I'M FINE

I'M FINE
Kencan Rakyat Jelata.


__ADS_3

Pasar malam yang di gelar di taman kota itu sangat ramai sekali. Disana banyak sekali orang tua maupun muda yang membaur menjadi satu hingga suasana disana tampak sangat sesak. Zoya sedikit mengerutkan dahinya melihat banyaknya orang itu. Penampilan mereka pun terlihat biasa saja, terlihat sekali bukan sekelas Zoya.


"Kenapa?" tanya Dewa saat melihat perubahan di wajah Zoya.


"Tidak apa-apa, Disini ramai sekali ya" kata Zoya seadanya.


"Kalau kau tidak nyaman kita pulang saja" kata Dewa tau jika tempat seperti ini tidak cocok untuk Zoya yang notabennya orang kaya dari lahir.


"Kenapa malah pulang? Kau bilang ingin mengajakku berkencan, gimana sih" kata Zoya sedikit kesal karena Dewa mengajaknya pulang.


"Ya, tapi ini kencan rakyat jelata, Orang sepertimu...aduh..." Ucapan Dewa menguap begitu saja saat tiba-tiba mencubit lengannya dengan sangat keras.


"Ngejek terus, Udah aku bilang aku nggak apa-apa, terserah kau mau bilang ini kencan rakyat jelata atau apa yang penting intinya kencan. Titik, nggak usah bawel ayo buruan masuk" kata Zoya mengomel, ia tak suka kalau Dewa menyebutnya seperti itu, memangnya dia orang seperti apa?


"Baiklah, Ayo" kata Dewa menggenggam tangan Zoya kembali dan segera mengajaknya masuk kedalam pasar malam.


Zoya tersenyum tipis melihat keramaian pasar malam itu, ia tampak sangat antusias ingin mencoba berbagai permainan dan juga aneka makanan yang berjajar disana.


"Dewa, aku mau itu...." kata Zoya dengan mata berbinar saat melihat gula gula kapas. Rasanya ia ingin sekali memakannya.


Dewa ikut memandang stand makanan itu, tapi ia tak sengaja menatap beberapa orang pria yang menatap Zoya dengan tatapan memangsa. Tentu saja Zoya menjadi pusat perhatian disana karena wajahnya yang tak di ragukan lagi kecantikannya, apalagi pakaian Zoya yang selalu menggunakan hotpants jeans pendek dengan kaos oblong, membuat penampilan wanita itu tampak sangat mencolok.


Wajah Dewa berubah dingin saat melihat ada salah satu orang yang ingin melancarkan aksinya mendekati Zoya, Dewa tau pria itu akan memegang bo kong Zoya karena kejadian seperti itu sudah biasa terjadi disana.


Dewa langsung menyalip pria itu dan menarik pinggang Zoya hingga berada didepannya dan wanita itu jatuh ke pelukannya, Zoya kaget diperlakukan seperti itu oleh Dewa, jantungnya malah berdetak kencang saat berdekatan dengan Dewa seperti ini.


"Jangan berani menyentuh istriku, kalau kau tidak ingin tau rasanya patah tulang" kata Dewa melirik tajam pada orang yang ingin menyentuh Zoya tadi, auranya tampak sangat dingin menakutkan membuat pria itu langsung kabur.


Zoya malah terpesona melihat wajah Dewa yang seperti itu, pria itu tampak semakin tampan sekali.


"Lain kali perhatikan jalanmu, Disini banyak orang jahat" kata Dewa memandang Zoya tajam namun terselip nada perhatian di dalamnya.

__ADS_1


Ditatap seperti itu membuat Zoya terhipnotis menganggukkan kepalanya. Sial sekali, kenapa sekarang Dewa bersikap manis seperti ini membuat Zoya terpesona oleh pria itu.


"Baiklah, ayo kita beli gula kapasnya, kau bilang kau mau itu" kata Dewa menyadarkan Zoya dari keterpanaannya.


"Iya" kata Zoya melepaskan dirinya dan segera berjalan mendahului Dewa untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.


Dewa tersenyum tipis melihat Zoya yang salah tingkah itu, ia segera menyusul Zoya yang kini berdiri di depan stand gula kapas.


