I'M FINE

I'M FINE
Episode 6


__ADS_3

Malam semakin larut. Jam sudah menunjukan pukul 12:00 malam. Langit malam yang kelam terasa gelap dan suram. Kemana perginya bulan dan bintang?  Tidak ada sedikitpun tanda-tanda kemunculannya. Mungkinkah mereka telah bosan?  hingga enggan hanya untuk memberi sedikit cahaya dikehidupan. Sepi, sunyi, senyap.  sampai-sampai jangkrik yang biasanya saling bersahutan kini tak lagi terdengar suaranya. Apa mungkin mereka juga lelah?


 


Lelah?  Tentu saja!  Setiap makhluk hidup pasti pernah merasa lelah letih dan lesu.


 


Jika seorang wanita sudah diambang batas kesabaran, lelah karena merasa sakit akan takdir yang slalu mempermainkan. Hanya air mata lah yang mampu berbicara jika bibir sulit untuk berucap.  Tidak mudah bagi setiap wanita untuk mengungkapkan apa yang mereka rasakan kepada seseorang sekalipun itu adalah orang terdekat. Mereka punya cara tersendiri  untuk  mengungkapkan perasaan dan isi hati mereka.


Jika hanya dengan menangis mampu membuat mereka tenang dan nyaman Tidak apa untuk dilakukan. Karena tidak semuanya bisa diceritakan dan tidak semua orang akan bersimpati terhadap apa yang kita rasakan. Wanita butuh waktu untuk sendiri, wanita punya cara tersendiri untuk mengobati luka hati.


 


Drrrrtttt...


 


Drrrrtttt...


 


Nada dering ponsel milik sang gadis berbunyi. Mengalunkan lagu, I Love You 3000 - milik Stephani Poetri.


Namun, gadis itu tak  menghiraukan sama sekali. Sudah belasan panggilan tak terjawab sampai kini gadis itu tak perduli. Dia masih larut dalam kesedihan akan nasib hidupnya dimasa depan nanti.


Dia, Zoya. tengah duduk termenung disudut ruangan kamar bersandarkan dinding putih yang kokoh. Zoya memeluk kedua lututnya dan menenggelamkan kepala diantara kedua kakinya. Tubuhnya bergetar, pertanda ia sedang menangis. Tak henti-hentinya air mata terus menetes membasahi pipi  gembulnya yang mulai membengkak.


 


Drrrrrtttt...


 


Drrrrrtttt...


 


Panggilan masuk Untuk yang kesekian kalinya. Zoya menghela napas lelah. Lalu ia berdiri melangkahkan kakinya mendekati nakas untuk mengambil benda pipih berbentuk persegi itu dan melihat nama siapa yang tertera dilayar ponselnya. Sebelum ia menjawab panggilan itu ia terlebih dahulu mengahapus sisa air matanya. Kemudian ia menggeser tombol berwarna hijau sambil mendaratkan bokongnya dipinggiran ranjang.


 

__ADS_1


Zoya mencoba untuk tersenyum meski seseorang diseberang sana tak pernah mengetahui maksud dari senyum itu.


 


"Halo!" sapa Zoya kepada seseorang diseberang sana yang ternyata itu adalah kekasihnya Bian.


 


Zoya terkekeh geli tanpa suara mendengar pertanyaan Dari Bian yang menyiratkan kekhawatirannya.


 


"Iya, maaf. Tadi itu lagi makan. Laper soalnya. Nggak bawa handphone Bi" jawab Zoya bohong.


 


"Kamu kenapa? habis nangis ya? " tanya Bian yang semakin khawatir dengan Zoya.


 


"Nggak lah, ngapain nangis. Tadi aku makan sambel nya banyakan jadi kepedesan deh" Zoya berbohong lagi. Ia tak mungkin sanggup menceritakan semua yang baru saja terjadi padanya. Dia tidak ingin menyakiti perasaan Bian. Meski itu artinya salah. Zoya belum siap kehilangan sosok Bian yang selalu ada untuk nya.


 


Zoya akan meceritakan semuanya tapi tidak untuk sekarang.


 


"Makanya kalau makan sambel jangan banyak-banyak. Kamu tuh kalau dibilangin suka ngeyel" ujar Bian yang terdengar seperti menghela napas kasar.


 


"Iya-iya, maaf" Zoya menunduk dan menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. ada rasa nyeri didada Zoya saat mengatakan kata 'maaf'. Setetes air mata mengalir jatuh tanpa permisi ia tak sanggup untuk berbohong, apalagi jika harus menghianati.  Tapi Zoya bisa apa?


Semua, karena takdir yang tidak berpihak padanya.


 


"Pasti tuh bibir merah banget, sangking pedesnya. Jadi pengen nyium" terdengar suara kekehan Bian yang mulai menggoda.


