
Dewa berjalan pelan menuju ruangan tempat Zoya berada. Ia harus menuruni sebuah tangga untuk tiba di ruangan pojok selatan yang di maksud oleh penjaga tadi. Disana hanya ada satu ruangan, jadi kemungkinan besar itu adalah ruangan Zoya.
Zoya duduk meringkuk di kamarnya mendengarkan deburan ombak yang memecah kesunyian malam. Ia sudah mencoba mengelilingi kamar itu untuk mencari jalan keluar, namun tidak ada celah sedikitpun untuk Zoya lolos karena ia mungkin bisa keluar, tapi akan lari kemana? dia sedang berada di lautan.
Jam sudah menunjukkan pukul 1 malam, namun tak sedikitpun rasa kantuk menyerangnya. Pikiran Zoya menerawang kemana-mana. Bagaimana? Apa yang harus dilakukan sekarang? Apakah Dewa benar-benar tidak bisa menemukannya?.
Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu sebanyak tiga kali, Zoya langsung waspada, logikanya berpikir itu adalah Bryan, tapi jika Bryan untuk apa dia harus mengetuk pintu dulu. Zoya segera bangkit mendekati pintu itu, tiga kali ketukan itu kembali terdengar dan Zoya menjawabnya dengan suara yang sama.
Mendengar sahutan dari dalam Dewa langsung sigap. "Zoya?" ucapnya.
Mata Zoya membesar saat mendengar suara berat itu, tanpa pikir panjang ia langsung membuka pintu yang menjadi penghalang antara keduanya. Ketika matanya bertatap dengan Dewa, ia langsung menghambur ke pelukan hangatnya.
Dewa membalas pelukan itu dengan erat, rasanya separuh jiwanya telah kembali kepadanya. Rasa takut, cemas dan khawatirnya lenyap begitu saja saat bisa memeluk wanitanya. Ia tak henti menciumi rambut Zoya dengan lembut.
Rasa dingin dan basah baju Dewa tak menghalangi pelukan hangat itu. Zoya menangis karena bisa kembali bertemu pria ini, dia pikir Dewa tidak akan menemukannya di lautan lepas ini.
"Kau tidak apa-apa?" kata Dewa mengurai pelukannya dan menatap Zoya.
Wajahnya langsung mengeras saat melihat lebam di pipi Zoya dan juga sudut bibirnya yang meninggalkan bekas keunguan. Selain itu ada darah yang mengering di sekitar hidung dan leher Zoya, baju wanita itu juga robek membuat amarah Dewa sampai ke ubun-ubun.
"Apakah ini Bryan yang melakukannya?" kata Dewa menyentuh pipi Zoya, namun karena masih sakit ia mendesis.
"Kurang ajar! Aku tidak akan mengampuninya" kata Dewa semakin membara amarahnya.
"Dewa, aku tidak apa-apa, ayo bawa aku pergi darisini" kata Zoya menenangkan Dewa.
"Dengarkan aku Zoya. Saat ini posisi kita belum aman" kata Dewa mendorong tubuh Zoya kembali ke dalam.
"Dengarkan aku baik-baik. Kau tetap di kamar ini, bersembunyi lah dilemari itu, kau mengerti?" kata Dewa memegang kedua lengan Zoya lembut.
Zoya mengerutkan dahinya, kenapa dia harus tetap disana? Kenapa Dewa tidak membawanya ke tempat aman?
__ADS_1
"Ikuti saja. Ada hal yang harus aku selesaikan, kau mengerti kan? Jangan keluar untuk alasan apapun, jika ada yang memberimu tanda ketukan seperti tadi, dia adalah anak buahku, tapi jika ada yang memanggilmu jangan pernah keluar" kata Dewa dengan sorot mata seriusnya.
"Kau mau kemana?" Zoya tak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya.
"Aku harus menuntaskan semuanya, menyingkirkan duri dalam kehidupan kita untuk selamanya" kata Dewa dengan sorot mata tajam yang hampir saja Zoya tak mengenalinya.
"Tapi Dewa...."
"Masuklah, aku pasti datang menjemputmu"
Zoya tidak suka kata-kata itu, entah kenapa rasanya seperti sebuah perpisahan yang terselubung. Tapi saat melihat sorot mata Dewa, ia tau kalau pria ini merencanakan sesuatu.
"Aku pasti kembali, masuklah!" kata Dewa lagi.
