
"Cucu Kakek pintar, namanya siapa?" kata Anderson mengelus rambut Rayden, ia tersenyum saat melihat wajah Rayden yang persis sekali seperti Ayahnya.
"Dewangga Rayden Alexander Kakek" kata Rayden langsung saja.
"Namanya bagus, tapi dia seorang Jhonson, dia harus menyandang nama keluarga kita" kata Anderson lagi.
"Pasti, aku akan segera mengurusnya nanti sekalian mendaftarkan Rayden ke sekolah yang baru" kata Dewa menatap Zoya sekilas.
"Ya, Ayo kita makan malam dulu. Rayden malam ini tidur sama kakek mau?" kata Anderson menggandeng cucunya masuk kedalam ruang makan.
"Boleh" kata Rayden mau-mau saja.
"Nggak mau tidur sama Ayah?" kata Dewa mengerlingkan matanya kepada Zoya.
"Sama Ayah juga mau" kata Rayden lagi.
Dewa tertawa kecil mendengarnya, mereka semua lalu makan malam bersama. Makan malam itu terasa berbeda karena ada celotehan lucu Rayden yang membuat suasana semakin hangat. Anderson pun sudah begitu jatuh cinta dengan cucu pertamanya ini.
"Ehm...Ayah tidak punya anak perempuan, sekarang sudah punya cucu laki-laki, buatkan satu lagi cucu perempuan, Ayah yakin dia akan sangat cantik juga" kata Anderson to the point.
Ucapannya itu hampir saja membuat Dewa tersedak dan salah tingkah, Zoya pun menunduk malu.
"Ayah....kita akan menikah dulu, lagipula Rayden masih kecil" kata Dewa mengusap tengkuknya menutupi salah tingkahnya.
"Ya tidak apa-apa. Kalian mengobrolah dulu, Ayah akan mengajak Rayden bermain sebentar" kata Anderson lagi.
"Rayden, ayo main sama kakek dulu" kata Anderson pada cucunya. Rayden menatap ibunya sebentar seolah meminta persetujuan.
"Ikutlah, tapi ingat kata Ibu harus sopan ya, jangan merepotkan kakek" kata Zoya lagi.
"Tenang saja Zoya, mana mungkin anak semanis ini akan merepotkan ku, Ayo" kata Anderson dengan senyum tipisnya.
"Iya Kakek" kata Rayden mengikuti kakeknya hingga tubuh mereka hilang di tembok ruang tengah.
"Mau kemana?" kata Dewa tiba-tiba sudah begitu dekat dengannya.
"Eh? Aku tidak tau" kata Zoya melirik Dewa sekilas dan berpura-pura menekuri piringnya.
"Ini belum terlalu malam, bagaimana kalau kita jalan-jalan?" kata Dewa.
"Jalan-jalan kemana? Nanti bagaimana kalau Rayden mencariku?" kata Zoya.
"Rayden aman disini, tapi kalau kau keberatan kita jalan-jalan di dekat sini saja" kata Dewa tak ingin memaksa.
"Baiklah" kata Zoya mengangguk setuju.
Dewa tersenyum tipis, ia menggenggam tangan Zoya dan mengajaknya ke taman belakang rumahnya. Ternyata halaman belakangnya sangat luas sekali, mereka menyusuri jalan setapak kecil yang kiri kanannya terdapat bunga dan juga tanaman lainnya.
"Disini indah sekali" kata Zoya kagum begitu melihat keindahan taman itu.
__ADS_1
"Ya, Ayah memang rajin merawatnya karena dulu ibuku juga suka berkebun" kata Dewa.
"Kau pasti sering menghabiskan waktumu disini?" kata Zoya lagi.
"Tidak juga, aku menghabiskan waktuku lima tahun hanya dalam rasa kebencianku" kata Dewa tersenyum kecut.
"Maafkan aku, saat itu posisiku benar-benar sangat sulit" kata Zoya.
"Jangan pernah meminta maaf Zoya, semua yang kau lakukan itu sudah benar. Kalau bukan karenamu aku mungkin sudah mati waktu itu"
"Tapi kau juga mengorbankan dirimu demi menyelamatkanku" kata Zoya menghentikan langkahnya ketika mereka sampai disebuah jembatan kayu yang kecil.
"Semua itu karena aku mencintaimu, bisakah aku minta satu hal padamu?" kata Dewa memandang wajah Zoya yang tertimpa sorot cahaya rembulan.
"Apa itu?" kata Zoya terperangkap dengan tatapan mata Dewa.
"Tolong jangan pernah pergi meninggalkanku lagi untuk alasan apapun" kata Dewa serius.
"Tapi bukankah kau ingin melepaskanku?" kata Zoya mendadak usil.
"Maksudmu?" kata Dewa berubah mendung wajahnya.
