I'M FINE

I'M FINE
Menemukan Pengkhianat.


__ADS_3

Jakarta.


Dewa berjalan menyusuri sebuah bangunan Apartemen terbaik di kota Jakarta. Di belakangnya sudah ada Bayu dan juga Ken, serta beberapa anak buahnya. Kesabaran Dewa rasanya sudah habis karena pengkhianat itu sudah membuat nama baiknya benar-benar jelek di mata masyarakat.


Setelah pencarian yang memakan waktu cukup lama, Ken akhirnya bisa melacak dimana tikus kotor itu bersembunyi. Namanya John, salah satu Direktur keuangan yang bekerja di kantor cabang Jakarta. Jhon juga salah satu orang penting dalam Perusahaan Dewa, jadi mudah saja dia menyabotase hal ini karena dia sudah hafal seluk beluk Perusahannya.


"Buka Pintunya!" ucap Dewa tak ada ramah-ramahnya sama sekali. Aura dingin dan menyeramkan itu sangat terlihat bahkan hanya dari sorot matanya.


Bayu mengangguk, ia mengetuk pintunya perlahan namun tak ada sahutan apapun. Hingga sampai ketukan ketiga, masih tak ada jawaban juga membuat mereka langsung memutuskan mendobrak pintunya. Masa bodoh dengan CCTV yang berada disana, hal itu bukan hal yang sulit untuk di atasi.


Dewa langsung masuk kedalam setelah pintu terbuka, ia menatap keseluruhan ruangan yang sangat sepi itu.


"Sepertinya dia sudah pergi," kata Bayu menerka.


"Geledah semua tempat!" perintah Dewa tak ingin terkecoh. Ia juga ikut membantu menggeledah tempat itu hingga ia menemukan seorang yang dicarinya itu sedang berada di dapur.


Jhon terlihat sangat ketakutan melihat kedatangan Dewa, ia langsung mengambil gelas yang sudah disiapkannya. Gelas itu berisi sebuah minuman yang sudah ia campur dengan racun. Ia lebih memilih mati daripada berurusan dengan seorang Dewangga Clark. Toh jika dia tidak mati sekarang, maka dia akan mati di tangan Dewa.


"Ternyata kau disini pengkhianat!" ucap Dewa dengan begitu geramnya.


Tubuh Jhon langsung bergetar hanya dengan melihat tatapan mata dari Dewa. Ia ingin cepat-cepat meminum racunnya tapi sialnya Dewa lebih cepat darinya, pria itu menendangnya hingga racun itu tumpah seketika.


"Pengecut! Kau ingin bunuh diri sebelum kau mempertanggung jawabkan semua perbuatan mu!" bentak Dewa menarik kerah baju Jhon.


"Maaf, Maafkan aku Tuan. Ampuni aku.." ucap Jhon sangat ketakutan.


"Lucu, apakah menurutmu seorang pengkhianat sepertimu pantas di maafkan Jhon?" teriak Dewa tepat di depan wajah Jhon.


"Ampun Tuan" Jhon mengatupkan kedua tangannya memohon pengampunan.


"Jangan harap aku akan mengampuni mu! Katakan padaku, apa alasanmu melakukan ini padaku? Apa kau lupa semua bantuan yang sudah aku berikan padamu? Apa kau juga lupa bagaimana wajahmu dulu saat memohon padaku?" ucap Dewa menghempaskan tubuh Jhon dengan kasar ke lantai.


"Amankan dia" perintah Dewa yang langsung disanggupi oleh anak buahnya.

__ADS_1


Jhon langsung diikat di sebuah kursi yang ada disana, disampingnya sudah ada Ken yang siap dengan sebuah pistol ditangannya. Lalu Bayu yang berdiri menjulang di depannya.


Dewa memilih duduk diam menyaksikan apa yang akan dilakukan oleh anak buahnya. Ia tak ingin mengotori tangannya sendiri untuk menghukum tikus tidak berguna itu.


"Katakan apa tujuanmu melakukan ini?" tanya Bayu dengan tatapan tajamnya.


"Jawab atau peluru ini akan meledakkan kepalamu!" bentak Ken menekan pistolnya tepat di pelipis Jhon.


Jhon menelan ludahnya kasar, keringat dingin tampak membasahi wajahnya, ketakutan dan kepanikan itu tampak sangat jelas dimatanya.


