I'M FINE

I'M FINE
Kegilaan Bryan.


__ADS_3

Dewa kembali ke rumahnya dengan perasaan tak tenang, ia sudah mengerahkan anak buahnya namun belum menemukan titik terang. Dewa ingin sekali menghancurkan apa saja yang dilihatnya tapi niatnya di urungkan saat melihat sosok Rayden yang menyambut kedatangannya.


"Ayah! Ayah sudah pulang, ibu mana?" kata Rayden mengambil tangan Dewa dan diciumnya.


Perasaan Dewa kembali nyeri saat putranya menanyakan ibunya, ia duduk berjongkok mensejajarkan wajahnya dengan Rayden.


"Ibu masih ada urusan, Rayden masuk dulu ya, main sama bibi" kata Dewa.


Rayden menatap Ayahnya sebentar lalu mengangguk singkat dan berlari kembali masuk kedalam rumah.


"Dewa, ada apa sebenarnya?" tanya Anderson tau jika ada yang tidak beres.


"Zoya diculik Ayah, aku sedang melacaknya tapi sampai saat ini belum menemukan hasil" kata Dewa sangat marah namun juga frustasi.


"Zoya diculik?" kata Anderson kaget.


"Iya Ayah, aku bingung harus mencarinya kemana lagi?" kata Dewa menjambak rambutnya.


"Kamu harus tenang, kita pasti bisa menemukan Zoya" kata Anderson.


"Aku juga berharap seperti itu" kata Dewa mengusap wajahnya kasar, semakin lama Zoya bersama Bryan semakin tak tenang pula perasaannya. Dewa sangat takut jika pria itu akan melukai Zoya.


"Dewa! Anak buah kita baru saja melaporkan lokasi Zoya" Bayu tergopoh-gopoh menemui Dewa setelah mendapatkan kabar dari anak buahnya.


"Dimana?" kata Dewa langsung.


"Anak buah kita menemukan ponsel Zoya dibuang di jalanan, dan setelah mereka mengecek semua CCTV di sepanjang jalan itu, mereka menemukan mobil Bryan. Tapi....."


"Tapi apa?" kata Dewa mendesak.


"Tapi Bryan ternyata orang yang sangat licik, dia sempat bertukar mobil dengan orang lain. Untung saja anak buah kita tidak terkecoh, saat ini mereka sedang mengikuti mobilnya" kata Bayu lagi.


"Kita harus kesana sekarang, dimana lokasi itu?" kata Dewa segera mengeluarkan pistolnya, jika memang perlu, dia sendiri yang akan menghabisi Bryan.

__ADS_1


"Mereka sedang berada di Pelabuhan" kata Bayu.


"Pelabuhan? Sial! Kita harus segera kesana Bay" kata Dewa tak akan membiarkan Bryan sampai membawa Zoya pergi jauh.


"Tunggu dulu Dewa" kata Anderson mencegah anaknya yang terburu-buru itu.


"Apalagi Ayah? aku harus segera menyelamatkan Zoya" kata Dewa tak sabar.


"Ya tapi kau jangan gegabah, saat ini Zoya berada ditangannya, jika melihat kau bertindak sedikit saja, bisa jadi Bryan akan melukai Zoya. Ayah yakin kenapa dia memilih membawa Zoya menaiki kapal, dengan begitu dia akan bisa melihat siapa musuh yang mendekat karena di tengah lautan pun dia bebas melakukan apa saja" kata Anderson sudah bisa membaca semua situasinya.


"Lalu apa yang harus aku lakukan Ayah?" kata Dewa mengepalkan tangannya erat, mencoba melampiaskan sakit batinnya kepada fisiknya.


"Kita harus menunggu" kata Anderson.


"Menunggu? Aku bisa gila kalau harus menunggu lagi, kita langsung saja bawa pasukan khusus untuk menyerang bedebah sialan itu" kata Dewa bisa gila jika harus diam menunggu tanpa kejelasan.


"Dewa! Menyerang saat ini pasti hasilnya percuma. Kita harus merencanakan ini matang-matang. Percaya pada Ayah, kita pasti bisa menyelamatkan Zoya. Tapi tidak sekarang, tunggu sampai nanti malam" kata Anderson menatap anaknya tajam.


Dewa terdiam, ia mengerti arti tatapan itu, ia kemudian menarik nafasnya perlahan, Ayahnya benar, dia tidak boleh gegabah dengan mengandalkan emosinya.


*****


Bryan menggendong Zoya yang masih meringkuk tak sadarkan diri, kapal yang mengantarnya sudah cukup jauh membawanya pergi. Kini mungkin dia sudah sampai di tengah lautan. Matahari juga tampak sudah ingin pergi meninggalkan warna senja yang indah.


