I'M FINE

I'M FINE
Semakin Berubah.


__ADS_3

Zoya menatap makan malam di depannya nanar, sudah hampir dua minggu Dewa tak pernah lagi menemaninya makan. Jangankan untuk menemani makan, mengobrol pun kini sangat jarang sekali. Setelah kejadian itu Dewa menjadi lebih dingin sekali padanya. Pria itu jarang sekali di rumah.


Zoya tidak pernah tau apa yang dilakukan oleh Dewa, tapi setiap hari Dewa akan pulang ke rumah dengan wajah yang lelah dan membawa cukup banyak uang untuknya.


"Dewa, jangan seperti ini. Aku minta maaf untuk perkataan ku waktu itu, Aku mohon hentikan ini semua" kata Zoya ketika malam hari melihat Dewa pulang. Ia tak tega melihat wajah pria itu yang sangat pucat, terlihat sekali ia sedang kelelahan karena baru pulang dari pabrik tapi Dewa langsung kembali bekerja.


"Kenapa? Apa uang itu belum cukup juga untukmu? Bukankah kau senang aku memberimu banyak uang? Itu kan yang kau mau?" kata Dewa menatap dingin pada Zoya.


"Dewa maafkan aku, Aku janji akan mengembalikan uang itu, tolong jangan menyiksa dirimu seperti ini. Maafkan aku" kata Zoya memandang Dewa iba.


"Baguslah kalau kau mau mengembalikan uang haram itu. Aku ingin tidur, tolong bangunkan aku nanti jam setengah sembilan" kata Dewa merebahkan dirinya di kasur.


"Kau mau kemana lagi? Kau baru saja pulang kenapa harus pergi lagi?" kata Zoya.


"Kau tidak perlu tau kemana aku pergi, yang penting aku akan pulang membawa uang untukmu" kata Dewa tanpa menatap Zoya sama sekali.


Zoya menghela nafas pelan mengingat percakapannya dengan Dewa beberapa hari lalu. Ia sudah meminta maaf dan mengembalikan uang Leon, tapi nyatanya hal itu tak merubah keinginan Dewa untuk mencari uang tambahan. Zoya menyesal sekali karena tidak bersyukur dengan apa yang Dewa berikan. Padahal Dewa memang sudah mencoba memberikan kehidupan yang layak untuknya.


Tok Tok Tok Tok


Terdengar suara pintu kontrakannya di ketuk membuat Zoya langsung membukanya. Ia berpikir itu Dewa yang sudah pulang, dan ternyata memang benar Dewa, tapi Zoya kaget saat Dewa pulang tidak sendiri, melainkan bersama Bayu dan yang membuat Zoya lebih kaget adalah Dewa sedang dalam keadaan tak sadarkan diri.


"Bayu! Apa yang terjadi pada Dewa?" kata Zoya tak menyembunyikan wajah cemasnya.


"Dewa tadi minum Zoy dan dia bertengkar sama orang, padahal dia nggak kuat minum tapi dia maksain dirinya" kata Bayu menjelaskan.


Zoya menutup mulutnya karena syok mendengar kalau Dewa baru saja mabuk, pria itu tidak pernah menyentuh benda itu sebelumnya.

__ADS_1


"Yaudah kamu bantu bawa masuk dulu" kata Zoya membuka pintu lebih lebar agar Bayu mudah membawa Dewa masuk.


"Gua langsung cabut ya Zoy, udah malem nggak enak sama tetangga" kata Bayu setelah membantu Dewa berbaring di kamar.


"Iya makasih udah anterin Dewa pulang" kata Zoya mengantar Bayu sampai di depan pintu.


"Ya sama-sama. Besok suruh Dewa libur dulu deh, kayaknya dia kecapekan" kata Bayu semakin membuat Zoya merasa bersalah.


Setelah kepergian Bayu, Zoya kembali ke kamarnya untuk melihat keadaan Dewa. Tanpa sadar air matanya meleleh saat melihat kondisi Dewa yang semakin kurus dan sangat pucat. Zoya perlahan mendekatkan dirinya, ia membantu membuka sepatu dan mengganti baju pria itu yang tampak kotor.


Hati Zoya semakin sakit saat melihat daerah sekitar pundak Dewa yang terkelupas dan kemerahan. Dewa pasti sudah melakukan pekerjaan berat. Saat Zoya ingin menyentuh luka itu tiba-tiba Dewa menangkap tangannya dan mata pria itu terbuka.