"Bunuh saja aku sekarang" kata Jhon lebih baik mati di tangan mereka daripada harus mengatakan apa yang sebenarnya.


"Oh, kau lebih takut bosmu daripada mati di tanganku? Kau tau Jhon, Tuan Dewa paling suka melihat lawannya yang merasakan kesakitan perlahan-lahan, dia tak akan membunuhmu dengan mudah jika kau belum menderita!" kata Bayu sangat geram karena Jhon memilih bungkam.


"Aku lebih baik mati" kata Jhon mantap.


"Kurang ajar!" Bayu semakin geram sekali karena Jhon tak ingin membuka suaranya. Ia langsung melayangkan pukulan telaknya di pipi Jhon hingga langsung membuat pria itu pusing seketika.


"Bunuh saja dia Bay, setelah ini kita akan menjemput seseorang yang masih duduk di bangku SMA. Ehm, Ken...Bukankah kau senang dengan wanita yang memiliki rambut hitam legam, aku rasa dia sangat manis" kata Dewa dengan mengulas senyumannya yang licik.


Jantung Jhon rasanya berdegup sangat kencang mendengar hal itu. Ia menatap Dewa dengan pandangan ngeri, wanita yang dimaksud Dewa adalah putrinya dan Jhon tak akan membiarkan siapapun mengusik keluarganya.


"Tuan Dewa, tolong jangan lakukan apapun kepada putriku, urusanmu hanya denganku, lebih baik hukum saja aku," kata Jhon mengiba kepada Dewa.


"Semuanya tergantung sikapmu Jhon" kata Dewa santai saja, namun tidak dengan tatapan matanya yang mengerikan.


Jhon kembali menelan ludahnya, ia sangat takut jika akan mengaku maka ia dan keluarganya pun dalam bahaya. Tapi diam pun sama saja dalam bahaya, ia seperti buah simalakama yang serba salah.


"Aku akan mengaku Tuan, tapi tolong berikan perlindungan kepada keluargaku, aku akan mengaku semuanya" kata Jhon berharap Dewa mau melembutkan hatinya untuk tidak menganggu keluarganya.


"Kau sudah sangat mengenalku, apakah dalam kamusku ada kata maaf untuk pengkhianat Jhon?" kata Dewa dengan ekspresi datar dan dinginnya.


"Saya tau Tuan, saya berjanji akan pergi sejauh mungkin dari hidup anda" kata Jhon memohon.

__ADS_1


"Jangan banyak bicara! Katakan saja siapa yang sudah menyuruhmu!" Bayu membentak tak sabar hingga membuat Jhon terjingkat kaget.


"Tuan?" Jhon tak menyerah untuk memohon kepada Dewa.


"Aku tidak akan menghancurkan keluargamu asalkan kau bisa membersihkan namaku yang sudah kau rusak! Jika sampai ada sedikit saja berita yang tersisa menyangkut namaku, maka kau pasti habis" kata Dewa melirik Jhon dengan tajam.


"Pasti, saya pasti akan membersihkan nama anda Tuan" kata Jhon bernafas lega mendengarnya.


"Jadi? Siapa orang yang sudah menyuruhmu?" tanya Dewa kini dengan tatapan seriusnya.


"Yang menyuruh saya adalah...."


*****


Dewa keluar Apartemen Jhon dengan wajah penuh amarahnya yang kental. Tangannya mengepal erat dan bersiap membalas dendam kepada orang yang sudah mengusik dirinya. Namun sebelum semuanya itu dilakukan, ia harus pulang dulu ke Bandung. Perasaanya sungguh tak enak sama sekali sejak tadi.


Dewa membuka ponselnya untuk mengabari istrinya, tadinya ia memang sengaja mematikan ponselnya karena ingin fokus menangani masalahnya.


Kenapa banyak sekali panggilan tak terjawab dari Ayahnya? Istrinya juga beberapa kali menelepon membuat Dewa yakin kalau memang ada yang tidak beres. Ia langsung menghubungi istrinya kembali tapi tidak di angkat. Dewa tak menyerah, ia menghubungi Ayahnya yang langsung mengangkat panggilannya.


"Halo Ayah? Ada apa Ayah menghubungiku?"


"Dewa! Cepat pulang! Zoya akan melahirkan!"


Happy Reading.


Tbc.


Like dan komen jangan lupa ya...


Bagi yang kelupaan like-nya hayu di scroll ke atas lagi..


Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2