
Davies berteriak keras saat kembali mendengar suara te mba kan itu. Tubuhnya bergetar hebat saat melihat Zoya dengan nekat akan mengakhiri hidupnya di depan Davies. Tapi sekali lagi peluru itu kosong membuat ia masih merasa lega namun juga cemas jika Zoya kembali penarik pelatuknya, kemungkinan besar Zoya benar-benar akan tewas.
"Zoya, Ayah janji tidak akan menyentuh anakmu dan juga dirimu. Tapi tolong letakkan pistol itu, Ayah berjanji akan membiarkan anak itu hidup" kata Davies sedikit melembutkan wajahnya. Ia sungguh tak bisa jika melihat kematian Zoya.
Zoya menangis keras, ia sudah siap untuk mati tapi kenapa rasanya susah sekali, seolah Tuhan tidak mengizinkan dirinya mati dan mengakhiri semua penderitaannya di dunia ini. Mau sampai kapan lagi ia harus terus menahan derita ini?
"Ayah mohon, tolong jangan lakukan itu lagi. Kau pasti juga tidak ingin membunuh anakmu sendiri bukan? Ayah janji tidak akan menyakitimu" kata Davies membujuk Zoya. Perlahan-lahan ia mendekati Zoya yang masih menangis histeris.
Zoya baru sadar dengan apa yang sudah dilakukannya, ia baru saja akan menghilangkan bayi yang tak berdosa ini. Ia menjatuhkan pistol itu dan kembali menangis sangat keras.
Davies segera mengambil pistol itu dan ia mengecek pelurunya, ia bernafas lega karena Zoya tidak kembali mene mbak kannya. Jika itu terjadi, peluru panas itu pasti akan menembus kepala Zoya. Davies lalu melirik Zoya yang masih terus menangis.
"Panggilkan Dokter dan biarkan mereka merawatnya disini" kata Davies segera keluar dari IGD itu, ia sempat memberikan gestur pada Bryan yang masih syok dengan apa yang dilihatnya.
Dokter dan suster segera masuk untuk mengecek keadaan Zoya. Mereka masih sangat takut setelah mendengar suara tem ba kan yang memekakkan telinga. Untung saja tidak terjadi apapun pada mereka semua.
Davies menyadarkan kepalanya di tembok, ia tampak masih begitu kesal dengan apa yang terjadi. Tapi ia tak boleh bertindak gegabah, karena salah sedikit saja, Zoya pasti akan kembali bertindak nekat.
"Apa om baik-baik saja?" tanya Bryan menatap wajah Davies yang tampak pucat.
"Ya, aku tidak apa-apa. Aku akan menyuruh para anak buahku menjaganya disini, kau bisa pulang" kata Davies tanpa melirik Bryan sama sekali.
"Apa yang akan Om lakukan? Kenapa Om membiarkan Zoya mempertahankan anaknya? Bagaimana kalau orang tuaku tau?" kata Bryan.
"Maka kau harus pintar menjaga rahasia ini. Kau tidak perlu tau apa yang akan aku lakukan, cukup diam dan saksikan, aku pastikan Zoya akan kembali kepadamu" kata Davies dengan wajah misteriusnya.
****
__ADS_1
Zoya terlihat duduk termenung di kursi taman belakang rumahnya. Sulur rambutnya tampak berterbangan karena hembusan angin sore yang begitu sejuk. Perutnya tampak sudah sedikit menonjol karena kini usia kandungannya sudah memasuki bulan ke 4.
Davies benar-benar menepati janjinya untuk membiarkan Zoya tetap mempertahankan anaknya, tapi sebagai gantinya Zoya tidak boleh keluar rumahnya sama sekali. Ia hanya melakukan aktivitas di dalam rumah dan jika ingin periksa kandungan, maka Dokter akan datang ke rumahnya.
Zoya tidak pernah dunia luar itu seperti apa, ia merasa sangat kesepian namun juga tak berdaya. Zoya kemudian mengambil ponselnya untuk membuka foto Dewa yang selalu menjadi aktivitas favoritnya.
"Kamu apa kabar? Apa kau masih mengingatku?" batin Zoya sangat merindukan sosok itu.
