
"Itu semua nggak bener kan? Kamu bilang gini ke aku hanya karena kau masih marah padaku kan? Iya kan? Kau mencintaiku kan?" kata Dewa mencoba tersenyum saat hatinya begitu nyeri. Ia masih tak percaya kalau Zoya melakukan hal ini padanya.
"Apa kau tuli? aku sudah tidak mau lagi berhubungan denganmu Dewa, aku tidak mencintaimu dan aku ingin bercerai darimu" kata Zoya ikut sakit saat melihat Dewa begitu terluka, tapi akan lebih baik kalau Dewa membencinya agar pria itu mudah melupakannya.
"Kau bohong! Katakan sekali lagi kalau kau tidak mencintaiku Zoya, tatap mataku" kata Dewa tau jika Zoya sejak tadi tak berani menatap matanya langsung, ia ingin melihat sendiri kalau wanita itu memang tidak mencintainya.
"Terserah kau percaya atau tidak, yang jelas aku tidak mau punya urusan apapun padamu, sekarang cepat tanda tangan surat itu agar kita segera berpisah" kata Zoya sudah tak tahan untuk tidak menangis dan ingin secepatnya pergi darisana.
"Kau bohong, aku tidak akan percaya padamu" kata Dewa yakin kalau Zoya mencintainya.
"Apa kau melihat cincin ini? ini adalah cincin pertunangan ku dan minggu depan aku akan menikah dengan pria yang jauh lebih baik darimu Dewa, apa kau puas sekarang?" kata Zoya menujukkan cincin berlian yang tampak berkilauan di jari manisnya.
"Oh, jika kau masih ingin bukti, aku akan menunjukkan padamu foto-foto pertunangan kami padamu, tapi aku rasa itu tidak perlu karena kau seharusnya sadar diri kan? Bagaimana wanita yang cantik seperti diriku harus bersanding pria miskin sepertimu? bukankah itu terla.....
"CUKUP! Aku akan menandatangi surat itu" bentak Dewa mengepalkan tangannya erat. Ia tak sanggup lagi mendengar ucapan Zoya yang benar-benar menyakiti hatinya. Ia kini sadar kalau wanita ini sejak dulu memang sangat arogan dan suka menghina orang lain.
"Silahkan" kata Zoya melemparkan bolpoin kepada Dewa.
Dewa segera mendatangani surat perceraian itu dengan cepat dan menyerahkannya kepada Zoya.
"Terimakasih, aku harap kau melupakan apa yang terjadi antara kita berdua dan hiduplah dijalan masing-masing" kata Zoya tersenyum tipis memandang wajah Dewa sebentar sebelum pergi dari sana.
Tapi begitu berbalik, hilang sudah senyuman yang tersungging di bibirnya, wajah angkuhnya berubah menjadi sangat menyedihkan. Air matanya bahkan langsung meleleh begitu saja, tapi Zoya tak ingin menghapusnya, membiarkan air mata itu membasahi wajahnya seiring langkahnya yang menjauh meninggalkan Dewa.
__ADS_1
Mata Dewa pun sudah sama basahnya karena perpisahan ini, dua kali dia dikhianati oleh dua wanita yang sangat dicintainya, bahkan sakit hatinya beribu kali lipat lebih sakit daripada pengkhianatan Tara dulu.
"Put your hand up man" Aldin menepuk pelan pundak Dewa. Ia sejak tadi berdiri menyaksikan semuanya, namun ia ikut bersimpati dengan apa yang dialami Dewa.
Dewa mengusap air matanya kasar, Sudah cukup baginya mendapatkan penghinaan dan ketidakadilan ini. Ia tak ingin menangis lagi, ia bukan pria lemah yang pantas ditindas dan Dewa bersumpah akan membalas perbuatan semua orang yang menyakitinya, termasuk Zoya.
*****
Zoya duduk didepan kaca besar yang menampakkan pantulan wajahnya yang sudah terlihat sangat cantik setelah dirias. Gaun putih yang terlihat begitu mewah tampak membalut tubuhnya yang mungil. Ya, hari ini adalah hari pernikahannya dengan Bryan.
Acara resepsi pernikahan mereka akan digelar di hotel bintang lima dan mengundang banyak sekali pengusaha besar teman kedua orang tua mereka. Acara itu juga diliput oleh para wartawan, karena tentu saja bersatunya kedua keluarga konglomerat ini menjadi berita di seluruh kota.
