bagaimana sakitnya Dewa jika mengetahui hal ini.


Ya tuhan, kenapa cinta se bia dap ini, adakah yang lebih menyakitkan dari apa yang Zoya alami?


*****


Malam harinya Zoya sudah bersiap dengan rapi, entah apalagi yang Ayahnya rencanakan, yang jelas Zoya yakin kalau Ayahnya memang hanya ingin membuat Zoya menderita dengan menjodohkan dirinya dengan orang yang tak dikenalnya. Tujuannya apalagi kalau bukan bisnis.


"Wah, sudah datang ternyata, putri Tuan Davies memang sangat cantik sekali" puji seorang wanita paruh baya begitu melihat kedatangan Davies dan Zoya.


"Terimakasih pujiannya Nyonya Ratna, Zoya, ayo berikan salam kepada Nyonya Ratna" kata Davies dengan senyum ramahnya.

__ADS_1


Zoya hanya memasang wajah datar dan memberikan salamnya, ia sudah seperti robot yang hanya bisa bergerak tanpa nyawa, raganya berada disini tapi pikirannya melayang jauh pada Dewa. Ia sama sekali tidak mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan sebelum seorang pria muda datang ke meja mereka membuat Zoya langsung mengangkat pandangannya.


"Bryan, kamu ini darimana saja, kebiasaan banget ya suka datang terlambat. Lihatlah, kau sudah membuat calon istrimu menunggu" kata Nyonya Ratna mengomeli putranya.


Bryan awalnya memasang wajah malasnya karena akan dijodohkan, tapi begitu melihat Zoya, ia sepertinya berubah pikiran.


"Biasalah Ma, aku lagi sibuk" kata Bryan dengan gayanya.


"Dasar kamu, Ayo berikan salam kepada calon mertua mu" kata Nyonya Ratna lagi.


Bryan mengangguk dan memberikan salam kepada Davies. "Kamu sudah besar sekali sekarang, Om sampai nggak ngenalin kamu" kata Davies menepuk-nepuk pundak Bryan.


"Om bisa aja" kata Bryan tersenyum manis membuat wajahnya terlihat semakin tampan.


Tapi tak sedikitpun Zoya tertarik untuk melihatnya, ia hanya ingin semua pertemuan ini cepat selesai dan pulang untuk tidur, baginya mimpinya lebih indah daripada kenyataan yang di alaminya.


"Oh ya Bryan, kenalkan putriku, namanya Zoya" kata Davies melirik Zoya yang hanya diam.


Bryan mengulurkan tangannya pada Zoya dan langsung disambutnya saja, tapi Zoya kaget saat pria itu malah mengelus-elus tangannya membuat Zoya segera menarik tangannya dengan kasar. Tapi Bryan malah mengerlingkan matanya dengan ekspresi wajah menjijikan.


Bryan menatap kepergian Zoya dengan senyum tipis, sesaat kemudian ia juga ikut berpamitan untuk menyusul Zoya ke toilet. Ia berdiri menunggu sampai wanita itu keluar darisana.


"Kau!" seru Zoya kaget begitu melihat Bryan disana.


"Hai, apa kau sudah selesai?" kata Bryan mendekati Zoya.


"Untuk apa kau kesini?" tanya Zoya langsung waspada.


"Tidak ada, aku hanya ingin menjaga calon istriku" kata Bryan dengan santainya.


"Cih, jangan berharap apapun dari pernikahan ini, aku pastikan kau akan menyesal menikah denganku" kata Zoya melirik Bryan dengan sinis sebelum berlalu pergi darisana.

__ADS_1


Bryan justru semakin senang melihat gaya Zoya ini, jiwa pemburunya langsung bangkit dan ingin sekali menaklukkan wanita arogan yang tampak mahal itu, tapi bukankah dia sudah mendapatkannya? wanita itu akan segera menjadi istrinya.


Pertemuan malam itu segera dilanjutkan, kedua orang tua Bryan dan Davies sudah setuju kalau acara pertunangan mereka akan di adakan minggu depan, sedangkan pernikahan mereka satu bulan setelahnya.


"Bagaimana Nak Zoya? Apakah kau setuju?" tanya Nyonya Ratna.


"Terserah Ayah saja" kata Zoya sudah tak perduli lagi, menolak pun tak ada gunanya karena Ayahnya pasti akan menekannya dengan berbagai cara.


"Bagus sekali, selain cantik kamu juga anak yang penurut sayang, Bryan sangat beruntung memiliki calon istri sepertimu" kata Nyonya Ratna.


Davies terkekeh senang mendengar pujian itu, ia tampak puas karena sebentar lagi akan ber besanan dengan salah pengusaha batu bara yang begitu sukses disana. Dengan begini bisnisnya pun akan semakin bertambah besar.


"Apa Ayah senang?" kata Zoya saat mereka pulang kerumahnya.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?" kata Davies menekuk wajahnya.


"Ayah pasti senang melihat aku menderita kan? Kenapa Ayah tidak membunuhku saja dari dulu, mungkin Ayah akan semakin puas" kata Zoya memandang Ayahnya tajam.


Davies mengeraskan wajahnya mendengar ucapan Zoya. "Berhentilah bersikap kurang ajar kepada orang tua" kata Davies.


"Orang tua apa yang Ayah maksud? Orang tua yang hanya bisa membuat anaknya menderita? Iya?" kata Zoya.


"Jaga sikapmu, sebentar lagi kau akan menikah, jadi jangan sampai membuat Ayah malu karena kelakuanmu ini" kata Davies tak ingin meladeni putrinya, ia langsung pergi meninggalkan Zoya begitu saja.


"Izinkan aku menemui Dewa Ayah" kata Zoya langsung membuat langkah berhenti.


"Apa kau lupa dengan janjimu?" kata Davies bergeming tanpa menoleh pada Zoya.


"Aku tau, tapi aku mohon izinkan sekali saja aku menemui Dewa"


"Sekali saja Ayah"

__ADS_1


Happy Reading.


Tbc.


__ADS_2