
"ZOYA!!!!!!!"
Dewa berteriak dan terbangun dari tidurnya. Nafasnya terengah-engah karena baru saja mengalami mimpi buruk. Dewa mengusap keringat dingin yang membasahi wajahnya. Ia kemudian mengambil air putih yang tersedia di samping ranjang.
Dewa memijat kepalanya yang sangat sakit. Ia selalu saja mengalami mimpi buruk setiap harinya. Padahal sudah lima tahun berlalu, tapi tak sedikitpun Dewa bisa melupakan sosok wanita itu. Dewa sudah mencoba membencinya tapi kenapa ia selalu tak bisa. Semakin ia membenci Zoya maka semakin kuat rasa ingin bertemu dengannya.
Dewa kemudian turun dari ranjangnya menujuk balkon, ia mengambil rokoknya dan menghisapnya untuk menghilangkan rasa berkecamuk dihatinya.
"Bagaimana?" ucap Dewa memutuskan menghubungi seseorang dari ponselnya.
"Belum ada kabar apapun. Anak buah kita juga kesusahan untuk mendapatkan informasi karena rumah itu selalu dijaga ketat. Para pelayan disana juga sangat susah untuk diajak kerja sama"
Dewa menghela nafas panjang dan mengusap wajahnya dengan kasar. "Laporkan padaku jika kau sudah mendapatkan kabar apapun Al" kata Dewa.
"Ya Dewa, tapi apakah menurutmu kita perlu melanjutkannya? Ini sudah lima tahun dan kita tidak bisa menemukan jejak Zoya, apakah tidak sebaiknya kita mengehentikan ini semua?"
Dewa terdiam, memang semenjak kejadian lima tahun lalu, Dewa selalu berusaha mencari Zoya tapi tak sedikitpun usahanya membuahkan hasil. Ia sempat mendengar kalau wanita itu pindah keluar kota bersama suaminya tapi anak buahnya juga tak bisa menemukannya. Zoya benar-benar hilang bagai ditelan bumi.
Dewa melirik jam yang menunjukkan pukul tiga dini hari membuat Dewa tak lagi melanjutkan tidurnya. Selain tak bisa, Dewa kini lebih sering menghabiskan waktunya dengan bekerja. Ia yang memang dasarnya sudah pintar jadi tak kesulitan saat Ayahnya mengajarinya mengelola perusahaan. Bahkan kini nama Dewa sudah cukup terkenal dikalangan pebisnis muda lainnya.
Dewa sudah banyak sekali berubah, ia bukan lagi pria ramah yang suka menebar senyumnya kepada orang. Ia menjadi sosok kaku dan sangat dingin, apalagi jika dengan wanita. Dengan statusnya sekarang, tak jarang banyak wanita mengumpankan tubuhnya kepada Dewa, tapi tak sedikitpun Dewa meliriknya.
Namun ada kalanya dia lelah karena pekerjaan dan tumpukkan rasa sakit hati yang mendera membuat Dewa memanggil seseorang untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Dewa melakukannya tanpa harus melakukannya? you know?
"Kau sudah bangun jam segini?" Anderson heran saat melihat putranya sudah sangat rapi di jam setengah enam pagi.
"Ya Ayah, hari ini ada meeting penting" kata Dewa seadaanya. Ia sudah terbiasa berangkat pagi ke kantornya karena baginya hanya pekerjaan yang bisa melupakan semua masalah hidupnya.
__ADS_1
"Jangan terlalu memforsir dirimu Nak, Ayah tau apa yang kau rasakan, tapi kau juga harus ingat kesehatanmu" kata Anderson cukup cemas dengan kesehatan putranya yang sering menghabiskan waktunya dengan bekerja. Sebenarnya untuk yang satu ini, Dewa sangat persis seperti dirinya.
"Aku baik-baik saja Ayah, mungkin minggu depan aku akan ke Jakarta. Aku mendapatkan proyek baru disana" kata Dewa membuat Anderson terdiam.
"Selamat pagi" terdengar suara Aldin baru saja datang dengan tampilan tak kalah rapinya dari Dewa.
"Pagi, kapan kau kembali?" kata Dewa melirik Aldin sekilas.
"Semalam aku baru saja sampai" kata Aldin.
"Sarapan dulu Al" kata Anderson.
"Tidak usah Paman, aku akan sarapan di kantor nanti" kata Aldin lagi.
