
Zoya menyiapkan makanan di piring anaknya dengan cepat. Ia juga memberikannya kepada Dewa tanpa banyak bicara. Ia bukannya tak tau kalau sejak tadi Dewa menatapnya lekat-lekat, tapi ia sengaja pura-pura tak mengetahuinya.
"Sudah, kau sudah bisa makan" kata Zoya setelah menyiapkan makanan untuk Dewa yang hanya diam saja.
Wajah Dewa tampak tidak tertebak sama sekali, pria itu bahkan hanya diam saja memakan makannya dengan tenang tanpa mengomentari masakan Zoya yang lumayan enak. Sepertinya banyak sekali hal yang dipikirkannya.
"Selamat makan Om" kata Dewa kecil bersiap memakan makanannya.
Lagi-lagi Dewa hanya diam saja membuat Zoya heran. "Ada apa denganmu? Apa makanannya tidak enak?" tanya Zoya sedikit menyenggol kaki Dewa yang melamun.
"Ha?" Dewa tersentak kaget dan tersadar dari lamunannya.
"Aku tidak apa-apa, aku baru ingat kalau hari ini ada meeting penting, sepertinya aku harus pergi" kata Dewa lagi.
"Om mau pergi ya? Kenapa makanannya nggak di habiskan? kata Ibu nggak baik lo Om buang-buang makanan" kata Dewa kecil menatap Dewa dengan mata hazelnya yang bening.
"Om akan menghabiskannya dulu" kata Dewa rasanya tak bisa menolak saat Dewa kecil menatapnya seperti itu.
"Nah gitu dong Om, aku ambilkan lagi ya sup nya" kata Dewa kecil ingin mengambilkan Dewa sup lagi, tapi karena tangannya yang kecil dia tidak sampai dan harus berdiri. Namun karena gerakannya itu tak sengaja perutnya menyenggol sup panas miliknya yang ditaruh di mangkuk kecil oleh Zoya.
"Aduh! Ibu.....panas...." teriak Dewa kecil.
Dewa dan Zoya sangat kaget melihat hal itu, Zoya bahkan langsung bangkit dari duduknya.
"Astaga! Dewa!" kata Zoya langsung membuka kaos yang dipakai Dewa agar tidak mengenai kulitnya.
"Panas ibu....huwa....."
Kuah sup itu sepertinya memang sangat panas karena baru saja matang membuat Dewa menangis karena tidak tahan akan rasa sakitnya. Zoya langsung bergerak cepat mengambil tepung untuk dioleskan ke perut Dewa kecil yang tampak memerah.
Sedangkan Dewa berdiri mematung, bukan, dia bukannya tidak ingin membantu, tapi dia kaget bukan kepalang saat melihat tanda lahir naga yang sama persis seperti miliknya diperut Dewa kecil. Jantungnya terasa ingin lepas dari tempatnya karena hal itu.
Tanda lahir itu? Tanda lahir itu hanya keluarga Jhonson yang memilikinya. Kenapa anak ini bisa memiliknya? Apa mungkin anak ini adalah anaknya?
__ADS_1
Dewa membesarkan matanya, tiba-tiba firasatnya buruk menerpa dirinya. Dewa lalu ingat perkataan Bayu beberapa saat lalu.
"Dia bukan wanita seperti itu Dewa. Dia itu wanita yang sudah berjuang untuk dirimu, bahkan dia rela menukar hidupnya agar kau bisa diselamatkan waktu itu"
"Itu kenyataannya Dewa! Apa kau tidak berpikir siapa yang sudah membayar operasimu saat itu. Zoya yang melakukannya! Dia mengemis kepada Ayahnya agar memberinya uang untuk membayar tagihan rumah sakit!"
"Itu semua karena persyaratan dari Ayahnya! Dia akan meminjamkan uang pada Zoya tapi dengan syarat Zoya harus meninggalkanmu"
Ucapan-ucapan Bayu berputar di kepala Dewa yang membuat kepalanya sakit seketika. Apa itu semua benar? Alasan Zoya meninggalkannya dulu karena persyaratan dari Ayahnya dan wanita itu rela meninggalkannya demi menyelamatkannya.
Bodoh! Jika benar Zoya melakukan itu semua, dia memang laki-laki yang sangat bodoh... Dia tidak bisa melihat apa yang orang lain lihat... Semua tertutup oleh perasaan sakit hatinya karena Zoya menceraikannya begitu saja. Karena rasa dendam dan niatnya ingin menghancurkan Zoya. Rasa rindu, kemarahan dan rasa cinta membuat dirinya tidak bisa berpikir lagi.
"Argh........." Dewa berteriak karena merasakan kepalanya sangat sakit memikirkan semuanya. Bahkan nafasnya sangat sesak sekali.
