
Sudah dua minggu lebih Dewa menjadi lelaki tak berdaya yang hanya bisa berbaring di ranjang rumah sakit. Ia sudah sering berlatih bersama Ayahnya, tapi kakinya belum menunjukkan kemajuan apapun. Semakin hari, Dewa merasa sudah tak memiliki semangat hidup lagi, apalagi sampai hari ini Zoya belum menemuinya sama sekali.
Dewa selalu berpikir kalau Zoya memang benar-benar marah padanya sampai wanita itu tak mau melihatnya ke rumah sakit. Tapi apakah kesalahannya begitu fatal sampai Zoya tak mau memaafkannya? kemana perginya wanita itu, Dewa sudah sangat merindukannya.
"Sudah bangun?" terdengar sapaan dari Aldin membuat Dewa mengalihkan pandangannya.
"Al?" kata Dewa menyapa.
"Ya, bagaimana keadaanmu? Hari ini Ayahmu sedang memimpin rapat, jadi aku yang akan menemanimu, katakan saja padaku apa yang kau inginkan" kata Aldin.
"Terimakasih, seharusnya kau tidak perlu repot menemaniku, Ayahku pasti lebih membutuhkan dirimu" kata Dewa tak enak hati.
"Tidak apa-apa, Ayahmu hanya mengurus semua hal pengalihan kekuasaan perusahaan, setelah ini kau yang akan menggantikannya" kata Aldin menjelaskan.
"Pengalihan kekuasaan?" kata Dewa sedikit kaget mendengar itu.
"Ya, Paman sudah tua dan dia ingin kau yang mengurus bisnis keluarga. Kau tau sendiri hanya kau yang Paman miliki saat ini" kata Aldin lagi.
Dewa terdiam, Ayahnya memang sudah menjelaskan semua masa lalunya dan ternyata waktu dulu Ayahnya lebih memilih menikah dengan wanita lain karena Kakeknya sakit dan ingin Ayahnya menikah saat itu juga. Dalam pernikahan Ayahnya dengan wanita itu tidak dikaruniai anak membuat Dewa menjadi pewaris tunggal keluarga Jhonson.
"Apa yang Ayah harapkan dari aku Al? Aku tidak pernah sekolah tinggi, aku juga hanya pria lumpuh" kata Dewa tersenyum kecut, merasa tak pantas menjadi pemimpin perusahaan.
"Kau pasti sembuh, bukankah Ayahmu sudah mencarikan pengobatan terbaik untukmu, aku yakin kau juga bisa memimpin perusahaan, kau bisa belajar terlebih dulu Dewa" kata Aldin.
"Kenapa tidak kau saja yang memimpinnya? Kau pasti sudah lebih tau segalanya dari aku" kata Dewa.
Aldin tersenyum kecil. "Aku tidak bisa memimpin perusahaan Dewa, aku hanya anak seorang supir yang kebetulan memiliki otak pintar dan di sekolahkan Ayahmu. Tanpa beliau aku bukan siapa-siapa" kata Aldin merasa Dewa ini terlalu polos, seharusnya diberi kekuasaan yang begitu besar Dewa senang, tapi malah ingin mengalihkannya pada orang lain.
"Sudah jangan memikirkan hal itu Dewa, kita bisa sama-sama belajar nanti, sekarang yang terpenting kau sembuh dulu" kata Aldin lagi.
__ADS_1
"Ya, bisakah kau membantuku untuk pergi ke taman? Aku sudah sangat bosan berada disini" kata Dewa melirik luar yang tampak sangat cerah itu.
"Tentu, kau itu bosku sekarang, jadi kau bebas menyuruhku apapun" kata Aldin bercanda.
"Kalau aku menyuruhmu terjun ke laut apa kau juga mau?" kata Dewa tersenyum kecil mendengar ucapan Aldin.
"Siap laksanakan" kata Aldin ikut tertular senyuman Dewa. Ia kemudian membantu Dewa untuk duduk di kursi roda dan mendorongnya keluar kamarnya.
Dewa sedikit tersenyum saat melihat cerahnya matahari pagi itu, ia kemudian meminta Aldin untuk membantunya belajar berjalan, tapi ternyata cukup kesusahan.
"Sudah, jangan memaksakan dirimu Dewa, kita istirahat saja dulu" kata Aldin tak tega melihat Dewa yang sudah sangat berkeringat tapi masih memaksa untuk terus berlatih.
