
***
***
Lucas keluar dari mobil mewahnya. Di depan sana sebuah bangunan lumayan tinggi berdiri kokoh. Sebuah perusahaan properti yang terkenal di ibukota. Lucas bergegas masuk ke lobby lalu tanpa persetujuan resepsionist dia langsung masuk ke dalam lift.
Pintu lift terbuka dan Lucas keluar menuju pintu direktur di perusahaan ini. Tanpa mengetuk pintu, Lucas langsung membuka kasar.
Terlihat di sana seorang lelaki dewasa dan perempuan sedang bercengkrama dan sarapan bersama. Lucas tersenyum dingin. Jadi begini kelakuan lelaki itu yang katanya terkenal dengan kebaikannya.
Lelaki itu tersentak menoleh ke pintu. "Sedang apa kamu disini Lucas."
"Hmm.. Aku hanya mengunjungimu kak." Lucas dengan santainya duduk di kursi sebelah lelaki itu.
"Hebat ya, sudah punya istri tapi masih mesra dengan mantan, Dava, eh."
Lelaki itu, Dava menatap tajam Lucas yang menatap remeh dirinya. "Dia kekasihku."
Lucas terkekeh sinis. "Jadi dia selingkuh, begitu."
"Jangan ikut campur Lucas, itu bukan urusan kamu. Cepat pergi dari sini."
Wanita itu yang pasti Elena hanya diam dengan wajah memerah malu. Baru kali ini dia dipermalukan seperti ini. Memangnya kenapa kalau dia kekasih Dava. Apa urusannya dengan lelaki ini.
" Waw,, kak jangan terburu-buru aku hanya ingin melihat kantor seperti apa yang membuat kakak brengsek seperti dirimu menjadi direktur." jawab Lucas tajam.
"Jangan panggil aku kakak ingat, kita bukan saudara." Dava berdiri geram. "Cepat pergi Lucas atau aku akan menyeretmu."
Lucas tertawa terbahak-bahak. "Kamu tidak menganggap aku adikmu kakak. Kenapa ada kakak kejam sekali seperti kamu."
"Hmm, Lagi pula aku tidak mau lama-lama satu ruangan dengan penghianat seperti dirimu." lalu Lucas berdiri berlalu meninggalkan Dava yang mematung.
Tapi sebelum itu Dava berkata. "Kalau begitu kamu pergi dari rumah ku."
Lucas mendengarnya, tangannya mengenal kuat. Ini belum saatnya, Dava.
***
"Loh, Lucas kenapa kenapa sudah pulang. Katanya mau ke kantor."
Anna menatap bingung Lucas yang sudah ada di ruang tengah. Ini masih pagi kalau Lucas sudah pulang dari kantor. Wajah lelaki itu sedikit masam, berbeda dengan tadi pagi wajahnya cerah.
Lucas melirik Anna." Aku sedikit tidak enak badan. Jadi aku pulang."
"kamu sedang apa." Lucas bingung melihat tangan kiri Anna memegang kemoceng dan tangan kanannya memegang lap juga di pangkuan ada semprotan pewangi.
"Eh, aku sedang membereskan rumah. Karena disini tidak ada pembantu jadi terpaksa aku yang turun tangan." jawab Anna terkekeh garing.
Lucas mengangguk pelan. "kalau begitu, aku ke kamar mau tidur sebentar."
__ADS_1
"Mau dibuatkan bubur."
Lucas berhenti dan menoleh. "Tidak perlu. Terimakasih." lalu berlalu meninggalkan Anna.
Anna hanya mengangkat bahu lalu melanjutkan pekerjaan rumahnya yang tertunda. Memang selama Anna tinggal di rumah Dava dia yang membersihkan rumah sendiri. Tidak ada pembantu di rumah yang lumayan besar ini.
Tanpa sepengetahuan Anna Lucas berdiri di tengah tangga menatap Anna yang sedang membersihkan rumah dengan luwes. Walaupun gadis itu duduk di kursi roda tapi ternyata dia bisa melakukannya. Jangan lupa Lucas kalau gadis itu juga pintar memasak.
Dirinya menyayangkan gadis seperti Anna harus menanggung beban berat. Harus lumpuh di usia yang masih muda, menikah dengan suami yang tidak menganggap dirinya. Tapi gadis itu masih bisa tersenyum di depan orang lain, walaupun Lucas tahu kalau hati gadis itu menderita.
"Gadis yang malang dan juga... Bodoh."
***
"Akhirnya, selesai juga."
Anna membersihkan tangannya dengan air dan meletakkan kemoceng beserta lap ke tempatnya. Setengah hari membereskan rumah seorang diri rasanya sangat melelahkan. Anna membuka kulkas lalu mengambil botol air putih dan langsung meneguknya. Sepertinya dia kehausan.
"Ah segarnya." botol itu di simpan kembali lalu menutup pintu kulkas. "Lapar juga. Aku tadi cuma makan satu sandwich."
Tangannya mengusap perut yang berbunyi. Sepertinya cacing-cacing itu tidak sabar ingin di beri makan. Jadi Anna memutuskan untuk membuat cemilan saja. Sepertinya Churros sangat enak untuk mengganjal perutnya.
Setelah semua bahan ada Anna langsung meletakkan panci kecil dengan api sedang. Lalu memasukkan air dan juga margarin. Tangannya terus mengaduk adonan supaya tidak gosong. Tak lupa juga tepung Anna masukan.
