
Bagi banyak orang, mencintai itu adalah hal yang mudah, namun untuk melupakannya disaat rasa cinta masih menyala, itulah hal yang sangat sulit untuk dilupakan. Aldin memang sudah mengikhlaskan nasib cintanya yang mengenaskan, namun rasa ingin memiliki itu masih ada, dia selalu berpikir jika tidak sekarang mungkin esok atau nanti. Tapi sepertinya hal itu hanya akan menyakiti dirinya sendiri.
Hari ke sepuluh di rumah sakit, dia sudah di izinkan pulang, tidak ada orang yang menemaninya atau menyambut kepulangannya dengan senyum penuh kelegaan. Aldin tersenyum kecut, memangnya apa yang dia harapkan? dia sudah mengkhianati orang yang sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri, kini ia harus terima nasib, dibuang oleh keluarga Anderson ke negara X tanpa sanak keluarga.
"Tuan Aldin, semuanya sudah sehat semuanya ya, obatnya jangan lupa diminum" kata Dokter setelah melakukan pemeriksaan kepada Aldin.
"Terima kasih Dokter" kata Aldin sedikit tersenyum tipis.
"Baik, Tuan Aldin sudah bisa pulang setelah ini" kata Dokter lagi.
Aldin hanya mengangguk singkat, ia segera mengemasi barangnya lalu keluar dari ruang perawatan itu, setelah ini ia akan langsung terbang ke negara X karena sebelumnya Anderson sudah menghubunginya dan sudah menyiapkan semuanya.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam, Aldin sudah tiba di Bandara, dia pun langsung duduk menunggu seraya memandang kartu boarding pass di tangannya dengan perasaan campur aduk.
"Apa mungkin kita tidak bisa bertemu lagi Zoy? Meskipun itu hanya satu menit?" batin Aldin membayangkan wajah Zoya, ia lalu ingat sosok anak kecil yang sudah sangat ia sayangi seperti putranya sendiri. Ia ingat saat pertama kali menggendong Dewa kecil ketika baru saja dilahirkan.
"Papi pasti akan merindukanmu nak" batin Aldin tanpa sadar matanya terasa basah.
Aldin segera mengusapnya, ia lalu mendengar suara pengumuman jika pesawat akan segera take off membuat para penumpang diharap untuk segera melakukan boarding, Aldin menghela nafasnya sejenak sebelum bangkit.
"Papi!" teriakan anak kecil yang begitu keras membuat langkah kaki Aldin berhenti.
Aldin langsung menoleh dan seketika raut wajahnya berubah kaget saat melihat sosok Dewa kecil tengah berlarian ke arahnya, dibelakangnya ada Dewa dan Zoya yang mengikutinya.
"Dewa" kata Aldin langsung menurunkan tubuhnya dan memeluk Dewa kecil ketika anak itu sampai didekatnya. Dewa kecil pun ikut membalasnya.
"Papi, Papi mau kemana?" tanya Dewa kecil penuh rasa ingin tau.
"Papi mau pergi, Dewa yang pintar ya disini" kata Aldin menahan dirinya untuk tidak menangis.
"Pergi kemana? Kenapa Papi harus pergi? Sekarang aku udah punya Ayah, Papi nggak mau kenalan sama Ayah aku?" kata Rayden.
Aldin tersenyum kecut saat mendengar Rayden menyebut Dewa dengan sebutan Ayah, padahal selama ini jika Aldin yang memintanya, Rayden tidak mau, dia memilih menyebutnya Papi.
"Papi mau kerja yang jauh, nanti kalau ada waktu kita bisa bertemu lagi ya, Dewa masih sayang kan sama Papi?" kata Aldin.
__ADS_1
"Sayang, Aku sayang semuanya" kata Rayden lagi.
Aldin tersenyum tipis dan kembali memeluk Rayden untuk terakhir kalinya. Zoya yang melihat pemandangan itu terharu karena bagaimanapun juga Rayden dan Aldin itu memang sudah sangat dekat sejak dulu, Zoya sebenarnya tidak membenci Aldin tapi dia juga menghargai keputusan Dewa.
Sedangkan Dewa yang menatap itu sangat kesal, dia merasa cemburu karena anaknya bisa begitu dekat dengan Aldin.
"Bolehkah aku menemuinya?" kata Zoya menatap Dewa sendu.
"Untuk apa? Kau sudah melihatnya?" kata Dewa semakin kesal.
"Aku ingin berbicara dengan Aldin sebelum dia benar-benar pergi" kata Zoya lagi.
"Membicarakan apa memangnya?" kata Dewa tak merubah ekspresi wajahnya.