"Kau kenapa?" Zoya kaget saat mendengar Dewa berteriak. Anaknya baru saja diam menangis kini gantian Dewa yang berteriak.
Dewa mengangkat pandangannya hingga bertatapan dengan Zoya. Menatap keseluruhan diri Zoya yang kini semakin kurus dan terlihat sekali kesedihan dimatanya.
"Lakukanlah sesukamu, tapi coba sekali saja kau tatap mata Zoya yang penuh luka agar kau sadar apa yang kau rasakan tidak sebanding dengan pengorbanan yang dia berikan"
Dewa? Oh shittt....kenapa dia bisa sebodoh itu sampai tidak menyadari saat pertama kali bertemu anaknya. Zoya....kau bahkan memberi nama putraku dengan namaku, kau memang wanita yang indah dan sangat manis, kau benar-benar mengandung putraku dan kau menjaganya sebaik ini. Tapi apa yang aku lakukan padamu...
Dewa meremas dadanya dan memejamkan matanya erat. Ia ingin berteriak namun hanya air matanya yang menggenang di sudut mata. Hatinya sakit sekali hingga terasa menikam sangat dalam, giginya gemeletuk menahan nyerinya dan kepalanya terasa sangat berat sekali.
Maafkan aku Zoya...Maafkan aku... aku bersalah dan saat ini jantungku ingin meledak...tolong izinkan aku menebus kesalahanku Zoya...Biarkan aku melakukannya walaupun itu hanya satu menit...
"Apa kau baik-baik saja?" kata Zoya mendekati Dewa tapi pria itu mundur.
Dewa tak bisa menahan lagi dirinya, ia sudah tak sanggup hanya untuk sekedar berdiri hingga tubuhnya limbung begitu saja.
"Dewa?" teriak Zoya kaget langsung mendatangi Dewa.
Dewa kecil pun kaget melihat hal itu. "Om baik...Om baik kenapa?" kata Dewa kecil ikut panik.
__ADS_1
"Maaf" bisik Dewa dengan air mata yang mengalir disela rambutnya.
Zoya tidak begitu mendengarnya karena dia sudah begitu panik melihat Dewa yang tiba-tiba pingsan.
"Dewa sayang, tolong panggilan kan Kak Arga ya...kita harus membawa Om ke rumah sakit" kata Zoya pada anaknya.
Zoya terus mencoba membangunkan Dewa tapi hasilnya nihil, pria itu tidak bangun sama sekali membuat Zoya semakin panik. Kenapa Dewa tiba-tiba pingsan, padahal tadi pria itu baik-baik saja.
"Kak Ara? Ada apa kak?" Arga datang tak sampai sepuluh menit setelah Dewa kecil memanggilnya.
"Tolong bantu kakak bawa ke rumah sakit" kata Zoya langsung tak membuang waktunya.
"Dia kenapa?" tanya Arga sedikit bingung saat melihat pria asing itu.
"Nanti kakak ceritanya, sekarang yang penting kita bawa dulu" kata Zoya cepat.
Arga mengangguk dan membantu Zoya untuk memapah tubuh Dewa yang sangat tidak kecil itu dan membawanya pergi ke rumah sakit untuk segera mendapatkan perawatan.
Tadinya Dewa kecil mau ikut, tapi Zoya melarangnya karena anaknya itu juga masih sakit perutnya. Selain itu, rumah sakit juga tempatnya virus dan bakteri, jadi sangat tidak bagus untuk anak kecil.
"Kak, masih lama nggak? Barusan Ibu telepon katanya Dewa nangis terus nanyain kakak" kata Arga setelah cukup lama menunggu Dewa selesai di periksa.
"Nggak tau, tapi kakak juga nggak enak kalau ninggalin sendirian" kata Zoya tentu tak tega jika harus meninggalkan Dewa sendiri. Tapi dia juga bingung karena anaknya juga mencarinya.
"Coba hubungin keluarganya aja kak" kata Arga mengusulkan.
Zoya mengerutkan dahinya, keluarga siapa? Dewa kan tidak punya keluarga lagi. Oh, iya Bayu! dia harus segera menghubungi Bayu.
Zoya mengambil ponsel Dewa yang tadi sempat di bawanya. Tapi ternyata ponselnya memiliki sandi.
"Apa sandinya?" batin Zoya mencoba nama-nama yang berkaitan dengan Dewa tapi semuanya salah hingga membuatnya hampir frustasi.
Tiba-tiba Zoya kepikiran satu hal, ia segera memasukannya dan ternyata bisa dibuka karena sandi ponsel itu adalah tanggal lahirnya.
__ADS_1
Happy Reading.
Tbc.