"Aku ingin cepat sembuh Al, aku ingin bertemu dengan istriku" kata Dewa.
"Ya, tapi tidak dengan cara seperti ini. Kau bisa semakin sakit nanti" kata Aldin membuat Dewa mengangguk.
Ternyata ia juga sangat lelah sekali, tapi keinginan untuk bertemu Zoya membuat dirinha menjadi lebih semangat.
"Ya" sahut Dewa memejamkan matanya menikmati semilir angin yang begitu menyejukkan. Tapi ia justru terbayang wajah cantik Zoya yang belakangan ini selalu hadir di mimpinya, tapi dalam mimpinya Zoya terlihat sedang menangis dan memanggil dirinya. Sungguh mimpi yang aneh, Dewa penasaran apa yang terjadi dengan Zoya.
"Dewa?" Dewa mengerutkan dahinya saat mendengar suara yang sangat dirindukannya itu, apa dia tidak salah dengar?
"Dewa?" kini suara itu semakin jelas dan sangat dekat membuat Dewa membuka matanya dan seketika ia kaget saat melihat sosok yang dirindukannya berdiri di depannya.
"Zoya" kata Dewa dengan mata berbinar cerah, ia mengembangkan senyum manisnya, ia bahkan tak sabar ingin segera menghambur memeluk wanita itu.
Zoya mengigit bibirnya saat bisa melihat kembali sosok pria yang dicintainya ini, perlahan ia mendekat ke arah Dewa dan tubuhnya langsung disambar oleh pria itu.
"Aku sangat merindukanmu" kata Dewa memeluk perut Zoya erat.
__ADS_1
Zoya tak membalas pelukan itu, ia hanya diam saja membiarkan Dewa memeluknya lama. Mungkin karena tak mendapatkan balasan, Dewa melepaskan pelukannya dan mendongak untuk melihat wajah Zoya.
"Ada apa? Apa kau masih marah padaku?" kata Dewa memegang lembut tangan Zoya dan menciumnya.
Zoya hanya memandang Dewa dengan wajah datarnya, saat matanya bertatapan dengan mata pria itu, pertahanan Zoya hampir saja runtuh membuat ia memutus kontak mata itu. Zoya lalu melepaskan tangan Dewa membuat pria itu bingung.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Zoya datar dan dingin.
"Aku baik, kau darimana saja? kenapa kau baru menemuiku?" kata Dewa semakin tak mengerti dengan sikap Zoya.
"Baguslah kalau kau baik-baik saja, aku kesini hanya ingin mengantarkan ini padamu" kata Zoya mengambil map dalam tasnya lalu menyerahkannya pada Dewa.
"Berkas apa ini?" kata Dewa belum menerima map itu.
"Ini surat perceraian kita" kata Zoya menahan hatinya yang sakit saat mengatakan hal itu.
"Cerai? kau mau meminta cerai dariku?" kata Dewa kaget dan langsung mengambil berkas itu dengan cepat.
"Ya, aku juga sudah menandatanganinya, sekarang tinggal kau yang belum" kata Zoya.
"Kenapa?" kata Dewa memandang Zoya sendu, ia ingin tau kenapa alasan wanita itu ingin bercerai darinya.
"Apa kau masih marah padaku karena masalah waktu itu? Zoya, aku benar-benar tak punya hubungan apapun lagi dengan Tara, tolong percayalah, kita bisa membicarakan ini baik-baik, jangan meminta cerai dariku" kata Dewa kembali memegang tangan Zoya.
"Kau masih berpikir aku marah karena kau berpelukan dengan wanita itu? Oh, ayolah Dewa, apa menurutmu aku cemburu melihat kedekatan kalian berdua begitu?" kata Zoya menarik sudut bibirnya hingga terlihat senyum sinisnya, ia kemudian menatap Dewa yang kaget melihat perubahan sikapnya itu.
"Kau salah besar Dewa. Kau ingin tau kan apa alasanku menceraikanmu? Jawabannya mudah saja, karena aku tidak mau lagi hidup miskin bersamamu. Lagipula apa yang sebenarnya kau pikirkan? Aku juga tak mungkin menghabiskan hidupku mengurus pria cacat sepertimu bukan?"
Dewa seperti disiram air dingin saat mendengar ucapan Zoya, ia tak percaya wanita yang dicintainya tega mengatakan hal yang sangat menyakiti hatinya ini. Apakah benar dia Zoya yang dia kenal?
__ADS_1
Happy Reading.
Tbc.