Bryan lalu membaringkan tubuh Zoya ke kasur dengan gerakan sangat hati-hati. Ia menatap lekat-lekat wajah cantik Zoya yang kini berbaring tak berdaya itu. Tatapan Bryan berubah penuh gairah, ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi Zoya dengan lembut.


"Kau memang sangat cantik sekali Zoya" bisik Bryan mendesis pelan, hasratnya langsung keluar saat tubuhnya menyentuh Zoya.


Bryan tersenyum licik, dengan cepat ia membuka jasnya lalu melemparkannya sembarangan. Ia langsung menindih tubuh Zoya, nafasnya kian memburu saat tubuhnya kembali bersentuhan, tanpa membuang waktunya, Bryan langsung membenamkan bibirnya ke bibir Zoya, tangannya pun bergerak liar menggerayangi tubuh Zoya yang sedang pingsan.


Merasakan bagaimana manis dan kenyalnya bibir Zoya membuat Bryan hampir gila, ia menurunkan ciumannya ke leher jenjang Zoya dengan menciuminya dengan ganas.


Zoya mengerutkan dahinya, ia merasakan ada yang menyentuh dirinya, otaknya langsung bekerja mengirimkan sinyal bahaya. Zoya membuka matanya perlahan dan kaget saat Bryan berada di atas tubuhnya.

__ADS_1


"Brengsek! Pergi kau..." kata Zoya mendorong kepala Bryan yang menciumi lehernya. Zoya sedikit lega karena pakaiannya masih utuh.


"Kau sudah bangun sayang? Nikmati saja" kata Bryan menyeringai dan kembali melanjutkan kegiatannya.


"Argh....aku tidak mau! Pergi!" kata Zoya mendorong tubuh Bryan lebih kuat dari sebelumya hingga ia terlepas.


Zoya menggunakan kesempatan itu untuk kabur tapi Bryan sudah lebih dulu menarik rambutnya.


"Jangan coba-coba lari dariku Zoya" kata Bryan kembali marah dan menarik wanita itu hingga jatuh di kasur.


"Aku tidak mau! Lebih baik aku mati daripada di sentuh pria sepertimu" kata Zoya terus berontak.


Sekali lagi Bryan menampar pipi Zoya lebih keras dari sebelumnya hingga hidungnya berdarah. Kepala Zoya kembali pusing, namun dia masih tetap sadar.


"Jangan menguji kesabaran ku" bentak Bryan kembali menarik rambut Zoya lalu mencium bibirnya lebih ga nas dari sebelumnya.


Harga dirinya terusik karena istrinya sendiri terus menolak dirinya. Bryan tak terima karena tidak ada satu wanita pun yang menolak dirinya, tapi ia justru di tolak oleh istrinya sendiri.


Air mata Zoya langsung lolos begitu saja, ciuman itu sangat kasar hingga membuat ia sangat kesakitan, apalagi rambutnya terus dijambak oleh Bryan. Zoya ingin melawan tapi tenaganya kalah kuat. Ya tuhan, siapapun tolong selamatkan dirinya dari monster gila ini.


Bryan benar-benar seperti orang gila, terus mencium Zoya dengan beringas, ia tak segan merobek baju Zoya hingga bagian atasnya terbuka. Bryan menatap pundak halus Zoya dengan tatapan penuh gairahnya, ia baru saja ingin membenamkan bibirnya disana tapi tiba-tiba pintu kamar di ketuk.


Bryan tak menggubrisnya, tapi ketukan itu kembali terdengar membuat Bryan begitu kesal, dengan berat hati ia akhirnya melepaskan Zoya yang langsung meringkuk dan memeluk tubuhnya.


"Ada apa?" kata Bryan tak ada ramah-ramahnya ketika membuka pintu kamar.


"Maaf menganggu waktu anda Tuan Bryan, tapi Tuan Davies memanggil anda, beliau sudah menunggu anda bersama Tuan Zachary" kata Pengawal.


Zoya menutup mulutnya tak percaya jika Ayah dan Kakaknya ternyata ikut andil dalam penculikan ini. Kenapa mereka begitu kejam. Hati Zoya rasanya sangat hancur sekali, kenapa harus keluarganya sendiri? apakah memang tak ada sedikit pun rasa sayang untuk dirinya di hati mereka?


Bryan berdecak kesal, dia gagal lagi untuk meniduri Zoya. Ia kembali mendatangi Zoya dan menatap wanita itu.


"Menangis lah sepuas mu, kau tidak akan bisa lolos dari sini"

__ADS_1


Happy Reading.


Tbc.


__ADS_2