
Bayu sedikit meringis saat melihat wajah Dewa yang tak enak dilihat itu. Namun dia juga tidak akan menganggu kalau tidak sangat mendesak.
"Maaf Tuan, Vania ingin berbicara pada Anda," ucap Bayu melirik Vania yang masih menangis sesenggukan.
"Apalagi yang mau kau katakan? Bukankah semuanya sudah jelas?" Dewa berucap malas.
"Tuan, Saya minta maaf untuk hal yang saya lakukan tadi, Saya benar-benar tidak tau kalau Nona tadi adalah istri anda, Saya mohon jangan pecat saya Tuan" Vania mengatupkan kedua tangannya, memohon maaf kepada Dewa agar tak memecat dirinya. Hanya karena ketidaksengajaan, Vania tidak mau jika harus kehilangan pekerjaan yang sangat susah payah ia dapatkan.
"Kau pikir aku akan semudah itu mengubah keputusanku Vania? Kau sudah berbuat hal yang fatal karena hampir saja mencelakai istri dan anakku!" ujar Dewa tak terpengaruh dengan air mata yang di tunjukan Vania.
"Tuan aku mohon" Sekali lagi Vania mengiba kepada Dewa.
"Dewa" Kata Zoya mendekati Dewa yang masih bersitegang dengan Vania itu.
Dewa langsung melirik istrinya, namun tak mengatakan apapun, menunggu apa yang akan disampaikan oleh istrinya.
"Dewa, biarkan saja dia bekerja disini. Lagipula dia hanya melakukan tugasnya, jadi kau tidak perlu berlebihan sampai harus memecatnya" ujar Zoya mencoba membujuk suaminya.
"Berlebihan katamu? Dia hampir saja mencelakai istri dan anakku, jadi sudah sepantasnya dia mendapatkan hukuman itu" ucap Dewa rasanya tak ada kata toleransi jika menyangkut istri dan anaknya.
"Tapi aku tidak apa-apa kan? Biarkan saja dia bekerja atau aku yang akan marah padamu!" Zoya terpaksa harus mengancam suaminya agar mau mengurungkan niatnya, dia memang kesal kepada Vania, tapi jika harus di pecat itu sangat keterlaluan.
"Zoya, kenapa kau berucap seperti itu?" Dewa menatap istrinya kaget.
Vania pun tak percaya jika Zoya akan melakukan hal seperti itu, dia pikir Zoya akan ikut mempengaruhi Dewa untuk memecatnya tapi ternyata dia salah besar. Sebenarnya terbuat dari apa hati istri bosnya ini, pikir Vania.
"Kamu pilih mana? Aku marah sama kamu atau jangan pecat dia?" kata Zoya lagi.
Dewa mengerutkan dahinya kesal, ia menatap istrinya yang memandangnya dengan tatapan mata serius itu. Lebih baik dia tidak memecat Vania daripada harus menghadapi kemarahan istrinya. Dengan berat hati akhirnya dia membiarkan saja Vania bekerja disana.
__ADS_1
"Baiklah, karena istriku yang meminta, kau tidak jadi aku pecat" kata Dewa membuat Vania tersenyum sumringah.
"Kau memang tidak aku pecat, tapi sebagai gantinya, kau akan di mutasi ke pabrik kita yang berada di Bogor" ucapan Dewa selanjutnya itu langsung membuat senyuman Vania pupus sudah.
Di mutasi di Bogor? Bagian pabrik pula? Argh....dia bisa gila kalau hidup disana.
"Tapi Tuan, apakah harus saya di mutasi Tuan?" kata Vania mencoba bernegosiasi dengan Tuannya.
"Pilihan ada di tanganmu, mau di pecat atau mutasi, sudah itu saja. Bay, hari ini kosongkan saja jadwalku, aku akan pulang bersama istriku" ujar Dewa tak memberi kesempatan untuk Vania berbicara lagi, ia langsung mengajak istrinya pulang.
"Baik Tuan, nanti malam anda undangan untuk menghadiri pesta pernikahan anak Tuan Regan" kata Bayu sebelum Dewa pergi.
Dewa hanya mengibaskan tangannya, tak ada niat untuk datang ke pesta semacam itu, tapi ia juga tak enak, lihat saja nanti, pikirnya.
