I'M FINE

I'M FINE
Chapter - 24


__ADS_3

Waktu menujukan pukul tujuh malam, Tokyo, Jepang.


Mei meletakan sumpitnya, menandakan bahwa ia telah selesai makan. Ia membalikan layar ponselnya. Bunyian volume panggilan telpon ia matikan. Hingga ia mematikan ponselnya.


"Siapa yang mengubungimu?" tanya Makoto.


Mei hanya memberi tatapan dingin pada Makto.


"Apa kau takut?" tanya Makoto.


lagi dan lagi Mei hanya memberi tatapan dingin tanpa mengeluarkan kata-kata.


"Bukankah Taki temanmu?"


"ya,"


Mei beranjak dari duduknya. Ia mengambil hoverboard miliknya, dan keluar dari penginapan. Udara di kaki gunung yang menyegarkan dan dingin dan membuat ia tenang. Mei berkeliling dengan menggunakan hoverboardnya. Ia kerap melewati beberapa para staf. Membuat beberapa para staf menatapnya.


Mei mulai mengeluarkan ponselnya, ia menyalakn ponselnya. Dan melihat tiga notifikasi dari Taki. Mei hanya ingin meringankan pikiran Makoto yang memikirkan dirinya. Rasa takut masih berada didiri Mei, ia menyembunyikan dari Makoto dan yang lainnya.


"MEI! KAU PELAKUNYA, KAU PENYEBABNYA, PERMAINANKU KELAK AKAN DIMULAI, PERTAHANAN KALIAN AKAN RUNTUH, KEJADIAN DUA TAHUN YANG LALU DIKAPAL VERY, INGATLAH!!!"


Suara aneh dan mengerikan tersetel dalam ponsel Mei dan Makoto secara bersamaan. Makoto dengan sigap pergi keluar penginapan. Ia berlari mencari Mei. Sesuatu telah meretas keamanan ponselnya dan ponsel milik Mei. Ia menemukan Mei berdiri mematung diatas hoveboardnya. Para staf yang diam dan menatap Mei.


Makoto berlari mendekati Mei. Ia memegang bahu Mei, berusha menyadarkan Mei. Air mata yang mulai mengalir dipipi, Mei berjatuhan ketanah. Mei menggenggam erat ponselnya.


"apa kau juga mendengarnya?" tanya Makoto kahwatir. Para staf masih menatap dan menyaksikan dua kakak beradik tersebut.


Tangisan Mei perlahan mulai menjadi. Makoto melihat sekeliling sembari mengecek benda yang dapat melukai Mei. Namun penemuannya nihil, tidak dapat benda tajam disekitarnya.


Makoto memeluk paksa Mei, ia berusaha menenangkan Mei. Para staf mulai menonton mereka berdua. Peretas yang sangat ahli hingga dapat meretas keamaan yang diatur oleh Makoto. Perlahan Bulter Yang menghampiri kakak beradik tersebut sembari membawa sebiah kota box. Makoto mengangkat tangannya dan memberi tanda untuk Bulter Yang berhenti.


Bukan pertamakalinya bagi Makoto mendapat teror-teror tersebut, namun berbeda dengan Mei, pertama kalinya ia mendapatkan teror tersebut yang membuatnya hilang kendali.


"maaf," ucap Makoto menyuntik lengan Mei, seketika gadis itu mulai melemah dan tidak sadarkan diri. Makoto membopong Mei membawanya balik kepenginapan, dan meletakan diranjang Mei.

__ADS_1


****


"Tuan, teman anda sudah tiba." ucap Bulter Gin.


"suruh dia kekamarku,"


"baik,"


Taki hanya duduk dengan memegang stik play station, sembari menunggu Daisuke.


cklek!


Daisuke masuk kedalam kamar Taki yang terpenuhi dengan berbagai jenis game. Taki melemparkan stik play station pada Daisuke, tanpa aba-aba Daisuke menangkapnya.


"Bermainlah," ucap Taki.


Segera dua pria tersebut bermain dengan seru. Sesekali merea membicarakan sesuatu.


"Apa kau sudah tidak penasaran dengan Mei?" tanya Daisuke secara tiba-tiba.


"Mei memiliki banyak musuh, bukan hanya namun keluar Matsuda."


"ha?"


"Seiringnya waktu kau akan mengetahuinya," jawab Daisuke meniru Taki."


"Aish!.. kau ini," kesal Taki.


****


Adu duel iringan piano berada disuatu ruangan terdengar sangat profesional. Siapa lagi jika bukan Makoto dan Mei. Beiringan mereka memainkan piano yang terdengar indah dan merdu. Gadis yang merawat Winter tidak sengaja melihat kakak beradik tersebut. Ia mengintip disela-sela pintu. Hingga melodi terakhir dimainkan.


Para staf baru mendengar dan menyaksikan jika presdir Ainsoft tersebut memiliki seorang adik, pasalnya banyak orang yang mengetahui jika presdir Ainsoft tersebut tidak memiliki adik. Namun beberapa para pelayan dan para staf pertama kali melihat mereka selalu salah menganggap jika Mei adalah pacar Makoto


Makoto memutuskan untuk kembali lebih awal dengan menghilangkan kegiatan memanahnya begitu pula dengan Mei. Masih berada diruangan tersebut.

__ADS_1


"Apa kau akan tetap ingin menjadi pianis?" tanya Makoto.


Mei menganggukan kepalanya sembari memainkan beberapa melody lagu yang dibuatnya sendiri. Melody yang menggambarkan suasana sunyi hingga berujung keramaian.


"Kenapa kau ingin menjadi pianis?"


Mei perlahan menghentikan permainannya, ia menghela napasnya.


"Entahlah,"


Kini keheningan mulai menyelimuti ruangan tersebut bersamaan dengan irama jam yang menempel didinding.


"Tuan mobilnya sudah siap," ucap Bulter Yang memecah keheningan di antara kedua orang tersebut.


Makoto beranjak berdiri bersamaan Mei, keluar berbarengan dari ruangan tersebut. Hanya dua hari satu malam mereka menginap. Sungguh sulit bagi Makoto menjaga ketenangan.


"Aku akan berangkat besok," ucap Makoto.


"Apa kau akan mendengar permintaanku?" tanya Mei secara tiba-tiba membuat Makoto terheran-heran.


"Berhentilah menyuruh pengawal mengikutiku secara diam-diam," jelas Mei datar dan dingin.


Makoto membulatkan matanya, terkejut mendengar satu kalimat dari Mei. Ia sudah menyirih agar sang pengawal tidak terlihant menonjol dan ketahuan pada Mei.


"Baiklah jika kau bisa menjamin keselamatanmu,"


"Kenapa kau terlalu khawatir padaku?"


"karena kau adikku,"


"selain itu?"


"Ada banyak orang jahat yang mengincarmu,"


Jawaban yang ingin Mei dengar dari Makoto sendiri. Mei memang tahu betapa kejamnya dunia ini, namun ia selalu dilindungin hingga membuat ia merasa anak yang menonjol dan manja membuat dirinya jijik. Mei selalu kabur dari pengawasan para pengawal. Beberapa anak sebayanya banyak yang iri pada dirinya, berbalik dengan Mei yang ingin menjadi anak yang normal.

__ADS_1


__ADS_2