"Apa yang kau tangisi?" kata Dewa menatap Zoya tajam.


"Tidak apa-apa, aku akan mengobati lukamu" kata Zoya mengusap air matanya. Ia bangkit dari duduknya dan mengambil antiseptik untuk mengobati luka Dewa.


"Tidak perlu" kata Dewa menepis tangan Zoya hingga kotak obat itu jatuh dan isinya berceceran.


"Kenapa? Apa kau pikir aku selemah itu sampai kau harus kau obati?" kata Dewa berbicara sangat keras. Sepertinya efek alkohol yang di minumnya mulai bekerja membuat Dewa tak bisa mengendalikan diri.


"Aku tidak bermaksud seperti itu Dewa" kata Zoya ingin mengambil obat-obatan itu tapi Dewa malah menarik tangannya dengan kasar.


"Lalu apalagi maksudmu? Kau hanya menganggap ku pria lemah yang tidak berguna kan? Aku pria yang tidak bisa memberikanmu kehidupan yang layak! Aku memang tidak berguna dan menyedihkan, iya kan?" kata Dewa membentak Zoya tepat di depan wajahnya.


Zoya menggelengkan kepalanya, air matanya semakin menderas karena Dewa membentak dirinya. Entah kenapa ia menjadi wanita yang cengeng seperti ini, padahal biasanya ia tak pernah menangis meski di bentak-bentak orang lain.


"Tidak Dewa....Aku tidak pernah berpikir seperti itu, tolong jangan seperti ini" kata Zoya menangkup pipi Dewa agar pria itu menatapnya. Zoya ingin Dewa tau kalau dia tak pernah sekalipun berpikiran seperti itu.

__ADS_1


Dewa terdiam menatap Zoya yang terus menangis itu. Dadanya terasa sangat sesak sekali jika mengingat apa yang sudah di katakan Zoya. Tanpa banyak berkata ia langsung mencium bibir Zoya kasar dan mendorong tubuh wanita itu hingga keduanya jatuh ke kasur.


Zoya kaget mendapatkan ciuman dadakan ini, selain itu Dewa menciumnya dengan sangat kasar. Pria itu bahkan tak segan mengigit bibirnya hingga berdarah.


"Dewa...jangan lakukan ini...Aku mohon..." kata Zoya mencoba menyadarkan Dewa yang sedang mabuk itu.


Tapi Dewa seolah tuli, ia terus menciumi setiap jengkal tubuh Zoya dengan kasar hingga meninggalkan bekas keunguan seolah meluapkan emosinya dengan menyentuh Zoya dengan kasar.


"Dewa.....sakit....." ucap Zoya lirih, ia beberapa kali mencakar punggung pria itu tapi tak menghentikan perlakukan Dewa sama sekali.


Zoya hanya bisa pasrah dan terus menangis saat semalaman penuh Dewa menyentuh dirinya. Ia bahkan tak tau kapan Dewa berhenti, ketika ia terbangun pria itu sudah tidak lagi di sampingnya.


"Argh ......" Zoya mendesis pelan seraya menyentuh perut bawahnya yang begitu sakit saat ia gunakan untuk duduk. Selain itu ada sesuatu yang menarik perhatiannya, yaitu bercak darah di sprei yang sudah mengering.


"Ah iya, aku belum datang bulan" batin Zoya baru ingat.


Zoya perlahan turun dari ranjang untuk membersihkan dirinya, ia harus berjalan sangat pelan karena seluruh tubuhnya sakit semua, kepalanya juga begitu pusing dan perutnya terasa sangat mual.


Setelah membersihkan dirinya, Zoya keluar dari rumah untuk mencari obat di apotik. Mungkin karena kepalanya yang begitu pusing, Zoya berjalan tak fokus hingga menabrak sosok orang lain hingga belanjaan orang itu terjatuh.


"Apa kau tidak punya mata! Berjalanlah dengan benar" ucap wanita yang ditabrak Zoya begitu kesal.


"Tara?" seru Zoya membuat wanita itu mengangkat wajahnya.


Tara kaget melihat Zoya disana, ia menjadi panik dan segera mengambil barang-barangnya, tapi dia terlambat karena Zoya sudah melihat apa yang di belinya. Sebuah testpack? Untuk apa?


Happy Reading.

__ADS_1


Tbc.


Jangan lupa jejaknya ygy....


__ADS_2