
Dewa masih dilanda kebingungan saat pria paruh baya itu pergi, ia kemudian menatap pusara ibunya yang penuh taburan bunga, selain itu ada bunga kesukaan ibunya ada disana. Dewa semakin penasaran siapa sosok pria tadi? kenapa dia juga tau bunga kesukaan ibunya.
"Dewa" kata Zoya membuat Dewa tersadar dari pemikirannya.
"Ya?" sahut Dewa.
"Apa kau mengenal orang tadi?"
"Tidak"
"Apa mungkin dia Ayahmu?" kata Zoya langsung mengeluarkan isi kepalanya. Kenapa ia berpikir seperti itu karena ada satu hal yang membuatnya yakin, yaitu wajah mereka mirip, bahkan sangat mirip bak pinang di belah dua. Hanya saja pria tadi lebih tua.
Dewa mengerutkan dahinya, ia menatap Zoya yang memasang wajah seriusnya itu, ia kemudian tertawa kecil.
"Enggak mungkin lah, ada-ada aja" kata Dewa tak percaya kalau orang tadi Ayahnya.
"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu? bisa jadi tadi memang Ayahmu, wajah kalian mirip" kata Zoya.
"Hanya karena orang tadi mirip denganku bukan berarti dia Ayahku, apa kau tidak tau kalau di dunia ini ada tujuh orang yang memiliki wajah yang mirip dengan kita, bisa jadi orang tadi salah satu yang mirip denganku" kata Dewa malah tersenyum lucu karena perkataan Zoya.
"Ish, Tapi orang tadi beneran mirip kamu, Lagipula kenapa orang tadi disini coba? Bukankah kau bilang kalau kau tidak punya keluarga lain?" kata Zoya masih menggebu.
Dewa berpikir sejenak, ia juga merasa aneh saat melihat orang tadi. Apakah benar itu adalah Ayahnya? tapi kenapa pria tadi hanya pergi begitu saja?
"Sudah tak perlu memikirkannya, kita baca doa dulu buat ibuku, setelah ini aku akan mengajakmu ke rumah temanku" kata Dewa tak ingin terlalu mengharapkan hal yang akan membuat dirinya kecewa.
Zoya mengangguk singkat, ia benar-benar yakin kalau pria tadi adalah Ayah Dewa. Sejauh ini instingnya tak pernah meleset. Selain wajah yang mirip, Zoya bisa melihat tatapan mata tak biasa dari pria tadi. Well? Kalau Dewa tau penilaiannya tentang pria tadi, Dewa pasti akan menganggapnya sok tau.
Setelah membacakan doa untuk ibu Dewa, mereka segera pergi dari pemakaman. Dewa bilang akan mengajak Zoya pergi ke rumah temannya, rumahnya lumayan jauh dari pemakaman membuat mereka harus naik angkot dua kali.
"Ini rumahnya mana sih? masih jauh?" tanya Zoya saat mereka turun dari angkot, tapi harus menyusuri jalan lagi.
__ADS_1
"Sebentar lagi sampai" kata Dewa seadanya.
"Kenapa kamu mau ngajak aku kesana? Ada acara?" kata Zoya lagi. Ia menatap lalu lalang orang yang sangat ramai sekali. Saat pandangannya menyapu keseluruhan tempat itu, matanya tak sengaja melihat sosok orang yang sangat dia kenal.
"Enggak ada acara, mau ngajak main aja" kata Dewa tersenyum tipis.
"Leon!" ucap Zoya keceplosan karena sangking kagetnya melihat Leon yang sedang berada di depan kafe. Pria itu tak melihatnya tapi ia sudah ketakutan sendiri.
"Leon siapa?" kata Dewa menatap Zoya bingung.
"Ha? bukan siapa-siapa? Apakah kita harus kesana? Aku ingin pulang" kata Zoya merasa cemas dan panik. Leon pasti tak akan melepaskannya begitu saja.
"Pulang? Kenapa?" Dewa semakin tak mengerti. Ia menatap Zoya yang tampak sangat panik itu. Ia kemudian mengikuti arah pandangan Zoya tapi wanita itu keburu menarik tangannya untuk pergi.