"Bagaimana liburanmu? Apakah menyenangkan?" tanya Dewa.
"Kalau kau lelah kau bisa mengambil libur Al, kau sudah sangat bekerja keras untuk keluargaku" kata Anderson ikut menimpali.
"Ayah benar, kau bisa libur dulu sementara ini. Sekarang Bayu juga sudah bekerja lebih baik" kata Dewa lagi.
"Hahaha, tidak-tidak. Sudah cukup liburanku. Aku akan kembali bekerja lagi hari ini" kata Aldin malah sungkan sediri jika Dewa sering mengizinkannya mengambil cuti.
"Baiklah, minggu depan aku akan ke Jakarta bersama Bayu. Untuk sementara kau yang memimpin perusahaan disini" kata Dewa menyudahi sarapannya.
"Kau akan ke Jakarta?" tanya Aldin sedikit kaget karena baru tau.
"Ya, kau ingat Belaxe High Conporation kan? Dia menawarkan kerjasama dengan perusahaan kita. Dan pemilik perusahaan itu ingin bertemu denganku langsung" kata Dewa menjelaskan.
__ADS_1
"Oh ya benar, itu memang perusahan besar di Jakarta, kerja sama ini pasti akan sangat menguntungkan" kata Aldin mengangguk-anggukkan kepalanya karena nama perusahaan itu memang sudah sangat terkenal.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Dewa langsung berangkat ke kantor. Di depan rumahnya sudah ada Bayu yang standby di samping mobilnya. Dewa memang sudah memperkerjakan Bayu sebagai sekretaris pribadinya untuk membantu Aldin setelah dirinya diangkat sebagai pemimpin perusahaan. Dewa tak akan pernah melupakan jasa pria itu karena saat dirinya kecelakaan, Bayu yang selalu setia menemaninya.
"Selamat pagi bos Dewa" kata Bayu menyapa dengan gayanya yang cukup cengengesan.
"Ya, hari ini apa saja jadwalku?" kata Dewa masuk ke mobilnya setelah Bayu membukakan pintunya.
Bayu dengan sigap membuka tabletnya untuk melihat jadwal Dewa hari ini. Lima tahun bukan waktu yang mudah untuk Bayu belajar sebagai sekretaris pribadi, apalagi dirinya yang notabennya orang yang tak terlalu pintar membuat ia cukup kesusahan belajar di awal pekerjaannya.
Tapi Dewa tak pernah mempermasalahkannya sama sekali, pria itu memang berubah, namun menurut Bayu Dewa tetap pria baik yang memiliki hati yang lembut. Hanya saja kini tertutup oleh rasa dendam karena sakit hati pada sosok Zoya yang saat ini entah dimana keberadaanya.
"Hari ini kita akan ada pertemuan dengan Tuan Bernando jam 10" kata Bayu setelah membaca tabletnya.
"Baiklah, lalu bagaimana dengan minggu depan? Sudah siap semuanya kan?" kata Dewa lagi.
"Ya, saya sudah menyiapkan semuanya Tuan. Kita bisa berangkat hari sabtu nanti" kata Bayu langsung tau posisinya. Ia harus membedakan mana yang pekerjaan dan mana yang bukan.
Dewa mengangguk mengerti, ia segera turun dari mobilnya ketika mereka tiba di gedung Jhonson Conporation. Para pegawai langsung memberikan salamnya pada Dewa, tapi Dewa hanya bergeming, ia tetap berjalan lurus tanpa ekspresi.
Dewa sering dikira sombong oleh orang lain karena sikapnya yang sangat dingin kepada semua orang. Tapi ia juga sangat disegani oleh karyawannya karena jika Dewa sudah marah, maka mustahil jika orang itu akan lolos. Apalagi jika dia seorang pengkhianat, Dewa pasti akan menghancurkan orang itu sampai habis tak tersisa.
Pernah suatu kali ada seorang manager yang ketahuan menggelapkan dana perusahaan mereka, Dewa langsung menghukum orang itu dengan tangannya sendiri. Makanya kini semua orang yang bekerja disana sangat berhati-hati untuk tidak melakukan kesalahan dan yang pastinya jangan menjadi pengkhianat.
Karena Dewa sangat membenci seorang pengkhianat dan dia sangat tidak bisa mentolerir segala jenis pengkhianatan meski sebesar pasir sekalipun.
Happy Reading.
__ADS_1
Tbc.