
Zoya mendongak menatap wajah Dewa yang tampak mengerikan. Sorot mata pria itu tampak begitu gelap dan sangat dingin menatap pria yang mau menampar Zoya tadi.
"Jangan pernah berani menyentuhnya dengan tanganmu yang kotor ini" kata Dewa sangat dingin sekali, ia mencengkram tangan pria itu dengan sangat keras hingga pria itu kesakitan.
"Argh...lu siapa brengsek!" teriak pria itu mencoba melepaskan tangannya, ia menggunakan tangan satunya untuk menyerang Dewa. Tapi Dewa sudah lebih dulu menangkap tangannya lalu memelintirnya ke belakang.
"Aduh....Aduh ...." teriak pria itu tak tahan dengan apa yang dilakukan Dewa.
Dewa sendiri tak perduli pria itu kesakitan atau tidak, dia tidak terima saat tau jika pria ini akan memukul Zoya. Untung saja dia tadi mengikuti Zoya sampai ke rumah, kalau tidak pasti bedebah ini sudah melukai wanitanya.
"Lepasin gua an ji ng, sakit!!" teriak pria itu melirik teman-temannya yang takut saat melihat sorot mata Dewa yang sangat tajam.
"Minta maaf" kata Dewa belum ingin melepaskan pria itu sama sekali.
"Nggak sudi gua! Anak itu udah maling....Argh...." pria itu kembali berteriak saat Dewa menekan tangannya kembali.
"Cepat minta maaf!!!" bentak Dewa tepat di telinga pria itu hingga hampir saja merobek gendang telinga karena suaranya yang keras.
"Iya..iya...gua minta maaf..." teriak Pria itu menurut saja daripada harus terus menahan sakit di tangannya.
Mendengar ucapan pria itu, barulah Dewa melepaskannya dan sedikit mendorongnya agar sampai di dekat Zoya yang memeluk Dewa kecil yang masih menangis meskipun jarang. Dia membiarkan saja pria itu dihajar oleh Dewa karena pria itu memang pantas mendapatkannya.
"Gua mau minta maaf karena udah mukul anak lu.." kata pria itu seraya memegang tangannya yang sangat sakit.
Zoya melirik pria itu tajam, ia melepaskan Dewa kecil sebentar lalu berdiri di depannya. "Semudah itu kau meminta maaf? Kau sudah berani melukai putraku! Jadi kau juga harus merasakan bagaimana sakitnya di pukul orang" kata Zoya sekali lagi memberikan tamparan di pipi pria itu.
Jangan ditanya kekuatannya, sangat keras hingga pria itu pusing seketika. Zoya sangat tidak suka jika ada seseorang yang mengusik anaknya apalagi sampai membuatnya terluka seperti ini.
__ADS_1
"Ayo kita pulang, biar ibu gendong"
Zoya tak perduli dengan orang-orang yang saling berbisik membicarakan tingkahnya itu. Ia langsung menggendong Dewa kecil untuk membawanya pulang. Tapi karena Dewa sekarang tubuhnya sudah cukup besar, Zoya sedikit kesusahan menggendongnya.
"Biar aku saja" kata Dewa langsung menggantikan Zoya untuk menggendong Dewa kecil.
Zoya tersentak, ia lupa kalau sejak tadi Dewa ada disana. Dan sekarang pria itu menggendong anaknya yang tak menolak sama sekali saat Dewa menggendongnya. Mata Zoya membesar, ia lupa kalau Dewa belum mengetahui tentang Dewa kecil. Sekarang apa yang akan dilakukan oleh pria itu.
"Tidak usah, aku saja yang akan menggendongnya" kata Zoya ingin mengambil Dewa kecil tapi Dewa menahannya.
"Tunjukkan dimana rumahmu" kata Dewa sedikit memberikan tatapan tajamnya. Ia melirik anak Zoya yang tenang-tenang saja dalam gendongannya.
Zoya mengigit bibirnya sejenak, dia benar-benar takut kalau Dewa akan macam-macam dengan anak mereka, tapi ia tak mengatakan apapun.
"Disana" kata Zoya menunjuk rumah kontrakannya yang tinggal beberapa meter darisana.