"Kita harus secepatnya pergi" kata Zoya merasa harus pergi dari sana sebelum Leon menyadari keberadaannya.
"Ada apa sih?" kata Dewa menghentikan langkahnya membuat Zoya juga berhenti.
"Ya tapi kenapa? Aku bukan anak kecil yang mau melakukan apapun tanpa tau alasan pasti, kenapa kau mengajakku pergi?" kata Dewa lagi.
Zoya berdecak kesal. "Aku hanya kebelet pipis, puas kau sekarang? Ayo kita pergi dari sini" kata Zoya kembali menarik tangan Dewa.
Tapi sepertinya ia terlambat karena Leon sudah lebih dulu melihat dirinya, mata Zoya membesar saat melihat pria itu bangkit dari duduknya.
"Dewa, Dewa, Ayo kita pergi, aku sudah tidak tahan" kata Zoya dengan gerakan cepat menarik tangan Dewa untuk kabur dari sana.
Leon ikut mempercepat langkahnya, ia sangat yakin kalau tadi melihat Zoya ada disana. Wajah pria itu tampak sangat kesal jika mengingat apa yang sudah di lakukan Zoya, kepalanya saja baru sembuh karena pukulan lampu tidur beberapa minggu lalu.
"Dasar wanita kurang ajar! Awas saja kalau sampai ketemu" umpat Leon begitu kesal karena kehilangan jejak Zoya.
Ia benar-benar tak akan membiarkan wanita itu lolos, selain sudah berani melukainya, Zoya juga sudah lancang mencuri uangnya. Ia harus mendapatkan wanita itu apapun caranya. Apapun itu.
__ADS_1
Sementara disisi lain, Zoya bernafas lega saat bisa lolos dari kejaran Leon, ia mengatur nafasnya yang tersengal karena berjalan terlalu cepat.
"Sebenarnya kau ini kenapa?" tanya Dewa curiga ada yang tidak beres. Kalau hanya kebelet pipis, Zoya pasti tak akan se panik ini.
"I'm fine, rumah temanmu mana? Aku numpang pipis disana aja nanti" kata Zoya cepat.
"Udah nggak jauh, mungkin tinggal beberapa rumah aja, Ayo" kata Dewa menggenggam lembut tangan Zoya.
Zoya lega karena Dewa sudah tak mencurigainya, tapi mau sampai kapan ia menyembunyikan masalah ini dari Dewa? semuanya pasti akan terbongkar cepat atau lambat. Apa dia jujur saja? Tapi bagaimana kalau Dewa malah marah karena tau ia sudah bermain kasino dan taruhan.
Setelah berjalan beberapa meter, mereka sampai di rumah yang terlihat cukup besar dibanding yang lain, rumah itu tampak sangat asri dan rindang karena di sampingnya ada pohon besar.
"Ini rumah temen kamu?" tanya Zoya.
"Iya, ayo" kata Dewa kembali meraih tangan Zoya, tapi ia tidak mengajaknya masuk kedalam rumah membuat Zoya bingung.
"Kita tidak masuk kedalam? kenapa....?" ucapan Zoya langsung menguap begitu saja saat Dewa mengajaknya ke halaman samping rumah.
Disana ternyata banyak sekali orang, ada juga anak-anak kecil yang duduk melingkar di tanah yang beralaskan karpet. Selain itu juga ada banyak sekali makanan yang tersaji, tapi yang lebih membuat Zoya kaget adalah, ada sebuah kain yang di hias dan bertuliskan.
Selamat Ulang Tahun Zoya.
"Dewa ini......" Zoya tak mampu lagi berkata-kata, matanya sudah memanas saat melihat Dewa tersenyum padanya.
"Selamat ulang tahun yang ke 20" kata Dewa dengan senyumnya.
Zoya tak menjawab, air matanya langsung lolos begitu saja dan langsung menubruk tubuh Dewa. Ini adalah pertama kalinya ada yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya, dan ini juga pertama kalinya acara ulang tahunnya di rayakan selama dua puluh tahun. Dan semua itu dilakukan oleh Dewa. Zoya tak bisa lagi menggambarkan bagaimana perasannya, sangat senang hingga tak bisa diucapkan dengan kata-kata.
Happy Reading.
Tbc.
__ADS_1