"Nona, waktunya minum vitamin" kata seorang pelayan wanita membawa segelas air dan vitamin untuknya.
"Oh, terimakasih Salsa, aku selalu melupakannya" kata Zoya menyimpan ponselnya lalu mengambil vitamin miliknya dan segera meminumnya.
"Tidak apa Nona, saya akan selalu mengingatkan anda, setelah ini Nona bisa mandi, saya sudah menyiapkan air hangat untuk anda" kata Salsa yang umurnya tampak masih cukup muda, tapi ia harus bekerja karena keluarganya kurang mampu.
"Ya baiklah, kau juga istirahatlah Salsa, aku baik-baik saja, jadi seharusnya kau tidak perlu repot seperti ini" kata Zoya menggelengkan kepalanya merasa Salsa terlalu berlebihan jika melayaninya, lagipula dia hanya hamil, bukan orang sakit yang semua harus dilayani.
"Itu memang sudah tugas saya Nona" kata Salsa lagi.
"Ah iya, aku lupa kalau tadi aku membuat puding, aku akan memakannya saja dulu" kata Zoya memutar langkahnya untuk kembali ke dapur.
Saat melintasi ruang belakang, Zoya tak sengaja mendengar orang yang sedang berbicara dengan suara rendah.
"Apa kau sudah memberikannya?" terdengar suara Ayahnya membuat Zoya melangkahkan kakinya untuk mendekati sumber suara itu.
"Sudah Tuan, Saya juga sudah memastikan Nona Zoya meminum obat itu sendiri, tapi saya hanya memberikan satu karena takut jika terlalu banyak akan membahayakan nyawa beliau"
Zoya membesarkan matanya saat mendengar suara Salsa, ia tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Lalu obat apa yang dimaksud Salsa? Kenapa obat itu berbahaya? jangan-jangan....
__ADS_1
"Dasar bodoh! Kalau satu pasti tidak akan ada efeknya! Aku mau kau memberikan obat itu lagi pada Zoya nanti malam! Berikan tiga kali lipat agar bayi sialan itu cepat mati" kata Davies membuat seluruh tubuh Zoya gemetar.
Jadi apa yang dilakukan Ayahnya selama ini hanya kebohongan semata? Pria itu hanya berpura-pura membiarkannya membesarkan bayi ini tapi pria itu perlahan-lahan akan menghabisi anaknya. Zoya memegang perutnya yang tiba-tiba nyeri. Ia tak akan membiarkan siapapun menyentuh anaknya. Zoya akan selalu melindunginya apapun yang terjadi.
Zoya cepat-cepat pergi dari sana dan masuk ke kamarnya. Ia harus pergi dari rumah ini, tapi bagaimana caranya? seluruh penjuru rumah ini bahkan dijaga ketat oleh anak buah Ayahnya. Apa yang harus dia lakukan sekarang.
Tok Tok Tok
Zoya tersentak saat mendengar pintu kamarnya di ketuk, ia mencoba mengatur nafasnya dan menormalkan ekspresi wajahnya.
"Nona? Apakah anda sudah mandi?" kata Salsa dengan wajah polosnya seperti biasa.
Zoya mengernyitkan dahinya saat melihat tingkah Salsa ini, benar-benar pemain sandiwara yang hebat. Bagaimana bisa ia tertipu dengan sikap polosnya ini.
"Ada apa kau kemari?" kata Zoya datar.
"Oh, aku hanya ingin memastikan Nona kalau sudah mandi. Aku juga ingin memberikan anda vitamin, aku lupa kalau masih ada vitamin yang belum anda minum" kata Salsa menunjukkan nampan yang dibawanya.
"Vitamin? bukankah aku barusaja meminumnya? Kenapa kau memberiku vitamin lagi?" kata Zoya melirik Salsa tajam membuat wanita itu gugup seketika.
"Hahaha, iya Nona benar. Tapi ini vitamin yang Dokter diresepkan minggu lalu, aku lupa memberikannya pada Nona, sekarang Nona minum ya?" kata Salsa tertawa menutupi kegugupannya. Ia takut jika Nona mudanya ini akan mengetahui kebohongannya.
Happy Reading.
Tbc.
Jangan lupa tinggalkan jejak ygy...
__ADS_1
Like dan komen...
Makasih...