I'M FINE

I'M FINE
Sabotase Proyek.


__ADS_3

Setelah kepulangannya dari Pulau Bintan beberapa hari yang lalu. Dewa merasa sedikit heran dengan perubahan dalam sikap istrinya. Beberapa kali ia mendapati istrinya itu melamun. Padahal kini semuanya sudah berjalan normal seperti semula.


Rayden sudah membaik dan sudah diizinkan sekolah, dan keadaan Zoya pun sangat baik. Hari-hari terakhir ini malah mungkin akan menjadi hari yang ditunggunya, yaitu menanti kelahiran sang buah hati.


Hal itu juga yang membuat Dewa harus standby dirumah karena takut sewaktu-waktu istrinya akan melahirkan. Namun manusia hanya bisa berencana dan Tuhan yang akan menentukan. Dewa yang tadinya akan menemani istrinya justru mendapatkan telepon mendadak dari anak buahnya yang berada di Jakarta.


Pembangunan mall miliknya disabotase oleh orang hingga memakan banyak korban dalam kejadian itu. Dewa mau tak mau harus datang karena rasa tanggung jawabnya sebagai pemimpin.


"Sayang, tolong siapkan keperluanku, malam ini aku harus ke Jakarta" ucap Dewa dengan tergesa-gesa.


"Ada apa? Kenapa mendadak sekali," kata Zoya kaget tentunya melihat suaminya sangat panik itu.


"Ada yang menyabotase proyek sehingga membuat bangunan itu ada yang runtuh hingga memakan korban. Aku harus kesana," kata Dewa menjelaskannya dengan cepat.


Zoya menutup mulutnya tak percaya, siapa yang sudah melakukan hal ini kepada suaminya. Zoya pun hanya bisa berdoa agar semuanya bisa di atasi dengan baik.


Setelah menyiapkan segala keperluan Dewa, Zoya mengantar suaminya itu sampai di depan rumah. Raut wajahnya tampak terlihat sangat menyedihkan.


Dewa memeluk lama istrinya karena tau jika saat ini Zoya saat ini sangat membutuhkan dirinya, tapi dia bisa apa? Semua ini diluar kendalinya.


"Cepatlah pulang, aku ingin saat melahirkan nanti, kau ada bersamaku" ucap Zoya dalam pelukan suaminya.


"Aku pasti pulang, aku akan menemanimu" kata Dewa mantap.


"Kamu janji kan?" kata Zoya menatap suaminya sendu.


"Aku janji sayang" kata Dewa mantap dan sangat tegas.


Ia menunduk untuk memberikan ciuman perpisahan pada istrinya. Zoya pun segera membalasnya seolah tak puas akan ciuman penuh rasa rindu itu.


"Aku berangkat dulu" ucap Dewa mencium kembali kening Zoya sebelum pergi meninggalkan rumah.

__ADS_1


Zoya masih menunggu sampai mobil suaminya tidak terlihat, barulah ia masuk kedalam rumah. Ia benar-benar sangat berharap apapun masalah yang dihadapi suaminya akan secepatnya selesai.


*****


Dewa sampai di Jakarta setelah malam cukup larut, ia langsung mendatangi rumah sakit dimana tempat para korban. Namun ia malah kaget saat Bayu mengatakan untuk Dewa lebih baik pergi saja darisana.


"Ada apa Bay? Kenapa aku tidak boleh masuk? Aku harus melihat para korban itu," ucap Dewa bingung tentunya, padahal kedatangannya kesana ingin mengucapkan rasa bela sungkawanya dan juga memberikan sedikit bantuan kepada korban yang pastinya sangat membutuhkan hal itu.


"Ken baru saja menelepon, katanya didalam kondisinya sedang kacau. Entah siapa yang memprovokasi keluarga korban itu hingga mereka ingin menuntut mu karena merasa kau tidak bertanggung jawab atas kejadian ini," kata Bayu melaporkan.


"Itu Fitnah, kenapa mereka bisa berpikir seperti itu" kata Dewa mengeraskan wajahnya, tak terima dibilang tidak bertanggung jawab.


"Pasti ada yang sengaja membuat mereka salah paham Dewa. Menurutku ini semua juga ada kaitannya dengan sabotase yang dilakukan pada proyek kita," kata Bayu menganalisa semuanya.


"Kau benar, orang itu sepertinya sengaja ingin menghancurkan namaku. Apa kau sudah menyelidiki semuanya?" kata Dewa menebak siapa musuhnya saat ini, seingatnya ia tak pernah mencari masalah dengan orang lain.


