I'M FINE

I'M FINE
Nama Bayi.


__ADS_3

Zoya sudah selesai dibersihkan, kondisinya masih cukup lemas dan masih merasakan nyeri setelah melahirkan. Ia menunggu Dokter menyerahkan bayinya, ia sungguh tak sabar untuk menggendong bayinya.


Tak lama setelah itu, pintu ruangannya terbuka membuat pandangan Zoya teralihkan. Ia pikir itu Dewa yang membawa anak mereka, tapi ternyata dia salah, karena yang datang ternyata Anderson bersama putranya, Rayden.


"Ibu..." ucap Rayden mendekati ibunya.


Zoya tersenyum tipis seraya mengulurkan tangannya untuk mengelus pipi Rayden. Jika melihat anaknya ini, selalu saja mengingatkan Zoya kepada Dewa karena wajah mereka yang sangat mirip.


"Ibu udah nggak sakit lagi kan? Adik bayi udah lahir?" tanya Rayden.


"Sudah, Adik bayi sudah lahir. Sekarang Rayden udah resmi menjadi Kakak," kata Zoya masih dengan senyumnya.


"Sebentar lagi Adik Rayden akan dibawa kesini, berani gendong nggak?" ucap Anderson membuat perhatian Zoya teralihkan.


"Ayah, maaf sudah merepotkan Ayah yang harus menjaga Rayden," kata Zoya.


"Jangan seperti itu Nak, kita ini semua keluarga" kata Anderson merasa Zoya ini masih terlalu sungkan padanya.


Pintu ruang rawat Zoya kembali terbuka, Zoya langsung menoleh dan berharap itu Dewa, tapi ternyata bukan lagi, kali ini seorang Dokter yang membawa bayinya.


"Selamat Sore semuanya, Ini bayi Nyonya Zoya, selamat untuk kelahiran putrinya ya, putrinya sangat cantik" ucap Dokter tersenyum manis seraya menyerahkan bayi mungil yang sudah di bedong dengan menggunakan kain berwarna hijau pupus.


Zoya menerima anaknya dengan perasaan bahagia yang tak bisa ditutupi, matanya bahkan sudah berkaca-kaca saat pertama kali bisa menyentuh putrinya.


"Ibu! Ibu aku mau lihat Adik bayi" ucap Rayden melompat-lompat ingin melihat wajah Adiknya.


"Ini adiknya Kakak," kata Zoya mendekatkan putrinya kepada Rayden.


"Kenapa Adik bayi tidur? Aku mau berkenalan dengannya" kata Rayden dengan kerutan di dahinya.

__ADS_1


"Nggak apa-apa Kak. Sekarang coba Kakak kenalan" kata Zoya tersenyum melihat tingkah anaknya.


"Hai Adik Bayi, Namaku Rayden, kata Ibu kau adalah Adikku, jadi kalau besar nanti, kau harus memanggilku Kakak" kata Rayden dengan polosnya membuat Zoya dan Anderson tertawa.


"Iya Kakak, nanti jagain aku ya kalau besar" kata Zoya menirukan suara anak kecil seperti menjawab perkataan Rayden.


Rayden semakin senang mendengar hal itu, ia merasa bangga karena sekarang sudah menjadi Kakak.


"Kek, Ayo lihat Adik aku Kek, dia sangat cantik," kata Rayden menarik tangan Anderson.


"Ya dia sangat cantik, siapa namanya Zoya?" kata Anderson mengakui kalau cucu keduanya memang sangat cantik. Bahkan masih bayi saja kecantikannya sudah terlihat, bibirnya mungil dan memiliki bulu mata yang lentik, benar-benar sangat cantik.


"Aku belum memberinya nama Ayah, biarkan nanti Dewa yang memberikannya nama" kata Zoya kali ini menatap lekat wajah Ayah mertuanya, ia bisa melihat sedikit perubahan di wajah tua itu.


"Dewa kemana Ayah?" tanya Zoya langsung.


"Dewa masih ada urusan" kata Anderson singkat.


"Sebaiknya kau istirahat dulu" kata Anderson menghela nafasnya dengan berat.


"Ada apa Ayah? Apa Dewa baik-baik saja?" ucap Zoya semakin yakin kalau ada yang tidak beres, ia lalu ingat saat tadi Dewa datang, kondisi pria itu cukup acak-acakan dan Zoya sempat melihat bercak darah di kepalanya, apa yang sebenarnya terjadi kepada suaminya?