"Jika tidak boleh ya sudah" kata Zoya.
"Bukan seperti itu, baiklah kau boleh menemuinya, tapi lepaskan ini" kata Dewa tak kuasa melihat wajah Zoya, ia kemudian melepaskan syal yang di pakai Zoya.
"Eh? Kenapa harus di lepas?" kata Zoya kaget, ia menggunakan syal itu untuk menutupi kissmark yang dibuat Dewa, tapi kenapa malah dilepas.
"Dasar Tuan Posesif" kata Zoya mencibir sebal tingkah Dewa, pria itu benar-benar sangat berubah sekali, padahal dulu Dewa tidak seperti ini.
"Ya memang, apa kau baru tau calon suamimu ini pencemburu? sekarang kau boleh menemuinya" kata Dewa lagi.
Zoya memutar bola matanya malas, ia kemudian menghampiri Aldin dan Rayden yang masih berpelukan. Melihat kedatangan Zoya, Aldin melepaskan pelukannya dan bangkit berdiri.
"Zoya" kata Aldin malu sebenarnya jika harus bertatap muka dengan Zoya.
"Ya, bagaimana kabarmu Al?" kata Zoya masih ramah seperti biasa.
"Aku baik, kau sendiri?" kata Aldin memberanikan diri menatap Zoya, saat itulah ia melihat tanda merah yang ada cukup banyak dilehernya, Aldin tersenyum kecut menahan nyeri di hatinya.
"Aku sangat baik, Dewa menjagaku dan juga Rayden" kata Zoya.
"Maafkan aku" kata Aldin.
__ADS_1
"Aku sudah memaafkan mu Al, aku juga sudah banyak berhutang budi padamu, kau sudah banyak membantuku dan aku tidak bisa membalasnya dengan apapun selain kata terimakasih" kata Zoya tulus dari lubuk hatinya.
"Zoya....aku mencintaimu" kata Aldin menatap Zoya serius.
"Tidak Al, lupakanlah aku, kau bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dariku diluar sana" kata Zoya tersenyum tipis.
"Tapi aku tidak bisa, aku sudah mencobanya" kata Aldin tau jika ini semua salah, tapi dia hanya ingin mengungkapkan isi hatinya yang selama ini terpendam.
"Pasti bisa Al, kau harus belajar berdamai dengan keadaan dan juga perasaanmu, jangan terus yakinkan hatimu kalau kau mencintaiku" kata Zoya.
"Berdamai ya?" kata Aldin merasa hal itu mustahil sekali.
"Ya berdamailah dengan perasaanmu, mungkin setelah itu kau akan sadar kalau ada sosok wanita lain yang mungkin sudah menjadi pemilik hatimu" kata Zoya lagi.
"Ehm...baiklah pesawat ku akan segera berangkat, sebelum aku pergi, aku ingin menyerahkan ini padamu" kata Aldin mengambil sesuatu dari dalam dompetnya lalu menyerahkannya pada Zoya.
Sebuah jepit rambut berwarna merah muda, Zoya langsung mengenalinya dan ia menatap Aldin kaget.
"Jepit rambut ini?" kata Zoya menutup mulutnya tak percaya.
"Dulu ada seorang gadis nakal ceroboh yang tak sengaja menjatuhkannya ketika bermain basket di sekolah" kata Aldin tersenyum kecil.
Zoya menggelengkan kepalanya, ingatannya langsung melayang disaat waktu ia masih SMP, dan dia sangat ingat siapa yang membawa jepit rambut ini karena dulu saat sosok pria yang ingin mengembalikannya tapi tak digubrisnya, apa mungkin orang itu Aldin?
"Jadi orang itu kau?" kata Zoya tak percaya.
"Ya, terimakasih sudah mengingatnya, sekarang aku mengembalikannya kepadamu, tolong jangan ditolak lagi" kata Aldin kembali tersenyum karena ingat masa lalunya.
Memang dari jaman SMP Aldin sudah mencintai sosok Zoya, tapi karena waktu SMA mereka tidak satu sekolahan ditambah waktu kuliah pun dia keluar negeri membuat dia tidak pernah bertemu lagi, tapi begitu bertemu kembali Zoya sudah memiliki pria lain.
Aldin sudah mencoba menekan perasannya dalam-dalam, tapi entah kenapa dia gelap mata saat membantu Zoya dan malah memanfaatkan keadaannya.
"Aku pergi Zoy, semoga kau bahagia bersama Dewa, biarkan aku membawa kenangan ini pergi"
Happy Reading.
__ADS_1
Tbc.