I'M FINE

I'M FINE
Rasa Yang Masih Tertinggal.


__ADS_3

Dewa mematikan sambungan ponsel itu dengan perasaan tak menentu, ia bingung dan tak tenang meninggalkan istrinya sendirian di Resort. Tapi ia juga tak mungkin meninggalkan anaknya yang sedang dalam masa perawatan.


"Kau sudah menghubungi Zoya?" tanya Anderson.


"Sudah, Ayah istirahat saja. Biarkan aku yang menunggu Rayden," ucap Dewa juga memperhatikan kondisi Ayahnya.


"Kalau kau tidak tenang meninggalkan Zoya, pulang saja. Ayah akan menunggui Rayden disini. Ada Bayu juga di luar," kata Anderson tau apa yang dirasakan putranya. Hanya melihat raut wajahnya saja, ia tau kalau putranya ini sangat mencemaskan istrinya.


"Tidak perlu, Aku akan menunggu disini Ayah. Besok kita juga sudah pulang," kata Dewa melihat Rayden yang tertidur pulas. Tubuh anaknya itu masih kemerah-merahan karena efek Alergi tadi.


"Percayalah Rayden akan baik-baik saja disini. Istrimu lebih membutuhkanmu sekarang. Dia sedang hamil besar, nanti mungkin dia akan membutuhkan sesuatu," kata Anderson lagi.


Dewa terdiam, memang sejak tadi itulah yang ia rasakan. Biasanya kalau malam begini, Zoya cukup kesusahan tidur karena pinggangnya sering sakit. Apalagi kakinya yang bengkak, sering dikeluhkannya pada Dewa setiap malam.


"Apakah Rayden tidak apa-apa?" ucap Dewa ragu jika meninggalkan anaknya.


"Rayden baik-baik saja. Sekarang dia sudah diberi obat, sebentar lagi dia akan sembuh" kata Anderson meyakinkan anaknya.


Dewa awalnya masih sangat ragu karena melihat kondisi anaknya. Tapi Ayahnya terus meyakinkan dirinya kalau Rayden aman disana. Dewa pun akhirnya pulang ke Resort untuk menemani istrinya. Bukannya ia lebih sayang istri daripada anaknya. Namun, Zoya pun sama-sama membutuhkannya.


Malam sudah cukup larut ketika Dewa kembali ke Resort. Para penghuni Resort sepertinya sudah pada tidur, ia langsung berjalan menuju kamarnya. Saat ia melewati salah satu kamar, ia mendengar suara orang yang bertengkar, tapi Dewa sama sekali tak perduli, ia tetap melanjutkan langkahnya hingga ia mendengar suara pintu yang dibuka dengan paksa.


Tara terlihat keluar dari kamarnya seraya menangis, rambut wanita itu tampak acak-acakan dan pipinya terlihat memerah seperti bekas telapak tangan seseorang. Dia memang baru saja bertengkar dengan suaminya karena saat mereka melakukan hubungan, Tara tanpa sadar menyebut nama orang lain.


"Dewa!" ucap Tara tak bisa lagi membendung tangisnya ketika melihat sosok Dewa. Ia langsung menghambur ke pelukan pria itu.


"Tara! Apa yang kau lakukan! Jangan seperti ini" kata Dewa langsung mendorong wanita itu dengan kasar.


"Tolong aku Dewa, Frans sedang marah dan dia memukuliku," kata Tara dengan wajah ketakutannya.

__ADS_1


"Itu urusan pribadimu, aku tidak ingin ikut campur" ucap Dewa tegas.


"Dewa, please. Aku hanya butuh waktu sendirian, aku tidak mau Frans akan memukuliku lagi," kata Tara memegang tangan Dewa lembut.


Raut wajah Dewa tak berubah, ia malah menepis pelan tangan Tara. Tanpa mengucapkan apapun, ia langsung saja pergi darisana. Ia tak ingin hanya karena rasa kasihan, masalahnya akan runyam kemana-mana.


Tara tak menyerah, ia langsung berlari dan memeluk Dewa dari belakang.


"Tara! Jaga sikapmu!" bentak Dewa kaget dan juga kesal karena tingkah wanita ini.


"Maafkan aku. Aku sudah mencoba melupakanmu, tapi nyatanya aku tidak bisa. Kau selalu ada di pikiranku sejak dulu. Dewa, aku masih mencintaimu" ucap Tara menangis seraya memeluk Dewa dari belakang.