Mungkin bagi yang melihatnya, pernikahan ini adalah pernikahan impian semua orang. Tapi bagi Zoya tak lebih dari sebuah siksaan. Ia harus tersenyum meski hatinya menangis, ia harus terlihat bahagia meskipun hatinya sangat sakit. Ia bahkan seperti bermimpi ketika Ayahnya menggandeng tangannya menuju altar pernikahan yang megah.
"Aku serahkan putriku padamu" kata Davies menyerahkan tangan Zoya pada Bryan yang langsung mencium tangan Zoya.
Zoya hanya bergeming dan mengikuti semua acara prosesi pernikahan itu. Tapi saat Bryan melantunkan bacaan akad nikah, Zoya langsung menangis karena ingat pernikahannya dengan Dewa.
"Stt...jangan menangis sayang, semua akan baik-baik saja" kata Ratna membantu mengusap air mata Zoya. Ia berpikir kalau menantunya ini pasti terharu karena sudah menikah.
Zoya mengangguk singkat, rasanya dia ingin berteriak sangat keras dan memberi tau seluruh dunia kalau dia tak menginginkan pernikahan ini. Tapi apa gunanya? Sekarang dia sudah resmi menjadi istri orang.
Sementara itu di sebuah kamar yang terlihat sangat mewah, Dewa diam menyaksikan siaran langsung pernikahan mantan istrinya itu. Sorot matanya tampak sangat tajam mengerikan saat melihat kebahagiaan Zoya. Ia benar-benar tak akan membiarkan wanita itu bisa hidup dengan mudah.
__ADS_1
"Dewa?"
Mendengar suara yang memasuki kamarnya, Dewa segera mematikan televisi itu, ia mengubah ekspresi wajahnya ketika melihat Ayahnya berjalan memasuki kamarnya.
"Bagaimana nak? Apa kau suka dengan kamar mu?" tanya Anderson ingin memastikan kalau putranya ini nyaman tinggal di rumah barunya.
Ya memang Dewa sudah diizinkan pulang tadi pagi karena kondisinya sudah membaik, hanya tinggal memulihkan cidera di kakinya saja. Dan Anderson pun langsung mengajaknya pulang ke mansion miliknya agar Dewa tak lagi tinggal di kontrakan sempit itu.
"Suka Ayah, kamar ini sangat bagus, malah aku rasa kamar ini terlalu mewah untukku" kata Dewa melirik keseluruhan kamarnya yang sangat besar, mungkin dua kali lipat dari rumahnya dulu.
"Tidak apa, Ayah ingin kamu nyaman tinggal disini. Kau tidak perlu sungkan nak, ini semua adalah rumahmu dan kau punya hak disini. Maafkan Ayah karena dulu tidak bisa menemani ibumu saat mengandung mu" kata Anderson masih menyesalkan hal itu.
"Ayah tidak perlu minta maaf padaku, itu semua sudah terjadi dan kita harus melupakannya. Aku yakin kalau Ayah juga tidak menginginkan itu semua terjadi kan, jadi sudah seharusnya kita melupakan semuanya dan memulai semuanya dari awal Ayah" kata Dewa tak ingin Ayahnya terus dihantui rasa bersalah itu.
Anderson tersenyum tipis seraya menepuk-nepuk pelan pundak Dewa. "Terimakasih karena sudah mengerti Ayah. Sekarang beristirahatlah, selamat malam" kata Anderson kemudian bangkit dari duduknya dan kembali ke kamarnya sendiri.
Dewa menatap pintu kamarnya yang perlahan tertutup, ia lalu mengambil ponselnya dan membuka galeri, ia melihat foto-fotonya dan Zoya waktu mereka berkencan di pasar malam. Di foto itu mereka tampak tersenyum sangat bahagia, sebuah momen yang sangat Dewa ingat tapi kini ia ingin melupakan kenangan itu. Sorot mata Dewa berubah menggelap dan mengerikan.
"Aku pasti akan menghancurkan mu Zoya" kata hati Dewa sangat mantap seolah janji yang harus ditepati. Tangannya mengepal erat meluapkan emosi dan rasa sakit batinnya dengan menyakiti fisiknya.
Happy Reading.
Tbc.
__ADS_1