
Mungkin benar kalau ikatan ibu dan anak itu terjalin sangat kuat karena mereka memiliki ikatan sejak bayi dalam kandungan. Seolah tau apa yang dialami ibunya, Dewa kecil yang semula baik-baik saja mendadak demam dan cukup rewel ingin bertemu ibunya.
Padahal biasanya Dewa tidak pernah seperti ini, tapi entah kenapa dia begitu merindukan ibunya yang berjanji akan pulang lusa, tapi sampai seminggu lebih belum kembali.
"Bibi, Ibu kapan pulang?" tanyanya pada Bibi Ratih yang biasa mengasuhnya.
"Kalau pekerjaan Ibu sudah selesai, pasti Ibu pulang" kata Bibi Ratih juga cukup bingung karena Zoya tidak memberi kabar sama sekali.
Zoya memang cukup sering tidak pulang, tapi selalu memberi kabar, tapi kali ini benar-benar aneh.
"Aku kangen Bi, pengen denger suara Ibu, Kak Arga belum bisa hubungin Ibu ya" kata Dewa menunduk dan menangis.
Bibi Ratih yang melihat itu pun iba, dia langsung memeluk Dewa yang sudah ia anggap seperti cucunya sendiri. Ia mengerti apa yang dirasakan Dewa karena sejak kecil, Dewa hanya dekat dengan Ibunya.
"Nanti Kak Arga coba telepon lagi ya, sekarang Dewa istirahat biar cepet sembuh, nanti kalau udah sembuh, kita datang ke tempat kerja ibu, bagaimana?" kata Bibi Ratih.
"Bibi janji mau bawa aku kesana?" kata Dewa mengulurkan jari kelingkingnya yang mungil.
Bibi Ratih tersenyum dan menautkan kelingkingnya juga. "Bibi janji" kata Bibi Ratih langsung membuat Dewa semangat untuk sembuh.
Setelah ia sembuh, Dewa pun tak henti membujuk Bibi Ratih untuk segera menemui Ibunya, ia benar-benar tak sabar ingin cepat bertemu ibunya. Akhirnya Bibi Ratih pun menemui Zoya di hotel tempatnya bekerja, tapi jawaban yang diperoleh justru mengejutkan.
"Ara udah lama nggak masuk" begitu kata teman Zoya.
Bibi Ratih pun bingung karena Zoya tidak berada disana. Dewa kecil juga sangat kecewa karena tidak bisa bertemu ibunya.
"Ibu kemana Bibi, aku pengen ketemu ibu....huwaaaa......" Dewa langsung menangis sangat keras.
"Sssst....Dewa jangan nangis ya, kita bisa mencari ibu lagi nanti" kata Bibi Ratih mencoba menenangkan Dewa yang menangis meraung.
"Aku mau ketemu ibu" Dewa kecil menjerit-jerit di antara isak tangisnya.
Dewa itu jarang menangis, tapi sekalinya menangis akan sangat lama dan cukup susah dibujuk. Bibi Ratih sudah mencoba berbagai cara tapi tangis Dewa semakin menjadi-jadi. Akhirnya daripada membuat keributan, Bibi Ratih langsung membawa Dewa pulang.
Meskipun Dewa masih ingin tetap disana, ia tak ingin memaksa Bibi Ratih karena tak ingin menyusahkan wanita itu. Tapi sebagai gantinya, keesokan harinya, Dewa kembali datang ke tempat kerja Ibunya tanpa sepengetahuan Bibi Ratih.
__ADS_1
Dewa menunggu ibunya disamping pos satpam seperti biasa. Tapi tidak ada tanda-tanda ibunya keluar darisana membuat Dewa menangis.
"Ibu, Dewa kangen Ibu..."
"Kamu ngapain nangis disini? berisik tau, pergi sana!" kata satpam penjaga merasa terganggu dengan tangisan Dewa.
"Nggak mau pergi, Dewa mau ketemu ibu" kata Dewa malah semakin menangis karena takut.
"Eh, bandel ya lu jadi anak, disuruh pergi juga" kata satpam itu kesal, ia menarik tangan Dewa yang kecil dan membawanya dari sana.
Dewa kecil yang ingin bertemu dengan ibunya akhirnya berontak dari cekalan satpam itu. Dia terus menangis dari memanggil ibunya hingga menarik perhatian beberapa orang yang ada disana.