"Ken sudah mengantongi beberapa nama. Mungkin kau bisa menginterogasinya besok" kata Bayu lagi.


"Apa menurutmu ini semua ada kaitannya dengan orang dalam?" kata Dewa dengan aura menggelap, jika memang ada yang mengkhianatinya, ia pastikan orang itu pasti akan habis di tangannya.


"Ada kekuatan besar yang mendorongnya hingga berani mengkhianati ku" ucap Dewa mengepalkan tangannya erat. Ia harus mencari siapa biang kerok di balik kerusuhan ini.


****


Disebuah bangunan rumah yang sangat megah, terlihat digelar sebuah acara arisan yang dihadiri banyak sekali ibu-ibu sosialita. Rumah itu adalah rumah kediaman mertua Tara yang memang sering mengadakan acara arisan seperti itu.


Tara pun segera ikut bergabung bersama ibu mertuanya yang berbincang-bincang hangat dengan teman-temannya.


"Oh iya jeng, ini mantunya jeng ya? Udah lama nggak kelihatan kemana aja?" tanya salah satu teman Ibu mertua Tara yang bernama Farah.


"Aduh jeng Farah, emangnya jeng Farah nggak tau ya kalau menantunya jeng Elsa ini sedang melakukan pengobatan terapi gitu, soalnya kan lama nggak bisa punya anak, betul kan jeng?" ucap salah teman Elsa mertua Tara lagi.

__ADS_1


Hal itu tentu saja membuat Elsa sangat kesal karena setiap saat jika berkumpul, selalu saja membahas menantunya yang tak kunjung hamil. Sedangkan Tara pun juga sangat kesal dengan mulut ibu-ibu yang pedas itu.


"Tante nggak boleh ngomong gitu, aku sama suamiku memang belum punya anak, tapi bukan berarti tidak bisa," cetus Tara dengan nada kesalnya. Ia pun sangat bosan karena semua orang hanya membahas anak, anak dan anak saja.


"Eh, tapi ini udah lama Lo, kenapa belum punya juga? Apa dari kalian ada yang mandul?"


"Anakku tidak mandul" seru Elsa tak terima jika ada yang berpikiran seperti itu.


Karena tak ingin terus diberondong hal tentang momongan, Elsa segera menarik tangan Tara dan membawanya pergi darisana. Sesampainya di kamar, Elsa menghempaskan tangan Tara dengan sangat kasar.


"Aw....Ibu, sakit," ucap Tara memegang tangannya yang nyeri.


"Diam! Kau memang menantu tidak berguna! Gara-gara kau, aku jadi malu sekarang. Sudah berapa kali aku bilang, jangan menunjukkan wajahmu itu sebelum kau bisa hamil!" bentak Elsa begitu marahnya.


"Tapi Ibu....


"Cukup! Aku tidak mau mendengar omong kosongmu lagi! Jika sampai bulan depan kau tidak hamil! Aku pastikan Frans akan menceraikanmu!" kata Elsa kembali mendorong Tara hingga wanita itu terhempas ke kasur.


Wajah Tara tampak begitu emosi, tak terima karena Ibu mertuanya yang dulunya bersikap manis padanya, kini berubah drastis hanya karena dia belum hamil juga.


"Apa yang sudah kau lakukan?" Frans masuk kedalam kamar setelah Ibunya pergi.


"Cih, kau tanyakan saja kepada ibumu itu. Apa yang dipikiran dia itu hanya ada anak" kata Tara.


"Ibuku benar, kita sudah lama menikah, tapi kenapa kau belum hamil juga? Jika dari kita tidak ada masalah, kenapa kau tidak hamil? Aku jadi curiga kau memang tidak ingin hamil" kata Frans mendekati Tara yang mendadak sangat ketakutan.


"Apa yang kau katakan? Kita sudah berusaha, tapi memang aku belum bisa hamil Frans!" kata Tara menjauh saat merasakan aura yang berbeda dari suaminya.


"Kau bohong! Kau pasti masih terus memikirkan kekasihmu itu kan makanya kau tidak ingin hamil anakku? Kau memang wanita tidak tau di untung!"


Entah apa alasan yang membuat Frans yang begitu marah, yang jelas akhir-akhir ini ia sering sekali menuduh Tara yang tidak-tidak. Bahkan Frans tak segan melakukan kekerasan kepada Tara jika sedikit saja wanita itu membuat kesalahan.

__ADS_1


Happy Reading.


Tbc.


__ADS_2