"Ih, apaan sih Bian. Jangan godain mulu. Kalo mau cium sana cium aja tembok tuh enak!" hati Zoya sedikit menghangat setelah mendengar godaan yang dilontarkan oleh Bian. Bukan hanya hatinya yang menghangat tapi kini pipi gembulnya  juga ikut merona.

__ADS_1


Terdengar suara gelak tawa Bian diseberang sana "masa aku disuruh cium tembok. Tembok kan keras sayang" Bian menekankan kata 'sayang' sebelum melanjutkan ucapannya.


"Aku maunya cium bibir kamu yang manis itu, pasti rasanya bikin nagih." dikamarnya Bian guling-gulingan dikasur merasa lucu dengan ucapannya sendiri. Ia membayangkan jika itu terjadi pasti sangat enak rasanya. Pasalnya selama ini Bian dan Zoya tidak pernah melakukan sesuatu yang jauh. Hanya sekedar mencium kening dan mengecup pipi tidak lebih.


"Udah ah.  Kamu mah suka nggak bener ngomongnya! Aku marah nih" Zoya pura-pura merajuk hanya untuk menghentikan ucapan konyol Bian. yang pasti semakin membuat pipi gembulnya memerah seperti kepiting rebus. Untung saja Bian tidak bersamanya, jika Bian bersamanya dan tahu pipi gembulnya merona Bian pasti akan terus menggodanya.


"Eh, tapi beneran loh. Enak tahu!  Kapan-kapan kita coba yuk." ajak Bian yang malah semakin gencar untuk menggoda Zoya.


"Kok kamu tahu kalau itu enak? Kamu udah pernah ciuman sama mantan kamu ya!" tanya Zoya dengan tidak santainya yang terkesan membentak. Zoya membayangkan jika itu pernah terjadi sungguh betapa sakit hatinya.


"Eh, ya nggak dong. Itu kata temen aku, katanya sih enak bikin nagih. Gak mungkinlah, aku aja belum pernah ciuman bibir apalagi sama mantan!  Pernahnya sama kamu doang itu aja dikening sama pipi. Makanya aku mau belajar ciuman sama kamu kapan-kapan biar nggak penasaran." jelas Bian panjang lebar sambil menaik-turunkan alisnya yang ujung-ujungnya malah meminta.


"Ish... Kamu kok jadi makin mesum gini sih!"


"ya wajarlah sayang, Namanya juga cowok. Kalau nggak mesum mana mungkin bisa punya dedek-dedek gemes" Jawab Bian yang sambil menahan tawanya.


"Tahu ah, gelap.  Aku mau bobok!  By." Zoya yang kesal akan mengakhiri panggilannya tertahan oleh ucapan Bian.


"Eh, tunggu dulu jangan main matiin aja"


"Kamu sih ngomongnya nyebelin!" Zoya mengerucutkan bibir mungilnya.


"Iya-iya, maaf deh. Ya udah good night honey. Jangan lupa mimpiin babang Bian ganteng ya" kekehnya.


"Iya. Good night too" setelah mengucapkan salam Zoya menggeser tombol merah untuk mengakhiri panggilannya.


 


Semakin larut, suasana semakin sunyi. Zoya merebahkan tubuhnya diranjang memandangi langit-langit kamar yang terasa abu-abu.


Ia teringat kembali dengan ucapan Papa dan Mama nya yang membuat Zoya semakin sakit.


Aldric dan istrinya Anita mengatakan jika Zoya tidak ingin kedua orang tuanya masuk penjara. Maka harus membayar ganti rugi uang yang sudah keluarga Wijaya keluarkan sebanyak seratus juta. Tentu saja aldric tidak mampu membayar uang sebanyak itu dari hasil kerja jualan alat-alat di toko bangunannya yang tidak seberapa. Lalu keluarga Wijaya memberi pilihan lain jika Aldric tidak mampu membayar ganti rugi maka Aldric harus menikahkan salah satu dari ketiga putrinya dengan anak sulung Wijaya. Dan Aldric lebih memilih mengorbankan masa depan putrinya dan itu Zoya putri kedua Aldric yang masih berusia 14 tahun. Zoya merasa ini sungguh tidak adil untuknya. Mengapa harus dia yang berkorban? Kenapa  bukan kakaknya saja? Selalu saja begini. Dia yang harus mengalah mengalah dan terus mengalah. Dia lelah dengan semua sikap Aldric dan Anita yang selalu membedakan.


Tapi, ia harus apa?  Zoya sendiri tidak berani membantah ataupun melawan orang tuanya. Ia sadar jika melawan oarang tua adalah dosa. Jika berdiam diri ia akan merasakan sakit.


Keluarga Wijaya memberi Zoya dua pilihan yang tentunya itu sangat sulit. Zoya pasrah dengan jalan hidupnya yang penuh lika-liku dia percayakan semuanya kepada yang memberi hidup. Semua... Akan baik-baik saja kan?


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2