Dewa yang baru saja keluar hotel pun melihat hal itu, ia menekuk wajahnya tampak tak suka dengan sikap kasar satpam itu. Dengan langkah panjang, Dewa menghampiri satpam itu lalu menarik pundaknya dengan keras hingga satpam itu menoleh.
"Lepaskan dia" kata Dewa dengan tatapan tajam menusuk.
"Maaf Tuan, tapi anak itu menganggu disini, saya harus mengusirnya" kata satpam itu kaget dan juga takut secara bersamaan karena melihat Dewa.
"Aku hanya ingin bertemu Ibu" kata Dewa kecil disela isak tangisnya.
"Kau dengar itu? Dia hanya ingin bertemu ibunya, bagaimana orang sepertimu beraninya dengan anak kecil" kata Dewa sedikit mendorong satpam itu lalu berjongkok hingga matanya langsung berhadapan dengan Dewa kecil.
Raut wajah Dewa tampak berubah saat melihat dengan jelas wajah anak didepannya. Apalagi saat melihat bibirnya yang merah, mengingatkannya pada seseorang. Selain itu, kenapa ia terasa sangat familiar dengan wajah ini?
"Siapa namamu?" tanya Dewa.
"Namaku Dewa Om" kata Dewa kecil cukup senang karena pria didepannya ini sudah menolongnya.
"Dewa?" Dewa semakin menekuk wajahnya mendengarnya.
"Iya, Om terimakasih ya sudah menolong Dewa. Om baik" kata Dewa kecil sedikit memberikan senyumnya.
"Ya, kau sedang apa disini?" tanya Dewa penasaran kenapa anak se kecil ini berkeliaran sendirian.
"Aku mau ketemu ibu Om" kata Dewa kecil berubah sendu tatapannya.
__ADS_1
"Ibumu kerja disini?"
"Iya Om, Om kenal nggak sama Ibu aku? Kalau ketemu bilangin suruh pulang ya, Dewa kangen" kata Dewa kecil lagi.
Mendengar itu Dewa terdiam, entah kenapa perasaanya tak enak saat melihat sorot mata penuh kerinduan dari anak ini. Sungguh aneh sekali.
"Om mau kan nyampein salamku ke Ibu?" kata Dewa kecil lagi membuyarkan lamunannya.
"Baiklah, siapa nama ibumu?" tanya Dewa.
"Namanya Ara Om"
Mata Dewa membesar mendengar hal itu, Ara? Bukankah Ara adalah Zoya? Jadi anak ini adalah anaknya Zoya? Pantaslah dia merasa sangat familiar dengan anak ini. Dewa kembali menatap dalam-dalam wajah Dewa kecil, apakah benar anak ini adalah anak Zoya?
Kenapa sekarang Dewa menjadi tak rela kalau Zoya memiliki anak? Anak ini pasti anak dari suaminya kan?
"Dewa! Akhirnya Bibi menemukanmu, Bibi sangat mengkhawatirkan mu" Bibi Ratih tergopoh-gopoh menghampiri Dewa kecil dan langsung memeluknya.
"Dewa nggak apa-apa kan?" kata Bibi Ratih mengecek semua badan Dewa kecil untuk memastikan kalau Dewa baik-baik saja.
"Dewa tidak apa-apa Bibi, tadi ada Om baik yang bantuin Dewa" kata Dewa kecil menatap Dewa.
Bibi Ratih pun langsung melihatnya. "Tuan maaf kalau cucu saya merepotkan anda, terimakasih sudah membantunya" kata Bibi Ratih tersenyum sopan pada Dewa.
"Ya" kata Dewa singkat. Ia masih belum bisa menerima kenyataan kalau Zoya sudah memiliki anak dari pria lain.
"Baiklah, kita permisi dulu ya Tuan" kata Bibi Ratih mengangguk singkat pada Dewa lalu membawa Dewa kecil pergi dari sana.
Dewa kecil tampak masih menatap Dewa hingga ia berjalan menjauh, tapi ia ingat sesuatu dan melepaskan genggaman tangannya dari Bibi Ratih lalu berlari kembali menghampiri Dewa yang masih berdiri di tempatnya.
"Om baik, Om baik namanya siapa? Nanti kalau Ibu udah pulang, Dewa bakal ceritain Om sama Ibu" kata Dewa kecil harus mendongak untuk menatap Dewa yang sangat tinggi.
"Ibumu sudah mengenal Om"
Happy Reading.
__ADS_1
Tbc.