"Ayah tolong katakan yang sejujurnya, Dewa baik-baik saja kan?" kata Zoya mendesak Ayah mertuanya yang sejak tadi bungkam.


"Zoya, dengarkan Ayah. Saat ini Ayah belum bisa memberitahu apapun. Kau jaga saja kesehatan mu, ingat bayimu, dia masih butuh ASI dan kau tidak boleh stress" kata Anderson justru membuat pikiran Zoya kemana-mana.


"Tidak bisa Ayah, aku ingin tau keadaan suamiku. Dia baik-baik saja kan?" kata Zoya mulai menangis karena firasatnya mengatakan kalau Dewa memang sedang dalam keadaan yang tidak baik.


Suara Zoya yang cukup keras dan histeris itu membuat bayinya terbangun dan menangis. Zoya mencoba menenangkannya, namun karena ikatan Ibu dan anak itu memang sangat erat, bayinya malah tidak mau diam karena saat ini pikiran Zoya pun tak bisa tenang.

__ADS_1


Anderson yang tak begitu mengerti bayi, segera keluar memanggil Dokter. Ia juga membawa Rayden untuk keluar agar Zoya bisa lebih tenang didalam.


"Nyonya tenang ya, jika Nyonya tidak bisa tenang, ASI juga tidak bisa keluar," ucap perawat ikut membantu Zoya menenangkan putrinya.


Zoya mengangguk, ia berusaha tenang untuk membuai anaknya, tapi tetap saja ASI-nya tidak bisa keluar. Akhirnya karena putrinya terus menangis, Dokter terpaksa memberikan susu formula kepada putrinya.


"Nyonya, katakan apa yang membebani pikiran Anda. Saya tau, Anda pasti ingin memberikan ASI kepada putri Anda, tapi Anda tidak boleh stress ya Nyonya, itu sangat mempengaruhi produksi ASI Anda" ucap Dokter.


"Iya Dokter" kata Zoya mengangguk pasrah, hatinya lega akhirnya putrinya bisa tenang.


****


Dua hari Zoya berada di rumah sakit setelah melahirkan, kondisinya sebenarnya baik-baik saja, tapi karena Zoya banyak pikiran membuat ia harus bad rest terlebih dulu. Selama itu pula, Zoya terus mendesak Ayah mertuanya untuk mengatakan apa yang terjadi karena Dewa juga belum terlihat batang hidungnya sama sekali.


"Maafkan Ayah karena harus merahasiakan hal ini padamu. Tapi sekarang Ayah tau kalau kau memang lebih berhak tau tentang kondisi Dewa. Setelah menemanimu melahirkan, Dewa mengeluh kalau kepalanya sakit dan dia pingsan saat itu" kata Anderson menjelaskan perlahan agar Zoya tidak terlalu syok.


"Lalu dimana dia sekarang?" tanya Zoya menahan tangisnya mendengar kabar tentang suaminya.


"Waktu itu Dewa bertindak seolah dirinya baik-baik saja, tapi ternyata lukanya itu cukup parah di dalamnya, Dewa mengalami memar otak karena benturan yang terjadi saat kecelakaan yang dialaminya. Apalagi Dewa tidak segera mendapatkan pertolongan membuat lukanya cukup parah" kata Anderson menghela nafasnya yang sangat berat saat menjelaskan kondisi putranya.


Anderson saja sangat kaget dengan kabar ini, putranya itu menganggap semuanya seolah baik-baik saja dan tidak memperdulikan kondisi tubuhnya. Sekarang Anderson yakin kalau Dewa memang sangat mencintai istrinya melebihi nyawanya sendiri.


Tangis Zoya langsung pecah mendengar kondisi suaminya, ia menutup wajahnya untuk menyamarkan tangisnya.


"Aku ingin bertemu dengannya Ayah" ucap Zoya lirih, bahkan hampir tak terdengar.


"Ya, Ayah rasa dia juga membutuhkan dukungan mu. Saat ini dia masih koma, Ayah akan bertanya kepada Dokter dulu," kata Anderson tak mencegah keinginan itu, mungkin jika Zoya menemui putranya, dia akan sadar karena bertemu dengan semangat hidupnya.


Happy Reading.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2