
Zoya segera masuk kedalam toilet untuk menuntaskan hajatnya, didalam toilet itu ada tiga pintu, Zoya langsung masuk kedalam pintu yang terbuka, setelah selesai ia langsung keluar namun ia kaget saat tiba-tiba tangannya ditarik dengan kasar oleh seorang pria, lalu dengan cepat pria itu melingkarkan sebuah pisau dilehernya.
"Argh......Kau siapa?!!!" Zoya berteriak kaget, ketakutan langsung menyergap dirinya saat merasakan pisau itu menyentuh lehernya.
"Diamlah sayang, aku tidak akan menyakitimu" bisik Bryan diiringi aura mengancam yang kental.
"Bryan! Kau mau apa? Lepaskan aku" kata Zoya marah namun juga tak bisa bergerak.
"Melepaskan mu? Tidak akan, kau itu masih istriku, jadi kau harus ikut bersamaku! Buka pintunya sekarang dan panggil pria selingkuhanmu itu" kata Bryan mengeluarkan pis tol dari saku celananya dan menekankan ke pelipis Zoya.
Zoya memejamkan matanya, tubuhnya mulai bergetar hebat karena kini tubuhnya dilingkari oleh pisau dan juga pis tol.
"Buka pintunya!" bentak Bryan dengan begitu keras lalu sedikit mendorong tubuh Zoya sampai ke depan pintu.
Dewa yang menunggu diluar mulai curiga karena cukup lama Zoya belum kembali, entah kenapa mendadak perasaannya tak enak, ia ingin menyusul kedalam tapi juga masih punya akal karena itu toilet perempuan. Akhirnya daripada tidak tenang, Dewa memutuskan untuk langsung melihatnya kedalam.
Namun baru saja beberapa langkah ia berjalan, pintu toilet terbuka, Dewa pun langsung melihatnya, namun ia kaget bukan kepalang saat melihat Zoya bersama Bryan.
"Dewa" kata Zoya menatap Dewa dengan mata berkaca-kaca.
"Zoya!" teriak Dewa ingin langsung mendekat tapi saat melihat pisau dan pistol yang melingkari tubuh Zoya ia mengurungkan niatnya.
"Diam! Sekali saja kau melangkah, aku pastikan dia akan mati" kata Bryan sedikit menekan pisau itu hingga sedikit mengenai Zoya.
"Apa maumu?" kata Dewa mengepalkan tangannya erat, hatinya terasa nyeri saat melihat Zoya terluka tapi dia tidak bisa melakukan apapun.
"Kau bertanya mauku? Aku ingin membawa istriku pulang, jadi jangan coba-coba menghalangiku" kata Bryan menatap Dewa bengis.
__ADS_1
"Kau gila! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!" kata Dewa ingin merangsek maju untuk menghajar habis si brengsek Bryan tapi dia menahannya karena takut Bryan akan melukai Zoya.
"Majulah Dewa! Jika kau ingin melihat wanita ini mati" kata Bryan menyeringai.
"Kau yang harusnya menghentikan kegilaanmu ini Bryan! Apa kau pikir kau bisa lolos dari sini? tempat ini sudah penuh oleh anak buahku" kata Dewa mencoba tenang, ia berpikir bagaimana caranya menyelamatkan Zoya tanpa harus membuat wanita itu terluka.
"Benarkah? Memangnya apa yang bisa mereka lakukan? Kau lihat siapa yang ada ditanganku sekarang? Jika kau berani menyentuhku, kau tau sendiri akibatnya bukan? Jadi bagaimana Dewa? Mau mencoba melawan?" kata Bryan kembali menekan pisau itu hingga membuat luka sayatan yang cukup memanjang di leher Zoya.
"Argh....." Zoya berteriak kecil karena merasa begitu perih sekali.
Dewa mengepalkan tangannya semakin erat, hatinya bertambah nyeri saat melihat Zoya begitu kesakitan, apalagi melihat sorot mata yang tampak begitu berharap. Tapi dia juga tidak bisa gegabah.
"Aku akan menuruti apapun keinginanmu, tapi jangan sakiti dia" kata Dewa bahkan jika harus berlutut pun dia siap.
