
Setelah membantu Rayden bersiap, Zoya lalu kembali ke kamarnya untuk membangunkan Dewa, dilihatnya pria itu masih terlelap dalam tidurnya membuat Zoya mendekat untuk mengguncang pelan bahu Dewa.
"Dewa, bangun..." kata Zoya tapi tak ada respon dari Dewa.
"Dewa, ayo bangun sudah siang" kata Zoya dengan suara sedikit keras tapi Dewa masih tidak bangun juga.
Zoya mengerutkan dahinya merasa tak biasanya Dewa seperti ini, Zoya pun mengulurkan tangannya untuk mengecek keadaan Dewa karena berpikir Dewa sakit atau bagaimana, tapi saat baru saja ia ingin menyentuh Dewa tiba-tiba tangannya ditarik hingga tubuhnya terjatuh di pelukan Dewa.
"Apa....." Ucapan Zoya langsung menguap begitu saja karena Dewa tiba-tiba mencium bibirnya.
"Selamat pagi" kata Dewa tersenyum senang karena berhasil mengagetkan Zoya.
"Dewa! Apa yang kau lakukan? Apa kau lupa perjanjian yang kau buat" kata Zoya berontak dari pelukan Dewa.
"Aku tidak lupa, aku hanya memberi sambutan selamat pagi" kata Dewa santai saja.
"Tetap saja tidak boleh, pokoknya kau tidak boleh melakukan itu sebelum kita menikah" kata Zoya melirik Dewa kesal.
"Baiklah, lagian cuma ciuman doang, kau sudah tidak mencintaiku ya?" kata Dewa cemberut.
"Tidak ada kaitannya dengan cinta, aku hanya tidak ingin kita berbuat dosa terus" kata Zoya seadanya.
"Iya maaf, jangan marah lagi ya" kata Dewa memeluk Zoya mencoba merayu.
"Lain kali jangan seperti itu lagi, sekarang mandilah, aku akan menyiapkan bajumu" kata Zoya mengelus pipi Dewa pelan lalu melepaskan dirinya.
"Aku malas ke kantor" kata Dewa masih belum beranjak.
"Nggak boleh males, kamu bilang mau bahagiain aku, kalau kamunya males kerja mau di kasih makan apa anak-anak kita nanti" kata Zoya melirik Dewa sekilas.
"Anak-anak? Jadi kau berencana mau menambah anak lagi?" kata Dewa tersenyum jahil.
"Kau ini bicara apa sih? Sudah sana mandi, hari ini Rayden masuk sekolah baru, kau bilang akan mengantarkannya, jangan bilang kamu lupa" kata Zoya mengingatkan.
"Ya enggaklah, aku akan mandi sekarang" kata Dewa langsung melesat cepat ke kamar mandi.
Zoya tersenyum geli melihat tingkah Dewa, setelah menyiapkan baju Dewa, Zoya juga segera bersiap karena dia juga akan menunggui Rayden disekolah barunya. Pukul setengah 7 pagi, semua orang sudah berkumpul di meja makan untuk melakukan sarapan bersama.
__ADS_1
"Anak Ibu ganteng" kata Zoya memuji Rayden yang tampak sangat cocok sekali menggunakan seragam sekolahnya.
"Siapa dulu dong Ayahnya" seloroh Dewa yang baru saja datang, ia menyempatkan mencium pipi Rayden lalu bergantian dengan Zoya, tak perduli wanita itu protes atau tidak.
"Jangan menggodaku" kata Zoya melirik Dewa kesal, padahal di meja makan itu juga ada Anderson.
Dewa hanya tersenyum kecil dan memulai memakan sarapannya, mereka makan dengan hening, hanya sendok dan garpu yang terdengar saling bersahutan. Namun keheningan itu tak bertahan lama karena tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut diluar.
"Ada apa?" tanya Zoya bingung.
"Aku akan melihatnya" kata Dewa tak suka karena ada yang menganggu acara sarapan paginya.
"Aku ikut" kata Zoya lagi.
"Tidak usah, kau disini saja temani Rayden" kata Dewa mencegah.
Dewa lalu beranjak meninggalkan ruang makan untuk mengecek apa yang terjadi, saat sampai di ruang tengah, ia melihat Bayu yang berjalan tergesa-gesa, dari wajahnya saja ia tau kalau ada yang tidak beres.
"Dewa" kata Bayu dengan wajah paniknya.
"Gawat, diluar ada Bryan, dia datang bersama Ayahnya Zoya dan membawa beberapa polisi" kata Bayu menjelaskan.
