I'M FINE

I'M FINE
Pertolongan.


__ADS_3

Leon terkekeh senang melihat Zoya yang berlutut di kakinya itu, ia tampak puas sekali melihat wanita arogan ini menyerah. Leon kemudian berjongkok dan memegang dagu Zoya dengan kasar.


"Sekarang kau tau siapa aku?" kata Leon dengan sinisnya.


"Maafkan aku Leon, tolong hentikan ini semua, aku berjanji akan mengembalikan uangmu dan aku akan pergi sejauh mungkin, tolong jangan sakiti dia lagi" kata Zoya tak memikirkan apapun lagi, hanya keselamatan Dewa yang terpenting sekarang.


Leon semakin mengembangkan senyum sinisnya lalu melirik Dewa yang masih sadar namun sangat lemah. "Aku akan melepaskan suamimu tapi dengan satu syarat, kau harus menemaniku malam ini" kata Leon tersenyum licik.


Mata Zoya membesar mendengar permintaan Leon, pria di depannya ini memang ba ji ngan, bisa-bisanya meminta hal itu pada wanita yang sudah bersuami.


"Aku tidak mau" kata Zoya langsung menolak mentah-mentah.


"Baiklah kalau begitu, bersiaplah melihat dia mati" kata Leon bangkit dari duduknya dan langsung menghampiri Dewa.


"Leon jangan....Berhenti...aku mohon" Zoya segera menghentikan Leon sebelum pria itu kembali menghajar Dewa yang sudah begitu lemah.


"Minggir, kau sudah mencari masalah denganku, sekarang rasakan akibatnya" kata Leon tak menghiraukan perkataan Zoya dan mendorong wanita itu menjauh.


Leon menghampiri Dewa dan menarik baju pria itu agar berdiri. Dewa membuka matanya yang cukup berat karena pukulan yang di dapatkannya tadi.


"Jangan mengganggu istriku" kata Dewa pelan namun sangat tegas.


"Cih, sayangnya wanita yang kau sebut istrimu itu sudah berani bermain-main denganku, aku tentu harus membalas perbuatannya kan?" kata Leon tanpa peringatan langsung memukul pipi Dewa dengan keras hingga pria itu kembali tersungkur jatuh.


"Bangun pengecut! ayo lawan aku kalau kau masih ingin melihat istrimu lolos" kata Leon kembali menarik baju Dewa dan menghajar pria itu lagi.


"Dewa!" Zoya menangis keras dan segera bangkit untuk menghampiri Dewa yang sudah tak berdaya tapi masih di hajar oleh Leon.


"Hentikan!" teriak Zoya lagi langsung memeluk tubuh Dewa untuk menghentikan Leon yang seperti kesetanan itu.


"Sungguh pengorbanan yang mengharukan, menyingkirlah wanita licik atau aku juga akan menghajar mu" kata Leon tanpa belas kasihan sama sekali.


"Pukul aku, habisi saja aku Leon, Aku yang punya salah padamu, jangan lakukan apapun padanya" kata Zoya terus memeluk Dewa, wajahnya sudah basah karena air matanya melihat kondisi Dewa.

__ADS_1


"Bagus sekali, Aku akan dengan senang hati melakukannya" kata Leon bersiap ingin melancarkan aksinya, Zoya pun sudah pasrah jika tubuhnya akan dipukuli, tapi ia kaget saat tiba-tiba tubuh Leon yang tersungkur jatuh ke tanah.


Leon pun kaget dan melihat siapa orang yang berani melakukan hal itu padanya. Ia langsung menatap tajam sosok pria yang berdiri di belakangnya.


Zoya ikut menatap sosok itu, ia merasa tak mengenalnya tapi juga berterimakasih karena sudah mau membantu mereka.


"Brengsek! Siapa kau berani melawanku" kata Leon berteriak penuh amarah.


"Kau tidak perlu tau siapa aku, sekarang lawan aku, dasar pengecut beraninya hanya dengan perempuan" kata pria itu melontarkan senyum penuh ejekkan pada Leon membuat Leon tersulut.


"Kurang ajar, kau cari mati rupanya" kata Leon begitu geram saat dirinya di sebut pengecut.


Leon segera maju untuk menghajar pria yang berani melawannya itu. Aksi baku hantam keduanya pun tak terelakkan. Tapi ternyata pria yang menjadi lawan Leon tak mudah di kalahkan membuat wajahnya berkali-kali terkena bogem mentah.


