
Satu hari sebelumun acara ulang tahun sekolah. Mei duduk di kursi perpustakan sembari membaca sebuah buku. Hening dapat membuatnya lebih tenang. Mei tidak yakin akan dapat hadir di acara ulang tahun sekolah. Tapi seluruh wali murid diundang.
"Hai Mei." sapa seoarang pria yang tidak asing lagi adalah Taki. Entah sejak kapan pria tersebut duduk berhadapan dengan Mei. Mei hanya melihat Taki sekilas, kemudian ia melanjutkan membacanya.
"oya, apa kamu akan hadir diacara besok?" tanya Taki.
"....."
"pasti kamu akan lebih cantik, seperti saat aku menjengukmu."
"......"
"Mei, aku merasa berbicara pada batu, mohonlah merespon diriku."
"sudah selesai? Saya pergi." ucap Mei sembari meninggalkan Taki sendirian.
Taki menyusul Mei, mengukuti setiap langkah Mei dengan jarak beberapa meter. Mei hanya mengelilingi sekolah, dan ia berhenti tepat dibawah pohon.
"sudah puas mengikuti saya?" tanya Mei dingin.
Taki terkejut, ia tidak menyangka bahwa Mei mengetahui jika dirinya mengikutinya. Mei melanjutkan langkahnya menuju kelasnya, ia tahu bahwa jam pelajaran akan segera dimulai begitu pula dengan Taki.
Mei duduk dibangkunya, Mei manatap dingin dan tajam pada guru yang sedang mengajar. Mei tahu guru tersebut adalah guru pengganti sememtara, ia mengajar pelajaran fisika. Guru fisika yang biasanay sedang absen akibat ia jatuh dari tangga sekolah dan mengalami patah tulang.
"kau, gadis berpita pink, majulah kerjakanlah soal didepan." pinta guru tersebut menujuk Mei.
"jika tidak bisa, saya akan mengurangi nilai kalian semua," lanjutnya dengan nada tegas.
Betapa terkejutnya para murid didalam kelas tersebut mendengar hal tersebut, pasalnya orang yang ditunjunya bukan orang yang ahli dengan hal fisika. gadis tersebut hanya berdiri didepan papan tulis, tidak tahu apa yang harus ia tulis. Toh soal yang ditulisnya adalah soal berstandar kuliah.
__ADS_1
"apa kau tidak pernah belajar, siapa yang bisa membantunya?!" ucap seru guru tersebut.
tidak ada satupun murid yang maju mengerjakan soal tersebut, Mei hanga fokus membaca buku, menghiraukan saja ocehan guru tersebut. sampai akhirnya Brakk! guru tersebut menggebrak meja, mengejutkan semua murid yang melamun.
Pasang mata semua beralih pada salah satu gadis bermbut sepundak tersebut, maju menuju papan tulis. Mei mulai menjawab soal tersebut tanpa ia berpikir sedikitpun, hanya butuh waktu satu meniy untuk menjawab lima puluh tersebut.
Mei meletak spidol ketempat semula. Ia mulai melanglahkan kakinya untuk kembali ke bangkunya. Guru pengganti tersebut takjub dengan gadis itu,
"saya baru pertama kali menemukan murid yang dapat menyelesaikan soal tersebut dengan cepat."
****
Suasana begitu ramai, banyak siswa siswi berlari kemari kesana. Tampak sibuk sekali untuk menyiapkan acara besar hari esok.
"Taki-ku, Taki-kun, Taki-kun." panggil seseorang.
Taki mencari keberadaan seseorang yang memanggilnya, ternyata Daisuke yang memanggilnya dengan membawa selembar kertas. Daisuke menyondorkan kertas tersebut pada Taki. 'penelitian kecil' Taki bingung melihat tulisan besar yang tertera pada kertas tersebut.
Taki menerima selembar kertas tersebut, Ia memasukan selembar kertas tersebut kedalam tasnya. Alunan musik dan ramainya suasana juga sudah mulai mereda. Waktu dua jam sudah berlalu, dan saatnya ia kembali ke rumah.
Taki sekali lagi melihat jam menujukan tujuh malam. Rasa lelah sekarang yang ia rasakan, Taki segera membersihkan dirinya. Kemudian ia turun untuk makan malam bersama dengan Tuan dan NonaYoshida. Rintikan hujan mulai membasahi tanah.
"apakah kau sudah memutuskan ingin memakai setelan jazz yang mana?" tanya Nona Yoshida.
"aku memilih memakai biru navy,"
"besok kamu berangkat bersama kami," ucap Tuan Yoshida.
"oya, bagaimana di sekolah barumu?" tanya Nona Yoshida.
__ADS_1
"baik-baik saja," ucap Taki sembari memotong daging yang ada dipiringnya.
"oya, bukannya adik Yoshida Makoto juga bersekolah disana?"
"iya, tapi beda kelas denganku."
"Padahal Matsuda Makoto dan Matsuda Mei adalah cucu bangsawan yang seharusnya tinggal di Inggris,"
Uhukk!! Uhukkk! Uhukkk Taki terkejut hingga ia tersedak makanannya sendiri, dengan sigap nona Yoshida menyondorkan segelas air pada Taki.
"apa kau tidak mengetahuinya?"
Taki menggelengkan kepalanya, dan menegakkan kembalj badannya.
"bagaimana dengan Matsuda Mei disekolah?"
"sikapnya terlalu dingin dan sangat cuek,"
"benarkah" ucap nona dan tuan Yoshida seraya tawa kecil menghiasinya.
"sudahlah, aku sudah selesai." ucap Taki menaruh piring pada wastafel.
Taki melangkahkan kakinya menuju kamarnya, ia duduk di bangku belajarnya sembari mengeluarkan selembar kertas yang diberikan Daisuke, Daisuke memang ahli jika menyangkut hal misterius. Daisuke pernah bercerita bahwa dirinya ingin menjadi seorang dektetif pada Taki, dan Taki menguji coba dengan menyuruh Daiuske mencari info tentang Matsuda Mei.
" Matsuda Mei, lahir di Inggris pada tanggal 2 april, mempunya dua saudara laki-laki bernama Makoto dan Momoru. Mempunyai IQ diatas rata-rata anak seusianya. Diketahui Mei gadis yang ceria dan ramah, namun semua itu berubah total saat kejadian dua tahun yang menimpa keluarga Matsuda."
Taki berhenti sejenak membacanya, kejadian dua tahun yang lalu yang menimpa keluarga Matsudalah yang ia harus cari. Namun rasa kantuk yang menimpanya tidak bisa ia tahan. Taki menarus selembar kertas kedalam laci meja, dan ia berbaring dikasur hingga tidur terlelap.
__ADS_1