"Kurang ajar! Berani sekali mereka datang kesini" kata Dewa mengeram marah.
"Ya, aku masih menahannya untuk tidak masuk kemari, apa yang harus kita lakukan?" kata Bayu lagi.
"Biarkan aku yang menemuinya, kau amankan Zoya dan juga putraku" kata Dewa menahan emosinya.
Ternyata orang itu masih belum menyerah juga untuk menganggu Zoya, tangan Dewa mengepal erat ingin sekali langsung menghabisi mereka, tapi kini ia harus bermain tenang.
Diluar Bryan tampak berteriak-teriak memanggil Zoya dan terus saja membuat keributan, para pengawal Dewa pun masih terus mencoba menahan pria itu agar tidak sampai masuk kedalam rumah.
"Dewa! Keluar kau! Dasar pengecut!" teriak Bryan begitu keras.
"Siapa yang kau bilang pengecut?" kata Dewa keluar dari rumahnya dan menatap pria itu tajam menusuk.
"Hah! Akhirnya keluar juga kau! Kembalikan istriku" kata Bryan juga menatap Dewa tak kalah tajamnya.
__ADS_1
"Istri siapa yang kau maksud?" kata Dewa justru tersenyum sinis mendengar ucapan Bryan.
"Nggak usah pura-pura bego! Kau tau, tindakanmu ini bisa aku tuntut karena sudah berani membawa istri orang, benarkan Om?" kata Bryan dengan begitu percaya diri.
"Ya benar, Kau ingin mengembalikan putriku dengan cara baik-baik atau kami harus dengan cara kasar" kata Davies membuat Dewa langsung menatap pria itu.
Sorot matanya tampak berubah semakin kejam, pria itu yang menjadi sumber penderitaan Zoya selama ini, pria yang tega memaksa putrinya untuk meninggalkannya, memaksa Zoya untuk menikahi orang yang tidak cintanya, dan yang paling parah, pria itu juga memaksa Zoya untuk melenyapkan bayinya, bagaimana ada seorang Ayah yang sangat kejam seperti ini?
"Selamat pagi Tuan Dewangga, maaf jika kedatangan kami mengganggu waktu anda, kami datang kesini karena mendapatkan laporan kalau anda telah menculik Nona Zoya, istri dari Tuan Bryan Medison" kata ketua polisi.
"Mohon maaf, tapi aku rasa ada kesalahan disini. Bukankah seharusnya dia bersama suaminya? Kenapa kalian mencarinya disini" kata Dewa.
"Hentikanlah sandiwara mu Dewa, apa begini kelakuan seorang pemilik perusahaan Jhonson, membawa kabur istri orang, itu sungguh perbuatan yang memalukan" kata Bryan tampak begitu tak sabar.
"Anda lucu sekali Tuan Bryan, bagaimana anda bisa menuduhku seperti itu? Apakah anda tidak bisa menjaga istri anda sendiri sampai dia bisa kabur seperti ini?" kata Dewa tersenyum licik.
"Jangan banyak ba cod! Cepat kembalikan Zoya atau kau akan menyesal" kata Bryan begitu geram.
"Aku tidak akan mengembalikan apapun karena aku tidak pernah merasa mengambil apapun dari kalian! Justru kau yang harusnya tau diri, kalian bisa aku tuntut pencemaran nama baik karena sudah menuduhku sembarangan" kata Dewa lagi.
"Aku tidak menuduh sembarangan, aku yakin kalau istriku ada di dalam. Aku akan melihatnya" kata Bryan semakin berapi-api.
"Jangan pernah berani menginjakkan kakimu dirumahku!" kata Dewa dengan suara meninggi.
"Kenapa? Kau takutkan kalau kebusukan mu terbongkar! Ayo Pak Polisi, kalian geledah saja rumah orang ini, aku yakin kalau dia menyembunyikan istriku di dalam" kata Bryan memerintah polisi yang dibawanya.
"Mohon maaf Tuan Dewa, jika memang anda tidak membawa Nona Zoya, izinkan kami melakukan pengecekan kedalam" kata Ketua polisi tentu tidak bisa melakukan hal yang semena-mena.
Dewa terdiam menatap Bryan dan Davies yang tampak menyunggingkan senyum liciknya, sungguh sangat memuakkan sekali.
"Silahkan! Jika sampai kalian menemukan Zoya ada didalam, kalian bisa langsung membawanya" kata Dewa santai saja.
"Tapi jika tidak, bersiaplah untuk kehancuran kalian"
Happy Reading.
Tbc.
__ADS_1