Zoya mengangguk singkat, cepat-cepat ia masuk kedalam ke lemari itu untuk bersembunyi. Dewa yang melihat Zoya sudah masuk, langsung mengambil alat komunikasinya.
"Laporkan kepadaku situasinya, dan kita harus bersiap" kata Dewa menjauh meninggalkan kamar Zoya.
Dewa menghampiri kedua anak buahnya yang sudah menunggunya, ia segera memberikan gestur kepada mereka untuk mengikutinya.
Dewa segera menuju ruangan dimana Zachary berada terlebih dulu, Ia lalu mengambil senjata miliknya dan menembakkannya ke arah pintu hingga terdengar suara yang begitu keras. Bahkan sangat keras hingga membangunkan seluruh penghuni kapal itu.
Zachary yang masih berasyik masyuk dengan wanitanya seketika menghentikan aktivitasnya. Ia langsung waspada dan turun dari atas tubuh wanitanya.
"Baby....ada apa itu?" tanya wanita Zachary takut.
"Aku akan melihatnya" kata Zachary segera memakai bajunya dan mengambil senjatanya.
Zachary keluar dari kamarnya dan ia kaget saat melihat penjaganya menjauh darinya, ia juga melihat Bryan yang baru saja keluar dari kamarnya. Sedangkan Davies mungkin tidak mendengar karena kamar miliknya kedap suara.
"Ada apa?" kata Zachary.
__ADS_1
"Kapal kita diserang Tuan" kata Penjaga itu juga panik.
"Sial! Bagaimana Dewa bisa menemukan kita? Bukankah kita sudah jauh di tengah lautan?" kata Bryan sudah tau jika Dewa yang menyerang kita.
"Sepertinya di atas ada orang Tuan" kata penjaga itu lagi.
Wajah Zachary langsung berubah, amarahnya memuncak karena Dewa sudah berani mengganggu dirinya.
"Kau lihat Zoya di kamarnya, aku akan menghabisi pria miskin itu" kata Zachary pada Bryan.
Zachary segera berlari menuju bagian atas kapal, dan benar saja sudah ada Dewa ada disana. Tatapan mereka tak putus, antara kemarahan dan juga kebencian yang membara.
"Kau berani mendatangiku? apakah kau mau mengantarkan nyawamu kepadaku?" kata Zachary terus menatap tajam pada Dewa.
"Justru aku yang akan mencabut nyawamu dengan tanganku sendiri" kata Dewa sangat dingin seperti udara malam itu.
"Tak ku sangka kau begitu mencintai wanita pembawa sial itu. Menyesal sekali aku sudah menjebak kalian dulu" kata Zachary berdecih.
"Pertemuanku dengan Zoya adalah takdir! Seberapa pun kau dan Ayahmu mencoba memisahkan kami. Kami akan tetap kembali bersama" kata Dewa semakin menyulut emosi Zachary.
"Jangan banyak bicara omong kosong! Kita selesaikan sekarang juga" kata Zachary tak sabar langsung merangsek maju untuk menghajar Dewa.
Dewa tersenyum licik, akhirnya Zachary masuk kedalam perangkapnya. Ia langsung mengelak ketika Zachary ingin memukulnya. Dinginnya malam itu tak menghalangi perkelahian sengit antara keduanya.
Mereka saling melawan dan menepis namun tak sedikitpun mengenai mereka. Zachary segera melayangkan sebuah pukulan di perut Dewa hingga pria itu membungkuk dan mundur ke belakang.
Dewa memegang perutnya yang nyeri, ia menatap Zachary yang bersiap melancarkan tendangan ke arahnya, dengan cepat Dewa menangkap kaki itu lalu kembali menendang dada Zachary hingga ia terjengkang ke belakang, untung saja di atas itu ada pagar pembatas kapal membuat ia tidak sampai jatuh ke lautan.
"Brengsek!" teriak Zachary ingin bangkit tapi sekali lagi ia kalah cepat, Dewa kembali menghantamnya dengan pukulan telak di pipinya hingga ia kembali limbung.
Dewa tersenyum sinis, tubuhnya berdiri menjulang di kegelapan malam itu, ia mengambil pistolnya dan bersiap mengarahkannya ke arah Zachary yang kaget. Dewa tak peduli jika harus membunuh Zachary, karena pria ini sudah menjadi sumber penderitaan dalam hidup Zoya. Jadi dia pantas untuk mati.
__ADS_1
Happy Reading.
Tbc.