Adonan sudah jadi, Anna tambahkan telur ayam lalu di aduk sampai merata. "Sabar cacing. Adonannya belum jadi."
" Yeah,, Churros nya jadi."
Anna menghidangkan Churros di meja makan tak lupa juga cokelat cair. Churros di cocol dengan cokelat cair memang perpaduan yang sangat enak. Tidak terasa Churros yang banyak tadi sekarang sudah hampir habis di makan Anna.
"Semua orang akan heran melihat tubuh kurusmu kalau porsi makanmu sangat banyak."
Kepala Anna menoleh melihat Lucas yang berdiri tak jauh darinya. Kapan lelaki itu datang, kenapa juga Anna tidak menyadarinya. Mata Anna mengikuti Lucas yang sudah duduk di depannya. Wajah lelaki itu sedikit kusut seperti baru bangun tidur.
" Churros. " Lucas mencomot Churros dan di makannya. Mengunyah pelan merasakan rasa Churros.
"Ternyata kamu pintar memasak."
Anna tersenyum kikuk memakan kembali Churros lalu mengangguk. "Aku memang suka memasak. Dulu aku sering memasak dengan ibuku."
Lucas menatap Anna lekat. Perasaannya menjadi aneh ketika melihat wajah gadis itu. Juga semakin aneh ketika gadis itu menangis. Gadis didepannya ini gadis yang kuat.
Merasa di perhatian. Anna menatap pelan Lucas. Dan benar saja lelaki itu sedang menatapnya dengan lekat. Sejenak mata keduanya terkunci. Menatap satu sama lain menyelami mata masing-masing. Ada perasaan aneh yang Anna rasakan. Seperti rasa nyaman ketiak melihat mata indah milik Lucas.
Kesadaran Anna kembali. Wajahnya berpaling lalu menggaruk tengkuknya gugup. "Maaf."
Lucas pun tersadar. "Aku juga minta maaf."
Anna mengangguk. Mengutuk dirinya yang bisa-bisanya merasa nyaman dengan tatapan Lucas. Harusnya dia tidak seperti ini, dia kan sudah bersuami. Ingat Anna kamu sudah punya suami.
__ADS_1
Mengabaikan debaran aneh itu Anna dengan gugup pamit ke dalam kamar." Aku eh, mau ke kamar. Permisi."
Lucas menatap kepergian Anna. Lelaki itu merasa tidak rela melihat Anna pergi. Lalu menggeleng pelan. Jangan sampai dia seperti ini, tujuannya ke sini bukan untuk menikmati debaran aneh di dadanya. Dia harus fokus.
***
"Anna"
"Anna!!!"
Dengan tergesa-gesa Anna segera mendorong kursi rodanya ke ruang tamu. Di sana sudah ada Dava dengan kekasihnya Elena. Anna menatap sensu keduanya.
"Mas sudah pulang."
"Basi! Hei gadis cacat lama banget di teriakin dari tadi." bukan Dava yang menjawab melainkan Elena. Perempuan itu menatap tajam Anna.
"Maaf."
"mulai sekarang Elena akan tinggal di rumah ini. Jadi kamu harus bantu dia Anna. Siapkan semua keperluan Elena. Dan jangan membantah."
Anna menatap Dava terkejut. Elena akan tinggal disini bersamanya. Dan apa katanya tadi, dia harus siapkan keperluan Elena. Jadi Anna dijadikan pelayan Elena oleh Dava.
" Kenapa tinggal disini, mas. "
" Kenapa, kamu keberatan. Silakan kamu angkat kaki dari rumah ini biar aku bersama Elena."
Dada Anna kembali sesak. Rasa sakit kini mulai dirasakan Anna. Matanya memanas melihat perlakuan Dava kepada istrinya sendiri.
"Tapi mas, aku ini istri kamu. Tidak seharusnya kamu membawa wanita lain."
"Hei, gadis cacat jangan mentang-mentang lo itu istri Dava. Lo cuma istri di atas kertasnya Dava. Jadi jangan sombong karena istri sebenarnya itu adalah aku." sentak Elena tajam. Merasa marah mendengar gadis cacat itu mengaku dirinya istri Dava.
"Mas, apa maksud kamu mas."
"sudah jelas Elena akan tinggal disini. Memang kamu itu istri sah aku tapi seperti kata Elena kamu hanya istri di atas kertas."
Elena tertawa geli mencemoooh Anna. "oh, ya kata lo tadi istri Dava. Guue tanya. Apa lo pernah menghabiskan malam dengan Dava. Enggak kan. Karena Dava selalu menghabiskan malam romantis sama gue. Tahu maksudnya kan."
Anna menggeleng pelan. Airmatanya sudah bercucuran. Anna tahu kalau Dava tidak pernah sekalipun menyentuhnya. Dan Anna juga tahu kalau mereka berdua sering menghabiskan malam bersama. Tapi ketika mendengar kata itu langsung dari mereka hati Anna sangat sakit. Menjadi seorang istri Anna merasa tidak di hargai sama sekali.
"Ayo sayang jangan pedulikan gadis cacat itu. Mending kita ke kamar."
Dava dan Elena Meninggalkan Anna. Meninggalkan sakit hati dan juga kecewa kepada Anna. Mereka tidak tahu betapa hancurnya Anna. Kalau Anna bisa dia ingin pergi dari rumah ini. Tapi Anna tidak bisa, disini ada suami Anna.
Tapi Anna tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan. Dia akan tetap tinggal atau pergi meninggalkan Dava.
***
***
__ADS_1