
Blam...
Suara pintu mobil tertutup. Mei bersama Makoto mulai memasuki tempat tersebut. Cuaca musim panas disini tidak terlalu panas, dengan beberapa hembusan angin yang segara. Tanaman-tanaman yang menghiasi daerah tersebut.Tempat yang lumayan luas, di sertai dengan rumah berbangunan klasik.
Mei menuju sebuah ruang yang berisi ranjang, lemari, kursi beserta meja. Ia menaruh tas yang ia bawa. Ia membuka jendela tersebut. Hembusan angin membuat beberapa helaian rambutnya mengikuti arah angin.
Sedangkan diruangan tengah, terdapat Makoto bersama Bulter Yang. Mereka duduk di salah satu sofa. Sembari sesekali mereka meminum secangkir teh.
"Tuan muda, Kenzo telah mengatur penundaan peluncuran produk, sedangkan masalah ini hanya dapat ditunda selama tiga hari. Tiap negara, anda membutuhkan waktu tiga hari termasuk berangkat dan perginya anda. Apa itu cukup?" Ucap Bulter Yang, mengecek beberapa jadwal Makoto.
Makoto meletakan cangkir diatas meja, Ia menyenderkan badannya pada sandaran sofa.
"ya," Jawab Makoto sembari menghelai napasnya.
"Tuan muda, sebaiknya anda bersiap untuk menunggang kuda." ucap Bulter Yang entah kapan yang berada didepan jendela, melihat pemandangan luar.
Makoto segera bangkit dari duduknya, ia bergegas bersiap dan menuju lahan area perkudaan.
"Hyaaa!" Seru Mei menunggang kudanya.
Kuda yang berwarna putih bersih, terlihat sangat elegan bersamaan dengan Mei. Kuda yang memiliki nama Winter itu, memiliki warna putih seputih salju. Mei mendapatkan kuda tersebut ketika ia datang pertama kalinya ke Jepang pada usia delapan tahun. Dilibur musim dingin yang menyenangkan, pertama kalinya ia menginjakan kaki di negara tersebut.
Tempat ini begitu terawat walau keluarga Matsuda tidak berkunjung, beberapa para staf pekerja yang mengurus tempat tersebut.
Sedangkan Makoto tidak kalah keren dengan adiknya, ia menunggang kuda berwarna coklat miliknya. Mei begitu ahli dalam menunggang kuda, di usianya delapan tahun ia sudah berlatih. Mei kerap melompati beberapa rintangan. Begitu juga Winter yang sangat akrab dan patuh pada Mei.
"apa kau senang?" tanya Makoto menyamakan jaraknya pada Mei.
"ya," jawab Mei cepat tanpa senyuman.
Sejak menipisnya keluarga Matsuda, beberapa kuda disini jarang sekali di tunggangi. Tertolongnya jumlah staf pekerja yang dapat membuat semuanya kuda dapat merasa nyaman layaknya dulu.
Mei mulai meminggir dan berhenti, ia turun dari kuda putih tersebut.
__ADS_1
"Nona muda, ada yang anda perlukan?" tanya Bulter Yang.
"aku ingin menemui staf yang menjaga winter,"
"baik nona."
Bulter Yang kemudian memanggil salah satu staf, seorang gadis berusia sama dengan Makoto. Gadis tersebut nampak tegang dengan kehadiran Mei, ekpreai dingin Mei dan membuay nyali gadis itu menciut.
"Anda yang bisa saya bantu, nona?" tanya gadis itu.
"Bagaimana Winter?" tanya Mei datar.
"Tidak ada kendala nona," jawab gadis itu.
"Mei-chan," panggil Makoto, yang entah kapan berada disamping Mei.
Makoto menatap gadis itu kemudian beralih menatap wajah Mei. Wajah yang mulai memucat, dan beberapa keringat dikeningnya.
"Sudah tiga jam kau menunggang," ucap Makoto.
Gadis penjaga Winter masih tetap dihadapan Mei, sesekali ia mencuri pandangannya kearah Makoto. Hinnga ia pergi ketika Bulter Yang menyuruhnya melanjutkan pekerjaannya.
Mei, Makoto, dan Bulter Yang masuk kedalam penginapan. Mei terduduk lemas diruang tengah. Dengan wajahnya yang pucat ia memejamkan matanya. Makoto menyondorkan sebuah apel untuk diberi Mei, namun Mei menolaknya.
"Apa kau tidak menginginkan apel?" tanya Makoto.
Mei hanya terdiam tidak menjawabkan Makoto. Makoto hanya meletakan apel tersebut pada sebuah meja.
"Mei-chan," panggil Makoto lembut.
Tidak ada balasan dari gadis tersebut. Makoto menyadari bahawa Mei terbawa oleh rasa kantuknya. Mei sejak kecil memiliki fisik yang lemah, ketika ia kelelahan. Ia akan terlihat pucat dan perlahan menjadi lemah. Maka dari itu Mei sangat di jaga oleh kedua kakak kembarnya.
Makoto melempaskan sarung tangan yang masih Mei kenakan. Ia juga mambantu membenarkan posisi Mei dan meletakan bantal pada kepala Mei.
__ADS_1
"Bulter Yang, beri tahu aku jika Mei sudah bangun."
"Baik tuan,"
Makoto segera meninggalkan ruang tengah dan menuju sebuah ruangan kamar tidur. Ia berbaring diranjang dan mulai tidur. Akhir-akhir ini Makoto tidak tidur dengan cukup. Rasa lelah adalah tantangan ia menjadi presdir muda diumurnya.
****
Tempat tinggal para staf.
Jam istirahat para staf adalah jam yang sangat cocok untuk mereka berkumpul. Beberapa gosip mengenai Makoto mulai bermunculan, gosip dari para staf baru, termasuk gadis penjaga Winter.
"Aku penasaran dengan rupa Tuan Matsuda."~
"Ia sangat tampan, dan sempurna." •
"bagaimana kau Tahu?"~
"aku melihatnya saat aku dipanggil oleh adiknya."•
"Benarkah, kau sangat beruntung. Bagaimana dengan adiknya?"~
"sangat cantik dengan ekpresi yang datar dan dingin."•
"Rupa Tuan Matsuda sangat tampan namun sama seperti adiknya, dingin dan datar."♣
"bagaimana kau tahu?"~
"aku yang merawat kuda miliknya,"♣
"kalian sangat beruntung,Tapi aku masih tetap menyukai Presdir Ainsoft,"~
"Presdir Ainsoft adalah Tuan Matsuda!"♣
__ADS_1
Betapa terkejutnya wanita yang menyukai Presdir Ainsoft. Ia terkejut sampai ingin rasanya menari-nari di udara. Tidak disangka seseorang yang ia gemari menjadi tuannya.