"Ya, bukankah kau bilang ingin melepaskanku waktu itu? Aku berarti berhak menentukan hidupku sendiri kan?" kata Zoya semakin membuat Dewa murung.
"Hidupmu sendiri? Hidup kita Zoya, aku akan segera menikahimu, apakah kau tidak mau?" kata Dewa merasa di tolak.
"Akan ku pikirkan nanti" kata Zoya benar-benar suka sekali memainkan emosi Dewa.
"Kalau iya apakah masalah untukmu? Kita sudah tidak punya hubungan apapun kan?" kata Zoya.
"Kau adalah ibu dari anakku, itu hubungan kita sekarang" kata Dewa.
Zoya tersenyum kecut, ternyata Dewa menganggap hubungannya hanya sebatas itu.
"Hanya ibu dari anakmu kan?" kata Zoya tiba-tiba kesal sendiri.
"Apapun itu, aku tetap berhak atas dirimu" kata Dewa seenaknya saja.
"Kenapa bisa begitu? aku juga berhak menentukan pilihan ku sendiri" kata Zoya tak mau kalah.
"Lalu siapa pilihanmu? Aldin?" kata Dewa.
"Aku tidak punya hubungan apapun dengan Aldin" kata Zoya seadanya.
"Lalu apa yang sudah kalian lakukan? Kalian sudah lima tahun bersama" kata Dewa.
"Melakukan apa? Apa kau pikir aku wanita yang mudah melalukan hubungan dengan sembarang pria" kata Zoya melirik Dewa sangat kesal.
"Tapi aku tetap saja cemburu, kau dan dia sudah sangat dekat" kata Dewa jujur saja.
__ADS_1
"Kau cemburu?" kata Zoya tersenyum kecil mendengarnya.
"Aku akan selalu cemburu kepada semua pria yang mendekatimu" kata Dewa menarik pinggang Zoya hingga posisinya sangat dekat.
"Kenapa harus cemburu? Aku dan dia tidak ada hubungan" kata Zoya tersenyum.
"Tapi dia mencintaimu" kata Dewa menatap lekat wajah Zoya.
"Aku tidak"
"Lalu siapa yang kau cintai?" kata Dewa.
"Apakah aku harus mengatakannya?" kata Zoya mengalungkan tangannya ke leher Dewa.
"Tidak perlu, aku sudah tau kok" kata Dewa tak perlu jawaban karena dia yakin kalau Zoya hanya mencintainya.
"Lalu bagaimana denganmu? Lima tahun berpisah denganku, apakah tidak ada wanita lain yang bersamamu?" kata Zoya menatap mata Dewa membuat pria itu gugup.
"Tentu saja ada, tapi kami tidak melakukan apapun, ehm maksudku tidak pernah melakukan apa yang seperti kita lakukan" kata Dewa.
"Apakah itu bisa di percaya?" kata Zoya lagi.
"Tentu, meskipun banyak wanita yang mendekatiku dulu, tapi tak sedikitpun hatiku berpaling darimu Zoya. Aku tidak pernah segila ini mencintai seseorang seperti aku mencintaimu Zoya, untuk itulah aku memintamu kembali kepadaku" kata Dewa menatap Zoya dengan raut wajah serius namun juga memelasnya.
Zoya tersenyum tipis. "Akan aku pikirkan" kata Zoya.
"Kenapa harus dipikirkan lagi? Kau mencintaiku dan aku mencintaimu itu sudah cukup kan. Zoya, tolong jawablah sekarang, jangan memainkan perasaanku" kata Dewa mengeratkan pelukannya di pinggang Zoya hingga mereka semakin dekat. Ia kesal tapi juga menahannya.
"Aku tidak mempermainkan perasaanmu, aku hanya berpikir" kata Zoya seadaanya.
"Lalu apa yang kau pikirkan lagi? Kita akan menikah dan kembali menjadi keluarga yang utuh" kata Dewa.
"Kau pikir menikah itu mudah?"
"Tidak ada yang bilang itu mudah, tapi jika kita bersama, kita bisa menjalaninya bersama itulah yang lebih berarti. Zoya menikahlah denganku, aku sudah menunggumu terlalu lama" kata Dewa benar-benar tak bisa lagi berpisah dengan Zoya.
"Kau ini pemaksa sekali ya" kata Zoya rasanya ingin tersenyum saat melihat wajah Dewa.
"Tentu, jika soal dirimu aku selalu pemaksa, mau ya?" kata Dewa kini memasang wajah melasnya yang imut sekali.
"Baiklah, Ayo menikah" kata Zoya tersenyum lebar, tapi sedetik kemudian ia kaget saat tiba-tiba tubuhnya diangkat oleh Dewa.
"Yes! Aku mencintaimu Zoya" teriak Dewa begitu senang seraya memutar-mutar tubuh Zoya ketas.
Happy Reading.
Tbc.
Mohon dukungan like dan komen ya kakak...
__ADS_1
Makasih..