*****
"Brengsek! Dasar wanita sialan! Aku sangat membenci mu" teriak Vania sangat kesal sekali rasanya.
"Vania? Ada apa nak? Kenapa kau harus berteriak-teriak?" seorang wanita paruh baya tampak datang masuk kedalam kamar Vania.
"Ibu! Aku hari ini sangat sial! Aku di mutasi ke Bogor!" ujar Vania mengadu kepada Ibunya.
"Bagaimana bisa? Kau bilang atasanmu memuji pekerjaanmu?" kata Ibu Vania kaget tentunya mendengar anaknya di pecat.
"Itulah! Ini semua gara-gara wanita sialan itu Bu" kata Vania merasa geram karena baginya puncak masalah dalam kariernya adalah Zoya.
"Maksudmu?" tanya Ibu Vania tak mengerti.
"Ya aku tidak sengaja mengusir istri bosku, aku pikir dia hanya tamu biasa, ya jadi begitulah Bu" kata Vania benar-benar malas jika harus membahas hal mengesalkan itu.
__ADS_1
"Hanya karena kau tak sengaja mengusirnya, Bosmu sampai marah? Sepertinya dia sangat mencintai istrinya" ujar Ibu Vania.
"Tidak tau, pokoknya ini salahnya dia" kata Vania menghempaskan tubuhnya ke kasur untuk mengurangi rasa kekesalannya.
"Dia pria yang sempurna" kata Ibu Vania tersenyum tipis.
"Memang, bukanlah aku sudah bilang pada ibu Tuan Dewa itu orangnya bagaimana?" kata Vania memejamkan matanya, membayangkan wajah tampan Dewa yang sangat dikaguminya itu.
"Pria yang seperti itu, sangat pantas untuk di perjuangkan. Dia pasti akan sangat cocok menjadi suamimu"
Ucapan Ibunya itu sontak membuat Vania membuka matanya, ia melirik ibunya yang masih mengulas senyumnya itu.
"Apa ibu pikir Tuan Dewa akan mau dengan aku?" kata Vania tersenyum sinis, sudah bisa menebak apa yang ada di pikiran ibunya.
"Kenapa tidak mau? Kamu cantik, dan ibu sangat yakin kalau pengusaha seperti bosmu itu tidak memiliki wanita lain" kata Ibu Vania.
"Sayangnya Ibu salah besar, Tuan Dewa itu pria yang sangat dingin dan di kenal sangat menyayangi keluarganya. Jadi mustahil jika pria itu memiliki simpanan" kata Vania.
"Vania, Vania, memangnya seberapa kuat seorang pria menahan godaan dari seorang wanita sepertimu. Hanya dengan sedikit perhatian dan belaian, aku yakin kau akan mendapatkannya" kata Ibu Vania dengan senyuman liciknya.
"Tidak, sudah berapa kali aku bilang kepada Ibu? Aku tidak mau menjadi wanita seperti ibu" ujar Vania memang kesal kepada Zoya, tapi jika harus merebut suaminya, ia tak akan mau.
"Lalu apakah kau ingin selalu hidup miskin seperti ini? Sepertinya memang otakmu sangat bo doh Vania. Dulu bahkan kau merelakan tubuh mu di jamah oleh mantan mu yang miskin hanya karena dia mengobral kata cinta. Kenapa sekarang kau tidak mengulanginya lagi? Setidaknya jika kau banyak uang, kau tidak perlu bekerja terlalu keras. Lagipula, aku tidak menyuruhmu merebutnya, cukup menjadi simpanannya saja itu sudah sangat menguntungkan untuk kita" kata Ibu Vania lagi.
Vania tak menyahut, ia hanya melirik ibunya dengan kesal. Apa yang di otak ibunya itu hanya ada uang saja? Vania bahkan sangat bosan mendengar Ibunya yang menyuruhnya menjual diri. Sebenarnya Vania memang bukan wanita yang suci karena sudah merelakan kesuciannya dengan alasan cinta, tapi apakah dia harus semakin menjerumuskan dirinya kedalam lembah yang suram itu?
Happy Reading.
Tbc.
__ADS_1