Dewa mendengus kesal, kenapa sih wanita ini sangat tidak tau malu sama sekali pikirnya. Padahal jelas, alasan mereka berpisah karena wanita ini yang mengkhianatinya, tapi sekarang wanita ini juga yang mengatakan masih mencintainya. Sungguh omong kosong yang memuakkan.


Tanpa mereka sadari, Zoya sejak tadi melihat apa yang terjadi antara keduanya. Jaraknya cukup jauh dari tempat mereka, sehingga ia tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Tapi ia melihat jelas kalau suaminya sedang di peluk oleh wanita lain.


Zoya langsung kembali ke kamarnya, tadinya ia ingin mencari udara segar, tapi justru ia mendapatkan hal yang diluar dugaan.


"Dewa aku .." Tara masih ingin berbicara namun Dewa langsung mengangkat tangannya.


"Cukup! Jangan katakan apapun lagi padaku. Selama ini aku sudah sabar dengan apa yang kau lakukan. Jangan karena aku diam kau berpikir akan dengan mudah masuk kedalam kehidupanku. Kau salah besar Tara! Dengarkan aku baik-baik. Aku sangat mencintai Zoya dan hanya mencintai istriku saja. Dan aku tegaskan padamu, aku sangat tidak suka ada yang mengusik keluargaku, terutama istriku!" kata Dewa dengan tatapan tajam yang menusuk.


"Satu lagi, kau harus ingat kalau ada yang berani menganggu keluargaku. Aku pastikan, aku yang akan menghukumnya dengan tanganku sendiri" sambung Dewa kali ini sangat tegas diiringi ekspresi dinginnya yang kental.


Jantung Tara rasanya seperti ditusuk-tusuk saat Dewa mengatakan hal itu dengan gamblangnya. Apakah memang benar tak ada sedikitpun tempat untuk dirinya? Bahkan hanya untuk sekedar kenangan mereka, apakah Dewa tak bisa memberikannya?


****


Dewa masuk ke kamarnya dengan menggunakan kunci cadangan. Raut wajahnya masih tampak sangat dingin sekali. Ia melihat istrinya yang tidur meringkuk tanpa menggunakan selimut. Dewa menghela nafasnya, istrinya ini memang sering kali melupakan hal itu, bagaimana kalau dirinya sakit.

__ADS_1


Setelah melepas jaketnya, Dewa langsung merebahkan dirinya disamping Zoya. Ia memeluk wanita itu dengan lembut dari belakang, Dewa juga tak henti menciumi rambut istrinya berulang kali hingga membuat Zoya membuka matanya.


"Dewa?" ucapnya tanpa menoleh, ia tak ingin Dewa melihat matanya yang sembab karena baru saja menangis.


"Zoya? Kamu belum tidur?" ucap Dewa sedikit kaget mendengar suara istrinya.


"Aku terbangun karenamu. Kenapa pulang? Rayden bersama siapa?" kata Zoya lagi.


"Aku ingin menemanimu. Rayden baik-baik saja bersama Ayah" kata Dewa mengeratkan pelukannya pada Zoya.


"Benarkah? Kau ingin menemaniku atau karena hal lain?" kata Zoya mengigit bibirnya, entah kenapa dia bisa mengatakan itu.


"Hal lain apa?" Dewa mengerutkan dahinya tak mengerti.


Dewa membalikkan tubuh Zoya dan menatap lekat-lekat wajah istrinya yang masih sangat sembab itu.


"Kamu kenapa? Habis nangis?" ucap Dewa memegang lembut kedua pipi Zoya.


"Aku hanya mencemaskan Rayden" kata Zoya juga terus menatap lekat wajah Dewa. Suaminya ini memang begitu sempurna, jadi tak heran jika Tara masih terus mengejarnya. Tiba-tiba saja, Zoya sangat takut jika Dewa akan meninggalkannya demi Tara.


Memikirkan hal itu, membuat air matanya kembali meleleh.


"Hei, Rayden baik-baik saja. Besok dia sudah bisa pulang. Jangan menangis sayang," kata Dewa mengusap air mata istrinya. Ia sama sekali tak tau kalau Zoya menangis bukan karena hal itu.


Zoya mengangguk singkat, ia mengusap air matanya lalu merentangkan tangannya. "Peluk," ucap Zoya.


Dewa pun segera menurutinya, ia memeluk Zoya lembut dan mencium keningnya. Tak lupa ia juga mengelus punggung Zoya untuk membuat wanita itu nyaman dalam pelukannya.


Happy Reading.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2