"Jangan pergi terlalu cepat, Aku tidak bisa menjagamu nanti" bisik Dewa dengan lembut di telinga Zoya.


Tubuh Zoya mematung, ia melirik Dewa yang kini berdiri tepat di belakangnya, Dewa ini kenapa bisa bersikap seperti ini?


"Ah iya, aku bingung mau pilih yang mana" kata Zoya tak ingin berlarut-larut dengan perasaannya.


"Terserah kau mau yang mana, Semuanya manis" kata Dewa dengan senyumnya yang indah.


"Tentu, ini kan gula makanya manis" kata Zoya.


"Kau benar, tapi ini akan manis karena kau yang memakannya, kalian sama-sama manis" kata Dewa mengedipkan sebelah matanya menggoda.


Dewa tertawa kecil, ia bukan tipe orang yang suka menggombal. Semua yang dikatakannya murni dari hatinya, tapi entah kenapa ia bisa se cair ini jika bersama Zoya, apakah itu artinya dia sudah nyaman dengan wanita itu?


Malam itu Zoya mengajak Dewa mencoba semua permainan, dari lempar gelang, capit boneka, memancing ikan dan banyak mainan lainnya. Tapi ada satu permainan yang ingin sekali Zoya coba namun ia takut untuk menaikinya, yaitu permainan biang lala.


"Kenapa? kau tidak akan jatuh, mainan ini sudah ada pengamannya" kata Dewa menatap Zoya yang tampak ragu itu.


"Aku takut ketinggian" kata Zoya jujur saja.


"Tidak apa-apa, Aku bersamamu, di atas sana pasti sangat indah, Ayo" kata Dewa meyakinkan Zoya, ia menarik tangan wanita itu tapi Zoya menolaknya.


"Aku takut" kata Zoya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Semua akan baik-baik saja, percaya padaku" kata Dewa mengeratkan genggamannya pada tangan Zoya.


Zoya masih sedikit ragu, tapi dia juga ingin sekali tau rasanya menaiki wahana itu. Tapi melihat sorot mata Dewa yang serius itu membuat Zoya memberanikan dirinya.


Zoya menutup matanya saat permainan biang lala itu di nyalakan, perasannya masih campur aduk tak karuan, ia benar-benar takut ketinggian.


"Buka matamu, pemandangannya sangat indah, apa kau tidak ingin melihatnya" bisik Dewa memegang lembut tangan Zoya.


"Aku takut" kata Zoya masih dengan sikapnya.


"Jangan takut, aku bersamamu" kata Dewa lagi.


Mendengar suara Dewa yang sangat meyakinkan itu membuat Zoya perlahan membuka matanya, dan matanya seketika terkejut saat melihat pemandangan dari atas.


"Indah sekali bukan?" kata Dewa tersenyum.


"Iya, ini sangat bagus Dewa" kata Zoya takjub dengan pemandangan itu, lampu-lampu tampak menyala cerah dari atas, ia juga bisa melihat pemandangan kota Bandung yang indah pada saat malam hari ini.


"Terimakasih" kata Zoya memandang Dewa sendu. Ia tak pernah merasa se bahagia ini selama hidupnya, tapi hari ini hatinya benar-benar bahagia karena merasakan kesenangan sederhana tapi memiliki makna yang indah dalam hidupnya.


"Untuk apa?" kata Dewa.


"Untuk semua ini, Kau tau Dewa, hari ini adalah hari yang paling indah dalam hidupku, aku senang namun juga takut" kata Zoya.


"Takut kenapa?" Dewa menatap Zoya tak mengerti.


"Aku takut kalau kebahagiaan ini hanya sesaat" kata Zoya menghela nafas sejenak.


"Kenapa kau berkata seperti itu?"


"Ya, aku tidak pernah merasa sebahagia ini sebelumya. Meskipun dulu aku memiliki banyak uang, aku selalu kesepian. Semua orang tak pernah ada yang mau berteman denganku karena aku hanya anak pembawa sial"

__ADS_1


Happy Reading.


Tbc.


__ADS_2