Leon mulai tak bisa mengimbangi serangan itu, ia segera menyuruh anak buahnya membantunya, namun sialnya mereka pun dengan mudah di kalahkan oleh pria penolong itu.


"Ini tidak boleh di biarkan" batin Leon segera memutar otaknya, ia kemudian mengambil pisau yang tersembunyi di balik jaketnya.


"Awas di belakangmu" teriak Zoya memperingatkan.


Pria penolong itu tersentak, ia menoleh ke arah Leon yang bersiap melancarkan aksinya. Dengan gerakan cepat, pria penolong itu mengelak hingga pisau itu hanya menyerempet bajunya, mungkin hanya beberapa centi saja akan mengenai perutnya.


"Oh sh it!!" umpat pria penolong itu sangat kesal dan tanpa basa-basi ia kembali memukul Leon.


Bugh Bugh Bugh...


Tubuh Leon langsung ambruk setelah pukulan telak dari pria penolong, ia sudah ter ka par bersama anak buahnya namun ia masih sadar.


"Bangun! Apa hanya segini kemampuanmu" kata pria penolong meludahi ke arah Leon yang mengerang kesakitan itu.


"Tuan Aldin, Anda tidak apa-apa?" terlihat seorang pria lain yang menghampiri pria penolong itu. Wajahnya tampak sangat cemas.


"Aku tidak apa-apa, Urus saja mereka" kata Aldin menepuk pelan bajunya yang kotor bekasan perkelahian tadi.

__ADS_1


Aldin segera berjalan mendatangi Zoya yang mencoba membangunkan Dewa. Wajahnya tampak panik namun juga lega karena Leon sudah berhasil di amankan.


"Sepertinya dia terluka parah, kita harus membawanya ke rumah sakit" kata Aldin sedikit miris melihat kondisi Dewa.


"Iya, Terimakasih sebelumnya karena sudah menolong kami" kata Zoya.


"Itu memang tugasku, Ayo aku akan membantumu" kata Aldin.


Zoya mengerutkan dahinya. Merasa perkataan Aldi terdengar aneh, tugas apa maksudnya? Tapi Zoya tak ingin memikirkannya, ia harus membawa Dewa ke rumah sakit agar segera mendapatkan perawatan.


Sesampainya di rumah sakit, Dewa langsung di tangani dan untunglah tidak ada hal yang serius. Pria itu juga bisa langsung pulang malam ini.


"Dewa, Bagaimana keadaanmu? Syukurlah kau sudah sadar, aku sangat senang melihatnya" kata Zoya sangat lega rasanya bisa melihat Dewa kembali siuman. Ia langsung memeluk tubuh suaminya untuk menumpahkan rasa senangnya.


Dewa bergeming tanpa membalas pelukan itu. Ia justru menekuk wajahnya saat melihat sosok Aldin yang masih berada disana. Dewa merasa pernah bertemu pria ini, tapi dimana?


"Dia siapa?" tanya Dewa.


"Oh, dia tadi yang menolong kita, Aku lupa belum bertanya siapa namanya. Ehm, tuan maaf, siapa nama anda?" kata Zoya sampai lupa kalau Aldin sejak tadi berada disana.


"Aku Aldin, kau bisa memanggilku Al, sebelumnya kita sudah bertemu di pasar senin" kata Aldin sedikit tersenyum.


"Oh, Iya aku ingat. Terimakasih sudah menolongku Al, aku berhutang budi padamu" kata Dewa mengangguk-anggukan kepalanya. Ia ingat pria ini yang hampir menabrak dirinya waktu lalu.


"Santai saja, aku juga kebetulan lewat sana tadi, bagaimana keadaanmu?" kata Aldin.


Dewa baru ingin menjawab tapi urung ketika mendengar suara ponsel Aldin berdering. Aldin segera melihat ponselnya, wajahnya tampak berkerut.


"Sepertinya aku harus pergi, Dewa kan namamu? Aku pamit dulu, semoga kau cepat sembuh, permisi" kata Aldin menganggukkan kepalanya untuk berpamitan. Ia segera keluar dari ruang perawatan Dewa untuk mengangkat teleponnya.


"Halo?" ucapnya.


"Halo Tuan Aldin, Tuan Anderson masuk rumah sakit"

__ADS_1


__ADS_2