Zoya yang berjalan dibelakangnya hanya bisa menatap pemandangan itu nanar, jujur saja hatinya menghangat saat melihat Dewa bisa di gendong oleh Ayahnya untuk pertama kalinya. Padahal Dewa itu jarang bisa dekat dengan orang lain, bahkan dengan papinya, Dewa jarang mau jika di gendong. Tapi kenapa sekarang Dewa tenang-tenang saja dalam gendongan Dewa, apakah itu yang namanya ikatan batin Ayah dan anak.
"Om baik, om baik mau kerumahku ya?" tanya Dewa kecil memandang Dewa penuh rasa ingin tahu.
"Hmm..." Dewa hanya bergumam singkat dan tetap melanjutkan langkahnya sampai tiba di rumah kontrakan Zoya.
"Kita sudah sampai, kau sudah bisa pulang. Dewa, turun dulu sayang" kata Zoya mengulurkan tangannya pada Dewa kecil tapi anaknya itu diam saja dan kembali menatap Dewa.
"Om baik nggak mampir dulu? Aku juga belum bilang makasih sama Om karena Om sudah bawa Ibu pulang, Om tadi juga sudah tolongin Ibu buat melawan orang jahat tadi. Om disini..." Dewa kecil tampak begitu semangat ingin mengajak Dewa mampir ke rumahnya karena dia sudah menyukai Om ini dari awal. Di tambah kejadian tadi membuat Dewa kecil semakin menyukai Dewa.
"Nggak usah! Om-nya sibuk dan mau pulang" kata Zoya langsung menyela sebelum anaknya mengatakan hal-hal lainnya.
__ADS_1
Dewa mengerutkan dahinya karena perkataan Zoya itu, oh jadi wanita ini ingin melihatnya pergi? Baiklah, semakin kau mendorongku menjauh, maka semakin kuat keinginannya untuk mendekat. Lagipula Dewa penasaran dengan kehidupan Zoya, kenapa wanita itu harus tinggal di rumah kontrakan kecil seperti ini? Apa suaminya yang kaya itu bangkrut.
"Om sibuk?" tanya Dewa kecil lagi tak rela jika Om baik ini pergi.
"Iya sayang, Omnya kan mau kerja...
"Om nggak sibuk, Om juga mau mampir ke rumah kamu. Tapi sepertinya ibumu tidak mengizinkan Om ada disini, Apa Om pulang saja?" kata Dewa menyela begitu saja. Ia mengulas senyum liciknya membuat mata Zoya membesar.
"Ibu pasti izinin Om, Iya kan bu? Om baik boleh ya mampir disini? Om harus coba masakan Ibuku, masakan Ibu enak banget loh om" kata Dewa kecil memandang ibunya penuh harap.
"Memangnya Ibumu bisa memasak?" tanya Dewa sedikit kaget. Ia ingat bagaimana malasnya Zoya, jadi rasanya itu mustahil.
"Bisa dong Om, nanti Om coba ya" kata Dewa kecil lagi.
"Baiklah, Om akan mencobanya" kata Dewa menyetujui saja. Dia juga cukup senang mengobrol dengan anak Zoya.
"Yes! Ibu ayo kita masuk, Om mau coba masakan Ibu" kata Dewa kecil berteriak kesenangan. Wajah kecilnya tampak tersenyum manis.
Dewa pun ikut tersenyum manis dan menatap Zoya yang hanya membeku melihat pemandangan itu. Ia melihat wajah Dewa dan Dewa kecil bergantian, mereka sangat mirip sekali seperti pinang dibelah dua.
"Ibu buka pintunya" kata Dewa kecil menyadarkan Zoya dari lamunannya.
"Ah, iya" kata Zoya langsung membuka pintunya dan membiarkan Ayah dan anak itu masuk kedalam rumah.
Setelah masuk kedalam, Dewa menurunkan Dewa kecil dari gendongannya. Ia menatap keseluruhan rumah itu dengan perasaan tak enak. Ia kemudian menatap foto-foto Zoya bersama anaknya, tapi kenapa mereka selalu berdua, kemana suaminya?
Happy Reading.
__ADS_1
Tbc.