I'M FINE

I'M FINE
Kau Ingin Berperang? Ayo Berperang.


__ADS_3

Dewa membiarkan saja saat polisi dan kedua pengacau itu masuk kedalam rumahnya untuk memeriksa keberadaan Zoya. Tapi tentu saja hasilnya nihil karena Dewa sudah menyuruh Bayu untuk mengamankan kedua orang terpenting dalam hidupnya itu.


"Ada apa ini?" Anderson menemui Dewa yang berada diruang tengah bersama Bryan dan juga Davies.


"Bukan hal penting Ayah, kedua orang ini hanya membuat kekacauan, sebentar lagi mereka juga akan pergi" kata Dewa tenang.


Davies melirik Dewa sangat tajam, ia sebenarnya cukup kaget saat mengetahui jika pria miskin yang dihinanya dulu ternyata anak dari seorang pengusaha yang sangat dia kenal. Tapi meskipun begitu, tak akan merubah apapun dalam dirinya, dia tetap tak akan membiarkan pria itu dan Zoya bersatu.


"Mohon maaf Tuan Bryan, kami sudah menggeledah seluruh ruangan disini dan kami tidak menemukan istri anda" kata ketua polisi datang setelah menyelesaikan tugasnya.


"Itu tidak mungkin! Coba cari yang benar, aku yakin kalau pria ini sudah menyembunyikan istriku" kata Bryan tak terima jika akan kembali dengan tangan kosong.


"Kami sudah memeriksa seluruh ruangan dan tidak ada tanda-tanda keberadaan istri anda. Dengan ini kami menyatakan kalau tuduhan anda tidak terbukti Tuan Bryan" kata kepala polisi tegas.


"Omong kosong! Dimana kau menyembunyikan istriku" kata Bryan begitu geram ia langsung menarik kerah baju Dewa.


"Apa kau tidak mendengar apa kata polisi, istrimu tidak ada disini" kata Dewa tak terpengaruh oleh sikap Bryan.


"Brengsek! Dasar licik" kata Bryan siap menghantam wajah Dewa tapi Davies segera menahannya.


"Biarkan aku memberi pelajaran pada pria ini Om" kata Bryan ingin kembali menerjang Dewa.


"Kita pergi sekarang" kata Davies merasa tak akan bisa mendapatkan Zoya jika dengan cara seperti ini, Dewa terlalu licik dan mudah membaca apa yang akan terjadi.


"Silahkan, terima kasih sudah mengunjungi ku se pagi ini, apa aku perlu memberikan kalian minum dulu?" kata Dewa dengan wajah angkuhnya yang menyebalkan.


Bryan mengepalkan tangannya erat, ingin sekali menghabisi pria ini, tapi dia harus menahan dirinya.


"Saat ini kau masih bisa memasang wajah sombongmu itu, tapi lihat saja nanti jika aku sudah mengambil Zoya dari sisimu, kau pasti akan menangis darah" kata Bryan dengan aura mengancamnya tapi tentu saja tak mempengaruhi Dewa sama sekali.


Dewa masih memasang wajah santainya saat para pengacau itu pergi. Tapi sesaat kemudian, wajahnya berubah mengerikan.

__ADS_1


"Aku yang akan memastikan kau menangis darah jika sampai kau menyentuh sedikit saja wanitaku" batin Dewa dengan sorot mata kejamnya.


"Berhati-hatilah nak, sepertinya mereka tidak akan menyerah sebelum mendapatkan apa yang mereka mau" kata Anderson mengingatkan anaknya.


"Pasti Ayah, aku akan menemui Zoya dulu, dimana dia sekarang?" kata Dewa.


"Ya temuilah dia, dia pasti sangat khawatir sekarang, dia ada di ruangan rahasia" kata Anderson.


Dewa mengangguk singkat, ia kemudian berjalan masuk kedalam ruang kerjanya, pandangannya lalu bertumpuk pada sebuah rak buku yang berada disana, Dewa menggeser beberapa buku lalu melihat ada sebuah tombol, ia langsung memencetnya dan rak itu bergeser memperlihatkan lorong yang cukup panjang.


Dewa masuk kedalamnya dan menyusuri lorong itu hingga ia sampai disebuah lift yang membawanya turun ke bawah. Anderson memang sudah membuat ruangan rahasia itu untuk kepentingan pribadinya dulu, dan kini tempat itu ternyata bisa digunakan kembali.


"Zoya" kata Dewa membuka sebuah ruangan lain yang merupakan kamar.