"Mundur! Aku ingin kau mundur dan singkirkan semua orang tidak penting itu" kata Bryan dengan nada mengancamnya.
Dewa kembali menatap Zoya, kali ini mungkin dia harus kalah. Perlahan Dewa mundur dan menyuruh anak buahnya ikut mundur. Para keamanan restoran pun tidak bisa melakukan apapun karena takut akan berakibat fatal.
Tapi ini bukan saatnya ia meratapi ini semua, ia harus bergerak cepat untuk mencari kemana Bryan membawa Zoya. Dewa buru-buru bangkit untuk menghubungi semua koneksinya agar bisa membatu melacak keberadaan Zoya.
****
Bryan mendorong tubuh Zoya dengan kasar masuk kedalam mobil tak perduli wanita itu kesakitan atau tidak. Setelah dia masuk, ia segera menyuruh supirnya untuk menjalankan mobilnya. Bryan lalu melirik Zoya dengan tajam membuat wanita itu beringsut menjauh.
"Berikan ponselmu" kata Bryan dingin.
"Tidak mau!" kata Zoya memeluk tas miliknya tak ingin sampai Bryan mengambil ponselnya.
__ADS_1
"Aku bilang berikan!" bentak Bryan dengan suara yang begitu keras membuat Zoya terjingkat kaget.
Bryan begitu geram, ia langsung menarik tas milik Zoya dan mencari ponselnya seperti orang kesetanan.
"Bryan! Kau tidak berhak melakukan ini padaku" kata Zoya merebut tas miliknya tapi Bryan sudah lebih dulu mendapatkan ponselnya dan membuangnya ke jalanan.
Zoya menutup mulutnya, ia menatap Bryan yang meliriknya tajam mengerikan seperti psikopat gila yang ada di film-film.
"Dengan begini Dewa tidak akan bisa menemukanmu" kata Bryan menyimpan pistolnya kembali.
"Kenapa kau lakukan ini semua? Aku sudah tidak ingin hidup bersamamu! Bukankah kau juga tidak mencintaiku, jadi kenapa kau harus bersikukuh untuk kembali padaku! Apa yang sebenarnya kau inginkan" kata Zoya.
"Kau rupanya sudah begitu jatuh cinta ya dengan pria selingkuhanmu itu? Apakah yang diberikannya sangat memuaskan? Tenang saja, aku pun bisa memberikanmu yang lebih dari dia" kata Bryan memberi tatapan merendahkan pada Zoya.
"Brengsek! Aku tidak mau bersamamu lagi!" teriak Zoya merasa marah karena Bryan menatapnya seperti itu.
Bryan langsung menatap Zoya sangat tajam, tatapan tajam itu lebih mengerikan dari sebelumnya, ia kemudian menarik dagu Zoya hingga menatapnya dan ia mendekatkan wajahnya.
"Aku tidak perduli kau mau denganku atau tidak itu tidak mempengaruhi niatku untuk mendapatkan mu karena kau harus satu hal, kau itu hanya milikku dan tidak akan ada yang bisa merubah hal itu, jika aku tidak bisa memilikmu, maka Dewa pun tidak akan bisa" kata Bryan langsung memegang kedua sisi kepala Zoya dan mencium bibirnya dengan kasar.
Zoya kaget dan langsung berontak, ia memukul-mukul dada Bryan dan sebisa mungkin mengatupkan mulutnya agar tidak di cium oleh Bryan. Zoya tidak rela jika tubuhnya sampai disentuh oleh ba ji ngan ini.
"Ehmmmhhhhh....." Zoya terus memukuli Bryan dan berontak hingga membuat amarah Bryan memuncak, ia tanpa pikir panjang langsung menampar pipi Zoya dengan sangat keras.
Kepala Zoya langsung berdengung, tamparan itu begitu keras hingga sudut bibirnya sobek, dan anyir darah terasa. Zoya meringis kesakitan, sangat sakit hingga ia kehilangan kesadarannya dan ambruk begitu saja
Bryan tak perduli sama sekali, justru jika Zoya pingsan, dia akan lebih leluasa membawa wanita keras kepala ini. Bryan tersenyum licik, sebentar lagi kau akan menjadi milikku seutuhnya.
__ADS_1
Happy Reading.
Tbc.