"Dewa! Sebenarnya ada apa? Kenapa kita harus bersembunyi disini" kata Zoya bingung dan juga ketakutan, ia sejak tadi memeluk Rayden.


"Ada sedikit masalah, tapi sekarang semuanya sudah baik-baik saja. Rayden takut nak?" kata Dewa meraih Rayden ke pelukannya.


"Enggak ada, Rayden sudah aman sekarang. Ayo, Ayah akan mengantarmu ke sekolah, kita ke sekolah baru" kata Dewa mencoba mengalihkan perhatian anaknya. Ia sempat melirik Zoya seolah mengatakan akan membicarakan masalah ini nanti saja.


Zoya mengangguk, mereka semua lalu kembali ke rumah utama dan langsung mengatakan Rayden ke sekolah, sebenarnya Dewa tidak ingin mengizinkan Zoya dan Rayden keluar rumah, tapi dia tidak ingin mengecewakan anaknya yang sudah begitu bersemangat, tapi Dewa juga sangat berhati-hati sekali dengan menempatkan banyak pengawal untuk menjaga Rayden disekolah.


"Dewa, kenapa kita harus membawa banyak pengawal seperti ini?" tanya Zoya sedikit risih karena kini ia menjadi pusat perhatian di taman kanak-kanak tempat sekolah Rayden.


"Kalian belum aman, sebenarnya aku tidak bisa membiarkan kalian keluar dari rumah, tapi Rayden juga pasti ingin kembali bersekolah, maka dari itu menempatkan para pengawal untuk menjagamu, aku harap kau mengerti Zoya" kata Dewa memegang lengan Zoya dan menatap wanita itu serius.


"Apa tadi dia yang datang?" kata Zoya menebak kalau Ayahnya pasti yang membuat Dewa menjadi seperti ini.


"Iya, tapi aku pastikan mereka tidak akan berhasil, sekarang masuklah, kasihan Rayden menunggumu, nanti hubungi aku jika sudah selesai, aku akan menjemputmu" kata Dewa memeluk Zoya lalu mencium keningnya.


"Jika kau sibuk tidak usah menjemput tidak apa-apa, aku akan pulang dengan supir" kata Zoya.

__ADS_1


"Tidak, tidak, kau hanya boleh pulang bersamaku, mengerti" kata Dewa sekali lagi mewanti-wanti Zoya.


"Baiklah, kau juga berhati-hatilah" kata Zoya sedikit memberikan senyuman tipisnya, tau jika sebenarnya Dewa yang tidak tega meninggalkannya.


Dewa mencoba membalas senyum itu tapi gagal, ia masih begitu khawatir. Setelah memastikan Zoya masuk kedalam kelasnya dengan aman, Dewa baru pergi darisana untuk melakukan beberapa hal.


"Halo Bay, apa kau sudah menyiapkan semuanya?" kata Dewa menghubungi Bayu.


"Ya sudah, semua orang sudah menunggumu"


"Aku akan segera kesana" kata Dewa mengakhiri panggilan itu.


*****


BRAKKKK


"Apa-apan ini! Kenapa tiba-tiba semua klien membatalkan kerja sama ini! Kita bisa rugi besar" Zachary menggebrak meja kerjanya dengan keras setelah mendapatkan laporan dari asistennya.


"Saya juga tidak tau Tuan, mereka mengatakan alasan yang sama sekali tidak bisa saya bantah, tapi saya rasa ada orang lain di belakang ini semua" kata Asisten Zachary cukup ketakutan saat melihat bosnya marah.


"Sial! Siapa yang berani melakukan ini semua padaku" kata Zachary begitu geram, siap orang yang berani melawannya seperti ini.


"Ada apa Zac?" Davies terlihat bingung saat melihat wajah anaknya yang dikuasai amarah itu.


"Ada yang menghasut klien kita sampai membatalkan kerjasama antar perusahaan, kita rugi besar Ayah, bagaimana cara mengembalikan tuntutan yang diminta mereka" kata Zachary rasanya tidak bisa berbicara pelan.


Davies mengerutkan dahinya, baru kali ini seumur hidupnya ada yang berani mengkhianatinya, siapa orang yang berani melalukan ini semua, orang itu pasti punya nyali yang besar hingga berani terang-terangan melawannya. Tak membutuhkan waktu lama untuk Davies menebak siapa orangnya.


"Anak itu, tidak main-main rupanya, kau ingin berperang? Ayo berperang"


Happy Reading.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2